Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Watir #2: Menikmati Nasib Naas

Sebagian manusia memang tidak jauh dari hal-hal yang berbau watir.

Tujuh cerita pendek dengan tema cinta dan kewatiran, melekat dengan sisi lain bernama humor. Keduanya dibungkus dalam bahasa ringan dan slang ala warga Sunda dekade 2010-an. Kisah dimulai dari cerita Jefferson si Pedagang Kesing yang jatuh cinta kepada seorang pelanggan yang mirip dengan Kiki Fatmala. Jefferson mengalami banyak hadangan demi mendapatkan si gadis, hingga akhir cerita mereka menikah dan membuka warung nasi di Planet Pluto.

Komik Strip

Sebuah gambar bisa mempunyai banyak cerita. :D

Makan di restoran mahal

Watir, Sebuah Revolusi Bodoran

Sejak dahulu kala, bangsa Sunda dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang sangat tinggi. Selain memiliki kode etik yang dijunjung tinggi dengan tegas, bangsa ini secara turun-temurun mewariskan budaya lainnya. Seperti halnya bahasa, dialek, dan termasuk hiburan.

Kiat-Kiat Merawat Buku


Bagi para librarian, book lovers, dan book hunters, buku adalah harta karun yang sangat berharga, sampai ada semacam SOP dalam memperlakukan buku. Bagi beberapa orang, mungkin beberapa hal yang dilakukan terkesan gila dan lebay, namun begitulah cara yang mereka menghargai buku. Bila benar buku adalah gudangnya ilmu, maka penghargaan masyarakat terhadap ilmu dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai buku. Kita bisa melihat seperti apa perpustakaannya.

Selamanya Cinta

Siang yang cerah, ada waktu luang yang saya agendakan untuk hunting ke toko buku. Mengenai tempat, yang terpikir hanya dua tujuan: Togamas atau Rumah Buku yang keduanya terletak di Jalan Supratman. Jadi, tanpa banyak berpikir, saya pun langsung saja ke tempat. Mengapa pilih kedua tempat yang itu? Hehe, alasannya sederhana saja: ada diskon (setidaknya 15%). Bahkan untuk beberapa jenis buku, diskonnya bisa mencapai 30%.

Sebagaimana niat awal saya yang mencari buku demi memperkaya kemampuan menulis, jenis buku yang saya incar pun tak akan jauh dari kumpulan cathar, memoar, atau cerita fiksi sederhana. Walaupun fiksi, tetap saja karya fiksi itu sendiri -biasanya- tergagas melalui pengalaman si penulis, atau pengalaman orang-orang yang beraudiensi (bertukar cerita dan pengalaman) dengan si penulis. Jadi, meski berlabel fiksi, saya masih pede untuk bisa melihat sebuah sisi hidup orang lain melalui sebuah naskah di mana si penulis bercerita dalam sudut pandangnya. Bagi saya itu cukup. Terlebih lagi bila menemukan buku yang isinya urang pisan, alias menggambarkan sisi hidup yang sama dengan bagaimana saya menjalani hidup. Seperti buku The Journey (memoar perjalanan) karya Farid Gaban dkk., Ketika Bunga Bicara (kumpulan kisah nyata) karya Nunik Utami-Dedew-Teresa, atau Nguping Jakarta (kumpulan celoteh warga Jakarta).