Saya adalah seseorang yang gemar bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, terutama angkot atau bus. Sebagai penunggang setia kendaraan umum, saya tahu bagaimana saja kebanyakan kendaraan di kota. Mulai dari tingkahnya saat jalan, ngetem, hingga jam-jam angkot atau bus dipenuhi penumpang. Salah satu waktu yang paling biasa dipadati oleh penumpang adalah pagi, tengah siang, dan sore. Jelas saja ramai, itu karena pagi-pagi adalah jamnya orang-orang berangkat kerja atau sekolah, sedangkan siang adalah jamnya anak-anak selesai sekolah atau hendak masuk sekolah, dan sore adalah jam pulang sekolah dan kerja.
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Posted by Adit Purana on August 22, 2013 with No comments
Tersadar saat memperhatikan tingkah beberapa teman yang bisa secara tiba-tiba jadi ceria, ekspresif, dan maceuh. Rasanya ada kesan yang lain saat melihat mereka tiba-tiba begitu. Yang asalnya murung menjadi ceria, yang asalnya pasif menjadi aktif, yang pendiam menjadi maceuh, dan yang datar-datar menjadi ekspresif. Saat-saat begitu, rasanya kehidupan mereka menjadi lebih berdenyut.
Posted by Adit Purana on July 29, 2013 with No comments
Suara sirine ambulans menyeruak langit, memberikan tanda kepada sekumpulan orang di sekitarnya bahwa saatnya berangkat telah tiba. Seolah-olah meminta para pengantar untuk turut bersiap mengikuti ambulans mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir yang telah ditentukan oleh keluarga untuk almarhum.
Posted by Adit Purana on July 23, 2013 with No comments
"Pak Dokter, jadi berapa ntuk semua pemeriksaan ini?"
"Ah, kayak ke orang lain aja. Masih keluarga ini kok."
"Jadi?" Tanyanya bingung.
"Udah, nggak usah!"
Malam itu, setelah pulang dari pemeriksaan kandungan istrinya (kakak ipar saya), kakak saya masih bingung dengan yang dikatakan oleh dokter setelah pemeriksaan. Ibu yang mendengarkan cerita dari kakak dan mengenal si dokter pun hanya bisa mengiyakan. Karena memang begitulah Pak Dokter. Bila itu yang diinginkan oleh Pak Dokter, ibu menurut saja.
"Ah, kayak ke orang lain aja. Masih keluarga ini kok."
"Jadi?" Tanyanya bingung.
"Udah, nggak usah!"
Malam itu, setelah pulang dari pemeriksaan kandungan istrinya (kakak ipar saya), kakak saya masih bingung dengan yang dikatakan oleh dokter setelah pemeriksaan. Ibu yang mendengarkan cerita dari kakak dan mengenal si dokter pun hanya bisa mengiyakan. Karena memang begitulah Pak Dokter. Bila itu yang diinginkan oleh Pak Dokter, ibu menurut saja.
Posted by Adit Purana on July 04, 2013 with No comments
Anehnya manusia. Seringkali menyadari berharganya sesuatu justru saat sudah kehilangannya. Ketika waktu sudah berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai momen-momen terbaik, ada saja keluhan "Seandainya saja dulu aku bla bla bla". Saat punya ponsel yang harganya cuma 200 ribuan raib di suatu tempat umum, sesak hati bukan kepalang karena ponsel tersebut menyimpan catatan-catatan penting dan nomor kontak orang-orang yang penting. Atau kehilangan orang yang bermakna dalam hidup, tentu saja nyesek di hati. Ketiganya saya pernah mengalami. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis di sini. Saya lebih tertarik untuk 'mengukur' makna di balik kehilangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)