Ada yang Berubah

Sebuah obrolan malam, obrolan tentang hidup, obrolannya para lelaki. Pendek kata, beginilah hidup, ada masa-masa sulit, ada saatnya mudah. Ada saatnya suka, ada saatnya duka. Semua itu tinggal masalah waktu, dan bagaimana kita menjalaninya. Begitu, begitu, dan begitu.

Sebuah Sore, Air, Seorang Bapak, dan Anaknya

Sore yang cerah, diwarnai lembayung yang merah melintasi cakrawala di sebuah sudut negeri. Sore yang mengakhiri siang, orang-orang berduyun-duyun pulang kerumah setelah seharian lepas mereka bekerja, sekolah, dan lain-lainnya.

Mencari Keadilan (2)

Bertahun-tahun hidup di negeri ini, kita mungkin menyadari bahwa:
  1. Saat ini (2011), menteri sosial kita adalah lulusan fakultas syari’ah dari Timur Tengah, beliau pernah bekerja beberapa tahun untuk kedutaan besar RI di Arab. Sementara menteri agama  kita saat ini adalah mantan menteri koperasi.
  2. Sosok yang dipilih untuk menjadi mendiknas periode kemarin adalah professor bidang ekonomi.
  3. Menteri kordinator perekonomian kita adalah insinyur, bukan pakar ekonomi.
Dan masih banyak hal lain yang serupa. Ibaratkan petani yang ahli cabe ditempatkan untuk menggarap sawah. 

Mencari Jawaban

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. ash-Shaff 2-3).

Awalnya saya tidak memahami apa maksud dari ayat ini. Utamanya, tentang mengapa ‘sindiran’ pada ayat ini ditujukan pada orang-orang yang beriman? Padahal biasanya ancaman atau sindiran semacam ini ditujukan pada orang-orang yang kafir, fasik, dzalim, dan sejenisnya. Sampai akhirnya -atas seizin-Nya- rentetan kejadian memberikan jawaban atas rasa penasaran saya ini.

Bedanya 2 Masa

"Beda antara ngajar ikhwan dengan akhwat. Terutama yang akhwat, akhwat yang masih muda -di bawah 30 tahun- berbeda jauh dengan yang sudah berumur/ibu-ibu. Kalau akhwat yang masih muda, pada jaim. Nah, kalau yang ibu-ibu justru sebaliknya. Heureuy wae!" begitulah kata pengajar tahsin saat beliau menceritakan pengalamannya selama mengajar. Beliau memang banyak berbagi pengalaman seputar 'mengajar' pada kami. Maklum, beliau pernah bilang bahwa hampir semua peserta tahsin -terutama yang ikhwan- adalah orang-orang yang punya kepentingan buat ngajar.

Sayanya atau Kampusnya?

Entah saya yang kontroversial, atau memang kampus ini yang aneh?

Akhir-akhir ini pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang, dan saya tak habis pikir untuk mencari jawabannya. Beberapa tahun yang lalu, di kampus ini saya mengalami pengalaman yang aneh. Setidaknya bagi saya pribadi itu adalah aneh, janggal.

Selalu Ada Cerita di Balik Kisah

Saat wawancara pada seleksi masuk magister, ada yang berkomentar “Wah, baru lulus sudah daftar lagi...” saya yang mendengarnya pun hanya membalas, “Yah, kurang lebih begitulah.” Mungkin dalam pikirannya, biasanya yang nerusin kuliah itu orang yang sebelumnya telah bekerja selepas lulus S-1. Memangnya aneh kalau seseorang yang baru lulus S-1, lalu beberapa bulan kemudian keterima kuliah S-2 di PTN?