When Songs Tell Who You Are

Asmara...
Mungkinkah kau sampaikan padanya
Walau hatiku penuh derita,
aku masih selalu cinta
.
(Asmara, Novia Kolopaking)

Lama sekali tidak mendengar tembang-tembang lawas. Sabtu (25/8/2012) kemarin saat numpang bus Bhinneka arah Cirebon ternyata kedua telinga ini berkesempatan untuk mendengar dendang-dendang tahun 80 dan 90-an. Ngaku lah, ada kesan tersendiri saat menaiki bus ini sambil menikmati alunan syair dan nada dari para penyanyi era keemasan Broery, Dewi Yull, Yuni Shara, Novia Kolopaking, Paramita Rusady, dan Desi Ratnasari. Selain terasa kembali ke beberapa dekade silam, teringat momen-momen yang telah lalu, juga karena memang saya yang menyukai tembang-tembang lawas. Semisal Asmara yang didawaikan oleh Mbak Novia. Sono pisan ka eta lagu.

Cerita dalam DAMRI

Langit semakin gelap. Jalanan di Kota Bandung mulai ramai seiring menjelangnya momen-momen malam mingguan. Beberapa ruas jalan utama semakin menemukan hiruk pikuknya. Terutama seputaran Jalan Dago, Dipati Ukur, Merdeka, atau Cihampelas. Selain disesaki oleh orang-orang yang berdatangan dari luar kota untuk menghabiskan kertas demi kertas berharga, atau menggesek si kartu sakti bernilai jutaan, beberapa tempat dipadati orang-orang yang berhamburan. Entah itu pekerja yang lembur di akhir pekan, atau mahasiswa-mahasiswi yang ada tambahan kuliah dan praktikum. Selebihnya, di tempat-tempat dagang mereka semua sama. Pelanggan.

Persahabatan & Perpisahan

Persahabatan bagai kepompong,
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
Hal yang tak mudah berubah jadi indah.

(Sindentosca - Kepompong)

Siapa yang tak mau memiliki sahabat? Rasanya tak ada satupun orang di dunia ini yang ingin hidup sendiri, dan tak ada satupun orang yang tak berkeinginan memiliki satu atau beberapa teman dekat. Alias sahabat nan akrab. Seseorang yang bisa sangat menolong kita dalam keadaan sulit. Seseorang yang bisa menemani kita dalam menjalani suka dan duka. Tempat di mana kita bisa berbagi banyak cerita, belajar dari pengalamannya. Dan masih banyak lagi.

Keputusan Teteh tuk Kembali Berkerudung

Ahad yang istimewa, kiranya begitulah yang saya rasakan saat pagi mendapatinya datang ke rumah. Ahad ini kami sekeluarga ada acara kumpul keluarga besar di Jatibening, Bekasi. Teteh yang tinggal tidak serumah dengan saya datang lebih awal sebelum keberangkatan untuk bisa berangkat bersama-sama. Sekitar jam setengah 7, terdengar ada suara mengetuk-ngetuk pagar rumah kami. Siapa ya? Ya kami berpikir siapa lagi kalau bukan teteh, terlebih lagi beliau memang sudah bilang akan ikut berangkat bareng bersama kami. Benar saja, setelah membuka pintu dan melihat dari dekat, ternyata itu teteh. Setelah hampir sebulan kami tak bertemu, ada satu hal yang mengejutkan dari penampilannya. Yaitu secarik kain berwarna biru muda yang membalut kepalanya.

Pahlawan Kebersihan

Apa yang membuat lingkungan sekitar di negeri ini banyak sampahnya? Mungkin ada banyak jawaban. Ada yang mengatakan karena budaya bersih yang sudah luntur di negeri ini, ketidak-pedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, pemahaman tentang pentingnya kebersihan, malas bersih-bersih (nyapu, beres-beres, dan lain-lain), dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Selamanya Cinta

Siang yang cerah, ada waktu luang yang saya agendakan untuk hunting ke toko buku. Mengenai tempat, yang terpikir hanya dua tujuan: Togamas atau Rumah Buku yang keduanya terletak di Jalan Supratman. Jadi, tanpa banyak berpikir, saya pun langsung saja ke tempat. Mengapa pilih kedua tempat yang itu? Hehe, alasannya sederhana saja: ada diskon (setidaknya 15%). Bahkan untuk beberapa jenis buku, diskonnya bisa mencapai 30%.

Sebagaimana niat awal saya yang mencari buku demi memperkaya kemampuan menulis, jenis buku yang saya incar pun tak akan jauh dari kumpulan cathar, memoar, atau cerita fiksi sederhana. Walaupun fiksi, tetap saja karya fiksi itu sendiri -biasanya- tergagas melalui pengalaman si penulis, atau pengalaman orang-orang yang beraudiensi (bertukar cerita dan pengalaman) dengan si penulis. Jadi, meski berlabel fiksi, saya masih pede untuk bisa melihat sebuah sisi hidup orang lain melalui sebuah naskah di mana si penulis bercerita dalam sudut pandangnya. Bagi saya itu cukup. Terlebih lagi bila menemukan buku yang isinya urang pisan, alias menggambarkan sisi hidup yang sama dengan bagaimana saya menjalani hidup. Seperti buku The Journey (memoar perjalanan) karya Farid Gaban dkk., Ketika Bunga Bicara (kumpulan kisah nyata) karya Nunik Utami-Dedew-Teresa, atau Nguping Jakarta (kumpulan celoteh warga Jakarta).

Bertukar Cerita

Sebagai penulis lepas, terutama penulis cathar, saya selalu -dan pastinya- membutuhkan banyak cerita dan pengalaman. Jadi yang akan selalu dicari untuk memperkaya bahan naskah tentunya adalah cerita, cerita, cerita, dan cerita. Intinya, semakin banyak cerita dan pengalaman, saya akan punya semakin banyak ide untuk dituliskan. Semakin banyak ide, maka semakin banyak hal yang bisa dipadukan ke dalam sebuah naskah. Maka, jadilah naskah ini, naskah itu, dan naskah-naskah lainnya.