Jum’at dini hari, saya terbangun tanpa sengaja. Entah apa gerangan
sesuatu yang menohok dalam hati hingga sedemikiannya termenung saat tergugah
dari tidur. Tercengah beberapa saat. Ah, perasaan macam apakah ini? Sebuah
perasaan yang tak jelas itu apa. Kegundahan hati yang menuntun saya untuk
beranjak ke meja makan, dan menyantap sebotol nyu milk tea yang tersisa di
kulkas. Teguk demi teguk pun menjadi kisah tentang sebotol minuman yang tadi
saya taruh di meja. Dingin, tapi setidaknya cukup untuk mengurangi balada
dangdut dalam benak. Selepas membuang botolnya, saya putuskan untuk mampir
dahulu ke kamar mandi, mengambil wudhu. Kembali ke kamar, menghamparkan sajadah
sebagai lapak untuk menghadap pada-Nya.
Posted by Adit Purana on September 08, 2012 with No comments
Dia tidak cantik mak...
Dia tidak jelek mak...
Yang sedang-sedang saja...
(Iwan - Yang Sedang-Sedang Saja)
Beberapa bait dari sebuah lirik lagu dangdut tahun 90-an itu memecah perhatian saya pada hangatnya sebuah mangkuk berisi bubur kacang hijau yang dicampur legitnya ketan hitam. Cukup untuk menghangatkan diri, cukup untuk mendamaikan benak, cukup untuk menentramkan suasana selepas tadi siang hiruk pikuk mewarnai aktivitas seharian. Malam ini pun, saya putuskan untuk mencari tempat demi menentramkan hati. Sekelumit permasalahan hidup, belum lagi ditambah pelik intrik pemerintahan yang efeknya -saya sadari- dirasakan oleh orang-orang rendahan seperti saya dan orang-orang di sekitar saya ini. Ya, dibanding menteri, siapalah saya ini? dan lagi, adakah menteri Indonesia di jaman sekarang yang mau nongkrong sendiri (tanpa dikawal patwal dan protokol) di warung pinggir jalan, dan merasakan langsung bagaimana cita rasa orang rendahan menjalani hidupnya?
Dia tidak jelek mak...
Yang sedang-sedang saja...
(Iwan - Yang Sedang-Sedang Saja)
Beberapa bait dari sebuah lirik lagu dangdut tahun 90-an itu memecah perhatian saya pada hangatnya sebuah mangkuk berisi bubur kacang hijau yang dicampur legitnya ketan hitam. Cukup untuk menghangatkan diri, cukup untuk mendamaikan benak, cukup untuk menentramkan suasana selepas tadi siang hiruk pikuk mewarnai aktivitas seharian. Malam ini pun, saya putuskan untuk mencari tempat demi menentramkan hati. Sekelumit permasalahan hidup, belum lagi ditambah pelik intrik pemerintahan yang efeknya -saya sadari- dirasakan oleh orang-orang rendahan seperti saya dan orang-orang di sekitar saya ini. Ya, dibanding menteri, siapalah saya ini? dan lagi, adakah menteri Indonesia di jaman sekarang yang mau nongkrong sendiri (tanpa dikawal patwal dan protokol) di warung pinggir jalan, dan merasakan langsung bagaimana cita rasa orang rendahan menjalani hidupnya?
Posted by Adit Purana on September 07, 2012 with No comments
1998. Sebuah tahun di mana saya pertama kali merasakan transisi, perpindahan dari masa SD ke masa SMP. Adakah yang terasa berbeda? Tentu saja. Bahkan sangat terasa perbedaannya. Juli 1998, saya menghadapi sebuah babak baru dalam kehidupan, yaitu menjadi siswa di sebuah SLTP Negeri (dulu masih disebut SLTP). Tepatnya sebuah SLTP yang berada di Jalan Semar, daerah Pajajaran. Sekolah Lanjut Tingkat Pertama Negeri 9 Kotamadya Bandung (dulu saat masuk masih disebut kotamadya). Konon, ini adalah sekolah legendaris, dan atas alasan itulah saya memilihnya.
Ada MOS (Masa Orientasi Sekolah), sebelumnya saat masuk SD tak ada yang begituan. Jadi, ini adalah MOS yang pertama kali saya alami dalam hidup. Gimana kesannya ya? Saya tak pernah berpikir MOS adalah kegiatan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Saya hanya berkesimpulan: melelahkan. Melelahkan karena harus mengerjakan ini-itu, harus begini harus begitu, ‘dijemur’ di lapangan. Kemudian bertemu dengan guru-guru yang -katanya- galak. Saudara dan sepupu yang lebih tua suka bercerita bahwa salah satu pengalaman berkesan mereka saat sekolah SMP atau SMA adalah menghadapi guru-guru yang super galak, alias killer. Tapi setelah hari demi hari saya mulai terbiasa dengan rutinitas kesibukan sebagai siswa SMP.
Ada MOS (Masa Orientasi Sekolah), sebelumnya saat masuk SD tak ada yang begituan. Jadi, ini adalah MOS yang pertama kali saya alami dalam hidup. Gimana kesannya ya? Saya tak pernah berpikir MOS adalah kegiatan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Saya hanya berkesimpulan: melelahkan. Melelahkan karena harus mengerjakan ini-itu, harus begini harus begitu, ‘dijemur’ di lapangan. Kemudian bertemu dengan guru-guru yang -katanya- galak. Saudara dan sepupu yang lebih tua suka bercerita bahwa salah satu pengalaman berkesan mereka saat sekolah SMP atau SMA adalah menghadapi guru-guru yang super galak, alias killer. Tapi setelah hari demi hari saya mulai terbiasa dengan rutinitas kesibukan sebagai siswa SMP.
Posted by Adit Purana on September 03, 2012 with 4 comments
Asmara...
Mungkinkah kau sampaikan padanya
Walau hatiku penuh derita,
aku masih selalu cinta.
(Asmara, Novia Kolopaking)
Lama sekali tidak mendengar tembang-tembang lawas. Sabtu (25/8/2012) kemarin saat numpang bus Bhinneka arah Cirebon ternyata kedua telinga ini berkesempatan untuk mendengar dendang-dendang tahun 80 dan 90-an. Ngaku lah, ada kesan tersendiri saat menaiki bus ini sambil menikmati alunan syair dan nada dari para penyanyi era keemasan Broery, Dewi Yull, Yuni Shara, Novia Kolopaking, Paramita Rusady, dan Desi Ratnasari. Selain terasa kembali ke beberapa dekade silam, teringat momen-momen yang telah lalu, juga karena memang saya yang menyukai tembang-tembang lawas. Semisal Asmara yang didawaikan oleh Mbak Novia. Sono pisan ka eta lagu.
Mungkinkah kau sampaikan padanya
Walau hatiku penuh derita,
aku masih selalu cinta.
(Asmara, Novia Kolopaking)
Lama sekali tidak mendengar tembang-tembang lawas. Sabtu (25/8/2012) kemarin saat numpang bus Bhinneka arah Cirebon ternyata kedua telinga ini berkesempatan untuk mendengar dendang-dendang tahun 80 dan 90-an. Ngaku lah, ada kesan tersendiri saat menaiki bus ini sambil menikmati alunan syair dan nada dari para penyanyi era keemasan Broery, Dewi Yull, Yuni Shara, Novia Kolopaking, Paramita Rusady, dan Desi Ratnasari. Selain terasa kembali ke beberapa dekade silam, teringat momen-momen yang telah lalu, juga karena memang saya yang menyukai tembang-tembang lawas. Semisal Asmara yang didawaikan oleh Mbak Novia. Sono pisan ka eta lagu.
Posted by Adit Purana on August 29, 2012 with No comments
Langit semakin gelap. Jalanan di Kota Bandung mulai ramai seiring menjelangnya momen-momen malam mingguan. Beberapa ruas jalan utama semakin menemukan hiruk pikuknya. Terutama seputaran Jalan Dago, Dipati Ukur, Merdeka, atau Cihampelas. Selain disesaki oleh orang-orang yang berdatangan dari luar kota untuk menghabiskan kertas demi kertas berharga, atau menggesek si kartu sakti bernilai jutaan, beberapa tempat dipadati orang-orang yang berhamburan. Entah itu pekerja yang lembur di akhir pekan, atau mahasiswa-mahasiswi yang ada tambahan kuliah dan praktikum. Selebihnya, di tempat-tempat dagang mereka semua sama. Pelanggan.
Posted by Adit Purana on July 29, 2012 with No comments
Persahabatan bagai kepompong,
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
Hal yang tak mudah berubah jadi indah.
(Sindentosca - Kepompong)
Siapa yang tak mau memiliki sahabat? Rasanya tak ada satupun orang di dunia ini yang ingin hidup sendiri, dan tak ada satupun orang yang tak berkeinginan memiliki satu atau beberapa teman dekat. Alias sahabat nan akrab. Seseorang yang bisa sangat menolong kita dalam keadaan sulit. Seseorang yang bisa menemani kita dalam menjalani suka dan duka. Tempat di mana kita bisa berbagi banyak cerita, belajar dari pengalamannya. Dan masih banyak lagi.
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
Hal yang tak mudah berubah jadi indah.
(Sindentosca - Kepompong)
Siapa yang tak mau memiliki sahabat? Rasanya tak ada satupun orang di dunia ini yang ingin hidup sendiri, dan tak ada satupun orang yang tak berkeinginan memiliki satu atau beberapa teman dekat. Alias sahabat nan akrab. Seseorang yang bisa sangat menolong kita dalam keadaan sulit. Seseorang yang bisa menemani kita dalam menjalani suka dan duka. Tempat di mana kita bisa berbagi banyak cerita, belajar dari pengalamannya. Dan masih banyak lagi.
Posted by Adit Purana on July 10, 2012 with No comments
Ahad yang istimewa, kiranya begitulah yang saya rasakan saat pagi mendapatinya datang ke rumah. Ahad ini kami sekeluarga ada acara kumpul keluarga besar di Jatibening, Bekasi. Teteh yang tinggal tidak serumah dengan saya datang lebih awal sebelum keberangkatan untuk bisa berangkat bersama-sama. Sekitar jam setengah 7, terdengar ada suara mengetuk-ngetuk pagar rumah kami. Siapa ya? Ya kami berpikir siapa lagi kalau bukan teteh, terlebih lagi beliau memang sudah bilang akan ikut berangkat bareng bersama kami. Benar saja, setelah membuka pintu dan melihat dari dekat, ternyata itu teteh. Setelah hampir sebulan kami tak bertemu, ada satu hal yang mengejutkan dari penampilannya. Yaitu secarik kain berwarna biru muda yang membalut kepalanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



