Keironisan

26 tahun (hitungan kalender masehi) sudah saya merasakan hidup ini. Selama 26 tahun itu pula saya melewati banyak pengalaman bertemu dan melihat orang-orang dengan beragam watak dan sifatnya. Ada yang masih membekas di benak hingga beberapa diantaranya terngiang-ngiang di pikiran, ada pula yang sudah terbenam bahkan terlupakan. Yang terlupakan seperti tingkah-tingkah saya selama balita, dan yang terngiang-ngiang seperti pengalaman berorganisasi jaman sekolah hingga kuliah. Tentang pengalaman hidup yang masih saja terngiang-ngiang, salah satunya adalah tentang keironisan yang membuat saya bertanya-tanya "Kenapa?". Ya, saya sebut ironis karena bertemu dengan 2 tindakan berbeda mengenai 1 idealisme.

Kiat-Kiat Merawat Buku


Bagi para librarian, book lovers, dan book hunters, buku adalah harta karun yang sangat berharga, sampai ada semacam SOP dalam memperlakukan buku. Bagi beberapa orang, mungkin beberapa hal yang dilakukan terkesan gila dan lebay, namun begitulah cara yang mereka menghargai buku. Bila benar buku adalah gudangnya ilmu, maka penghargaan masyarakat terhadap ilmu dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai buku. Kita bisa melihat seperti apa perpustakaannya.

Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta


Selepas maghrib, saya melihatnya sedang menunaikan shalat rawatib. Sepintas tak ada yang tampak istimewa dari penampilannya, namun ada sesuatu darinya yang menyita perhatian: keteguhan hati beliau. Menjelang malam itu pun, saya terpana melihat sosok renta yang kokoh pendiriannya itu. Ya, rapuhnya jasad tak meruntuhkan kokohnya pendirian beliau.

Semangkuk Bubur Kacang, Catatan, dan Hidup


Sebuah akhir pekan, malam, dan kemacetan. Jam 8 malam saya masih dalam perjalanan pulang dari kawasan Rancabadak. Ini memang malam Sabtu, namun bagi kebanyakan orang malam ini sudah termasuk akhir pekan. Siang yang begitu terik menyengat kami yang jam 12 menyinggahi masjid untuk shalat Jum'at, dilanjutkan dengan guyuran hujan sekitar jam setengah tiga, disambung oleh kemacetan di beberapa ruas jalan. Siangnya kepanasan, agak sore kehujanan, dan pulang membawa kepenatan.

Ke Tanah Suci #1: Datang dengan Cinta

Bisa menginjakkan kaki di tanah suci adalah sebuah impian bagi kami para muslim. Terlebih lagi bila menapakkan kaki sebagai jama'ah haji di bulan Dzulhijjah. Keinginan itu sempat saya ucapkan saat masih kecil kelas 3 SD, tahun 1995. Masih teringat jelas, salah satu foto yang dipajang di sebuah ruangan adalah foto ka'bah yang sedang dikelilingi para pentawaf. Ketika itu, saya sempat memandangi foto tersebut, dan berandai-andai menjadi bagian dari pusaran manusia yang arahnya berlawanan jarum jam itu. Cukup larut membayangkan, hingga keharuan menyelimuti batin dan membasahi mata.

Teladan dalam Keheningan

Sebuah siang bolong. Perkuliahan di hari ini selesai jam 10-an. Masih banyak waktu luang untuk hari ini. Berhubung tak ada agenda apa-apa dengan teman kuliah, saya pun akhirnya memilih untuk mampir ke sekre. Istirahat sejenak, ngobrol dengan teman seorganisasi, atau apa lah. Seperti biasanya, kisaran pagi hingga jam 2 ruangan-ruangan sekretariat hampir selalu sepi. Biasanya hanya ada beberapa orang yang mengisi dan berlalu-lalang di dalamnya. Memang demikian adanya. Pagi hingga menjelang ashar biasanya digunakan untuk kepentingan perkuliahan. Bilamana bukan ada jadwal kuliah, umumnya diagendakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Siang menjelang ashar, menjadi permulaan waktu luang di luar kepentingan perkuliahan. Ada yang melanjutkannya untuk nongkrong, main, istirahat, mengaji, aktivitas organisasi, dan lain-lain. Intinya, ada jam tertentu yang menjadi momen di mana orang-orang punya waktu luang.

Kenapa Saya Gak Pernah Mencalonkan Diri Jadi Ketua?

"Tuh, si Adit yang nggak pernah mau jadi ketua mah!" Tak sengaja saya mendengar ada seorang teman yang mengatakan demikian. Bisa dimaklum lah mengapa dia berkomentar begitu, itu karena saat masih aktif kuliah saya tak pernah mencalonkan diri dan menolak saat pernah ditawari jabatan struktural. Saya yang mendengarnya pun lebih memilih untuk sekedar senyum tanpa mengatakan apa-apa. Dia memang benar, saya memang tak pernah mau mencalonkan diri untuk menjadi ketua, dan untuk beberapa situasi saya memang memilih untuk menolak dicalonkan. Lagipula, orang-orang di dekat kami tak membutuhkan jawaban ataupun penjelasan dari saya mengenai alasannya. Memangnya penting untuk langsung dijawab? bahasa tubuh mereka tak mengisyaratkan keinginan untuk tahu alasannya, dan yang pasti mereka tak mempertanyakan "..kenapa?"