Ke Tanah Suci #3: Masyarakat Madinah

Setelah menunaikan shalat shubuh, rombongan berpencar. Ada waktu hingga tiba saatnya waktu sarapan pagi jam 6 di hotel. Usai shubuh berjama'ah, daerah sekitar Masjid Nabawi selalu ramai. Itu dikarenakan para PKL yang membuka lapak di halaman dekat masjid. Ada yang menjual pakaian, minyak wangi, kayu siwak, obat suplemen, mainan, dan mushaf. Meski langit masih tampak gelap dan mentari belum cukup terang untuk menyinari aktivitas, hiruk-pikuk sudah terasa.

Hubungan antara Warkop dan Kesetiaan

Entah sejak kapan saya mengenal istilah Warkop, kependekan dari Warung Kopi. Bagi saya, warkop adalah sebuah tempat sederhana dan kecil yang jauh dari kesan mewah. Menu utamanya tentu saja secangkir kopi. Ada juga menu-menu tambahan seperti mie rebus, susu hangat, berbagai macam udud, dan roti bakar. Seperti apapun bentuknya, yang jelas tempat yang satu ini sudah identik dengan lelaki. Itu karena yang biasa mengunjungi tempat ini adalah kaum adam.

Ke Tanah Suci #2: Madinah

Sadar tak ada pemandangan yang bernilai pariwisata, para penumpang pun memilih tidur setelah melaksanakan shalat isya di dalam bus. Saya juga tidur, karena merasa bosan. Lumayan untuk menepis kejenuhan, cukup untuk menghemat energi persiapan shalat di masjid Nabawi. Mesti begitu, karena menurut kabar, kita harus menyiapkan diri sebelum adzan shubuh sekitar 1 jam.

Ngebul di Warung

Suatu siang di daerah Dago seputaran Bangbayang. Tanpa tersadar, ternyata perut saya sudah waktunya diisi. Kosong terasa. Seperti nasehatnya Muhammad (saw.), makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Jadi sebelum perut terasa panas karena gesekan lambung dan asamnya (HCl) bertambah, segeralah makan. Mumpung isi perut belum beraksi, jadi cari makan saja.

Cyber Friends

Beberapa hari yang lalu, ada seorang 'kawan maya' yang unfriend di facebook. Awalnya karena dia kesal saya telah meledeknya, hingga akhirnya dia mengancam akan unfriend bila ngetawain. Saya bilang "Silahkan. Kamu yang add friend, kamu yang unfriend", dan benar saja dia meng-unfriend saya. Saya sih merasa cuek saja, karena merasa tidak dirugikan juga tidak diuntungkan. Sebenarnya, dia tidak bisa sepenuhnya dikatakan 'kawan maya'. Akhir 2012 kemarin dia memperkenalkan diri di facebook sebagai kakak iparnya teman saya waktu kuliah di UPI. Jadi sebenarnya, pertemanan kami adalah di dunia nyata, yang sayangnya hingga saat ini belum pernah bertemu.

Keironisan

26 tahun (hitungan kalender masehi) sudah saya merasakan hidup ini. Selama 26 tahun itu pula saya melewati banyak pengalaman bertemu dan melihat orang-orang dengan beragam watak dan sifatnya. Ada yang masih membekas di benak hingga beberapa diantaranya terngiang-ngiang di pikiran, ada pula yang sudah terbenam bahkan terlupakan. Yang terlupakan seperti tingkah-tingkah saya selama balita, dan yang terngiang-ngiang seperti pengalaman berorganisasi jaman sekolah hingga kuliah. Tentang pengalaman hidup yang masih saja terngiang-ngiang, salah satunya adalah tentang keironisan yang membuat saya bertanya-tanya "Kenapa?". Ya, saya sebut ironis karena bertemu dengan 2 tindakan berbeda mengenai 1 idealisme.

Kiat-Kiat Merawat Buku


Bagi para librarian, book lovers, dan book hunters, buku adalah harta karun yang sangat berharga, sampai ada semacam SOP dalam memperlakukan buku. Bagi beberapa orang, mungkin beberapa hal yang dilakukan terkesan gila dan lebay, namun begitulah cara yang mereka menghargai buku. Bila benar buku adalah gudangnya ilmu, maka penghargaan masyarakat terhadap ilmu dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai buku. Kita bisa melihat seperti apa perpustakaannya.