Rahmat dari Seorang Rahmat

Pemuda yang satu itu biasa dipanggil Kang Rahmat. Saya sendiri mengenalnya dengan nama Rahmat Hidayat. Kami ditakdirkan satu tahun belajar di kelas yang sama pada sebuah SMP negeri di tengah Kota Bandung tahun 1998. Sebagaimana siswa lain yang sedang menjalankan masa orientasi sekolah, tidak ada pikiran lain selain berkenalan dengan teman-teman baru dan seputar tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh semua peserta MOS (Masa Orientasi Sekolah). Keberadaan kami sebagai siswa di kelas yang sama (kelas 1-A) mengukuhkan bahwa kami berteman. Pasti berteman, dan harus berteman.

Disorientasi

Saya mau memulai catatan singkat ini dengan sebuah pertanyaan, "Pernahkah di dunia maya Anda malah lebih banyak ngobrol dengan teman-teman baru yang tak pernah Anda kenal di dunia nyata?" Bila Anda pernah atau sedang mengalaminya, kiranya hal semacam itu pula yang saya alami saat ini di sebuah media jejaring sosial. Saya memang punya akun di beberapa media sosial, diantaranya yahoo (milist), blogspot, youtube, wordpress, deviantart, paseban, dan facebook. Yang ingin saya garis bawahi, selalu ada tujuan utama yang menjadi alasan bagi saya untuk membuat akun di media jejaring sosial.

May Memorian of Ayrton Senna

Berawal dari niat mencari sebuah berkas di lemari, tanpa sengaja saya melihat sebuah sebuah foto tentang masa lalu. Masih teringat jelas dalam ingatan, saat itu bapak mengajak saya jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza. Sekedar ingin bermain ke sana sebagai satu dari 2 mall yang ada di Bandung saat itu, ternyata di BIP tengah ada sebuah pameran yang mempertontonkan sebuah kendaraan yang sangat jarang -bahkan tak pernah- ditemui sebelumnya di Indonesia.


Bagi Saya Adalah Pilihan Hidup

Dari sekian banyak orang yang pernah saya jumpai saat menjalankan pekerjaannya, siapa saja yang paling berkesan? Ada beberapa orang, dan saya dapat menyebutkan siapa saja mereka, kapan saya mengenalnya, dan apa yang berkesan dari mereka. Mulai dari Bu Erna, Wa Adud, hingga Bu Tini. Dari kesemua orang-orang yang berkesan itu, pada akhirnya ada satu benang merah yang memperlihatkan bahwa mereka punya kesamaan. Mereka adalah guru semasa saya sekolah.

Ke Tanah Suci #3: Masyarakat Madinah

Setelah menunaikan shalat shubuh, rombongan berpencar. Ada waktu hingga tiba saatnya waktu sarapan pagi jam 6 di hotel. Usai shubuh berjama'ah, daerah sekitar Masjid Nabawi selalu ramai. Itu dikarenakan para PKL yang membuka lapak di halaman dekat masjid. Ada yang menjual pakaian, minyak wangi, kayu siwak, obat suplemen, mainan, dan mushaf. Meski langit masih tampak gelap dan mentari belum cukup terang untuk menyinari aktivitas, hiruk-pikuk sudah terasa.

Hubungan antara Warkop dan Kesetiaan

Entah sejak kapan saya mengenal istilah Warkop, kependekan dari Warung Kopi. Bagi saya, warkop adalah sebuah tempat sederhana dan kecil yang jauh dari kesan mewah. Menu utamanya tentu saja secangkir kopi. Ada juga menu-menu tambahan seperti mie rebus, susu hangat, berbagai macam udud, dan roti bakar. Seperti apapun bentuknya, yang jelas tempat yang satu ini sudah identik dengan lelaki. Itu karena yang biasa mengunjungi tempat ini adalah kaum adam.

Ke Tanah Suci #2: Madinah

Sadar tak ada pemandangan yang bernilai pariwisata, para penumpang pun memilih tidur setelah melaksanakan shalat isya di dalam bus. Saya juga tidur, karena merasa bosan. Lumayan untuk menepis kejenuhan, cukup untuk menghemat energi persiapan shalat di masjid Nabawi. Mesti begitu, karena menurut kabar, kita harus menyiapkan diri sebelum adzan shubuh sekitar 1 jam.