Sebutlah namanya Ma Entin, seorang penjual nasi kuning di sebuah gang. Pada suatu pagi yang cerah, Yang Maha Berkehendak mempertemukan saya dengan beliau. Saya yang tengah menuju rumah seorang kawan lama, melihat sebuah gerobak biru bertuliskan Nasi Kuning di kacanya. Tetapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk singgah, melainkan beberapa lodor berisi gorengan yang dirasa pas untuk mengisi perut, ditambah sachet-sachet kopi yang tergantung di pinggirnya.
Showing posts with label Kehilangan. Show all posts
Showing posts with label Kehilangan. Show all posts
Posted by Adit Purana on January 02, 2014 with 3 comments
Sebagai pemuda yang aktif di masjid dekat rumah, salah satu aktivitas yang cukup familiar adalah mengurus jenazah. Begitu terdengar kabar bahwa ada salah seorang warga yang meninggal, kami langsung mencari tahu siapa dan di mana kediamannya, kemudian segera mendatangi kediamannya untuk mempersiapkan segala keperluan pengurusan jenazah. Mulai dari menyiapkan area pemandian, air, papan pemandian, dan tempat pengkafanan.
Posted by Adit Purana on October 28, 2013 with No comments
Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.21, dan langit tampak lebih bersahabat setelah tadi siang mendung dan deras hujan mengguyur Kota Bandung. Cuaca yang masih dingin, hawa yang masih agak lembab, jalanan yang masih basah, dan tentunya udara yang sejuk mengembalikan cita rasa Bandung menjadi seperti saat dekade 90-an. Sejuk. Suasana yang biasa menemani acara ngopi.
Posted by Adit Purana on July 21, 2013 with No comments
Choi Kang Chi, mahkluk setengah manusia setengah siluman yang berjuang untuk menjadi manusia seutuhnya. Gu Family Book merupakan sebuah drama seri Korea tentang mitologi, politik, kearifan, keluarga, dan cinta. Ceritanya penuh dengan intrik, misteria politik, dan dramatikal cinta.
Posted by Adit Purana on July 04, 2013 with No comments
Anehnya manusia. Seringkali menyadari berharganya sesuatu justru saat sudah kehilangannya. Ketika waktu sudah berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai momen-momen terbaik, ada saja keluhan "Seandainya saja dulu aku bla bla bla". Saat punya ponsel yang harganya cuma 200 ribuan raib di suatu tempat umum, sesak hati bukan kepalang karena ponsel tersebut menyimpan catatan-catatan penting dan nomor kontak orang-orang yang penting. Atau kehilangan orang yang bermakna dalam hidup, tentu saja nyesek di hati. Ketiganya saya pernah mengalami. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis di sini. Saya lebih tertarik untuk 'mengukur' makna di balik kehilangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)