Showing posts with label Makna. Show all posts
Showing posts with label Makna. Show all posts

Sejoli #2: Berteman

Saat kita bisa memandangi lembayung, sambil mereguk secangkir teh hangat dan saling bertukar cerita tentang hidup. Lalu kita bisa tersenyum dan tertawa bersama. Itulah berteman, kata seseorang yang saya kenal.

Bukan Tentang Bicara

Apa yang membuatmu merasa berarti?

Ah, entahlah. Rasanya bagi saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Hanya saja, saya pernah merasa tidak berarti, hingga lebih memilih untuk pergi. Ya, pergi. Pergi ke tempat di mana saya bisa merasa lebih berarti.

Tidak Melengkapi

Kalau Kau ingin berteman, tak perlu menjadi seseorang yang terlihat kuat dan mengagumkan. Datanglah kemari, kita nikmati secangkir teh bersama, sambil bertukar cerita tentang kisah hidup masing-masing.

Rasanya dalam setiap hidup orang, selalu saja ada sosok-sosok yang terbilang hebat. Disebut begitu karena sosok itu membuat orang terkagum-kagum. Bila diingat-ingat, selalu saja ada obrolan tentang kekaguman pada sosok tertentu. Saya pun begitu, tidak jarang merasakan kekaguman akan kehebatan seseorang, sampai terbesit dalam hati bahwa ada rasa ingin menjadi hebat. Semisal kagum pada Andrea Pirlo, dan saya ingin bisa bermain bola sepertinya.

Hidup yang Ketiga

Pernah membayangkan bagaimana bertemu dengan malaikat maut? Walaupun dalam film-film tertentu beberapa kematian terkesan terhormat, mulia, heroik, dan mengagumkan, -jangankan membayangkan- mendengar cerita tentang bagaimana orang wafat saja rasanya sudah menakutkan. Setidaknya untuk saya. Tetapi mungkin tanpa disadari sebenarnya malaikat kematian itu pernah mendatangi, memandangi wajah saya, dan menunggu detik eksekusi.

Bacaan yang Ajaib

Aneh? Iya. Unik? Juga iya. Sejak kecil saya diperkenalkan pada huruf-huruf Qur'an melalui sebuah majalah anak, namanya Aku Anak Saleh. Entah sekarang masih ada, ataukah sudah tidak terbit lagi. Awalnya saya tidak ngeh, dan malas-malasan membacanya. Sampai akhirnya saat saya kelas 2 SD, ibu memanggilkan guru ngaji untuk mengajari kami (anaknya) membaca al-Qur'an sekaligus mengerti isinya. Kami biasa memanggilnya Mang Uwen.

Nasehat di Pagi Hari

Senin. Pagi yang hangat. Mentari sudah tampak sejak jam setengah enam. Langit tampak berwarna biru muda, cerah, dengan putihnya awan. Tiada kelabu mendung, tiada awan gelap pertanda hujan segera datang. Pagi yang cerah mengakhiri sore kemarin yang mendung. Sebagaimana mentari yang cerah mengakhiri sore dan malam yang mendung, sebuah nasehat dari seseorang membuat mendung di hati saya pun sirna.

Dinamisnya Hidup

Semenjak pertama kuliah, di tahun 2004, saya sudah meniatkan diri untuk kuliah sambil mencari penghasilan. Tidak mengapa meski serabutan. Kadang ada, kadang sepi. Kira-kira begitulah hidup saya sebagai mahasiswa kumel yang berkutat dengan beberapa macam orderan demi mencari penghasilan. Kalau lagi ada orderan, berarti ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa. Kalau lagi sepi, ya paksakan saja untuk berpuasa.

Di Balik Ilmu yang Bermanfaat

Berawal dari April 2012, saya dikaruniai sebuah kesempatan untuk menapaki tanah suci di Jazirah 'Arab sana. Senang? Tentu saja, karena itu adalah salah satu impian saya saat masih kanak-kanak. Di mana saat masih sering ingusan itu saya suka memandangi foto Masjid al-Haram dengan begitu lekat hingga sampai menangis, saking inginnya. Belasan tahun berselang, impian itu dikabulkan. Alhamdulillah.

Ikut Susah Gara-Gara Dekat

2007 silam, saya terpilih untuk menahkodai P3R (Panitia Pelaksana Program Ramadhan) di sebuah masjid. Alhasil, selama Ramadhan di tahun itu pun saya menjadi orang yang sangat sibuk dengan agenda-agenda keorganisasian. Pun dengan isi pikiran, tidak jauh dari program kerja dan rapat-rapat kordinasi. Daek teu daek lah eta mah.

Sebegitu Mudahnyakah Menyintai?

Saya adalah seseorang yang gemar bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, terutama angkot atau bus. Sebagai penunggang setia kendaraan umum, saya tahu bagaimana saja kebanyakan kendaraan di kota. Mulai dari tingkahnya saat jalan, ngetem, hingga jam-jam angkot atau bus dipenuhi penumpang. Salah satu waktu yang paling biasa dipadati oleh penumpang adalah pagi, tengah siang, dan sore. Jelas saja ramai, itu karena pagi-pagi adalah jamnya orang-orang berangkat kerja atau sekolah, sedangkan siang adalah jamnya anak-anak selesai sekolah atau hendak masuk sekolah, dan sore adalah jam pulang sekolah dan kerja.

Menanyakan Kebahagiaan

"Lama kita nggak ketemu. Gimana kabar?"
"Baik. Iya, udah lama banget. Kamu gimana?"
"Kayak yang kamu lihat sekarang."
"Kayaknya kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang."
"Hmm.."

Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan!

Sebuah obrolan antara 2 orang...

Keur usaha neangan jodo, yeuh!”
Ceuk urang mah, mun can waktuna nya moal jadi we.”
Eh, da kudu aya usahana atuh nu kitu ge! Lain ngan ukur cicing wae.”
Urang teh geus 9 kali kandas, lain tanpa ngusaha. Matak wani ngomong kitu.”
“Wah... Aslina?”

Menghidupkan Hidup

Tersadar saat memperhatikan tingkah beberapa teman yang bisa secara tiba-tiba jadi ceria, ekspresif, dan maceuh. Rasanya ada kesan yang lain saat melihat mereka tiba-tiba begitu. Yang asalnya murung menjadi ceria, yang asalnya pasif menjadi aktif, yang pendiam menjadi maceuh, dan yang datar-datar menjadi ekspresif. Saat-saat begitu, rasanya kehidupan mereka menjadi lebih berdenyut.

Fithrahnya Pemimpin Adalah Melayani

Saat dulu kita sekolah, siapakah pemimpin di kelas? Mudahnya kita jawab saja Ketua Kelas atau Ketua Murid, yang sering kita singkat sebutannya sebagai KM. Sekalian plus Wakil KM, supaya bila KM berhalangan hadir ada Wakil KM yang bisa menggantikan perannya.

Letak Kemuliaannya si Pengayuh Becak

Suara sirine ambulans menyeruak langit, memberikan tanda kepada sekumpulan orang di sekitarnya bahwa saatnya berangkat telah tiba. Seolah-olah meminta para pengantar untuk turut bersiap mengikuti ambulans mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir yang telah ditentukan oleh keluarga untuk almarhum.

Keluarga Dibangun oleh Cinta

"Pak Dokter, jadi berapa ntuk semua pemeriksaan ini?"
"Ah, kayak ke orang lain aja. Masih keluarga ini kok."
"Jadi?" Tanyanya bingung.
"Udah, nggak usah!"

Malam itu, setelah pulang dari pemeriksaan kandungan istrinya (kakak ipar saya), kakak saya masih bingung dengan yang dikatakan oleh dokter setelah pemeriksaan. Ibu yang mendengarkan cerita dari kakak dan mengenal si dokter pun hanya bisa mengiyakan. Karena memang begitulah Pak Dokter. Bila itu yang diinginkan oleh Pak Dokter, ibu menurut saja.

Arti Kehilangan

Anehnya manusia. Seringkali menyadari berharganya sesuatu justru saat sudah kehilangannya. Ketika waktu sudah berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai momen-momen terbaik, ada saja keluhan "Seandainya saja dulu aku bla bla bla". Saat punya ponsel yang harganya cuma 200 ribuan raib di suatu tempat umum, sesak hati bukan kepalang karena ponsel tersebut menyimpan catatan-catatan penting dan nomor kontak orang-orang yang penting. Atau kehilangan orang yang bermakna dalam hidup, tentu saja nyesek di hati. Ketiganya saya pernah mengalami. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis di sini. Saya lebih tertarik untuk 'mengukur' makna di balik kehilangan.