Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

Jogokarian #3: Manajemen Jamaah ep.2 (habis)

Saya membayangkan sebuah alur berpikir dalam merawat komunitas. Mulai dari orang-orang di dalamnya, dan bagaimana agar orang-orang tersebut bisa betah di masjid ini. Begitu saja, sederhana. Namun bila pola berpikir ini bisa diterapkan dengan baik dalam pengelolaan jama'ah, saya kira -sunnatullahnya- akan membuat masjid ini digandrungi oleh 5 klasifikasi yang disebutkan pada tulisan sebelumnya.

Ini tentang 'pendekatan' yang dilakukan manajemen Jogokarian kepada warga.

Mas Krisna (warga Jogokarian) pernah bercerita bahwa dulunya Masjid Jogokarian tidak berada di tempat yang sekarang, tetapi agak masuk daerah jalan yang lebih sempit. Bukan di samping jalan utama kampung. Manajemen masjid berpendapat bahwa itu kurang bagus untuk kejamaahan, kesannya kurang terbuka. Bayangkan saja bila mall terletak di tengah-tengah komplek perumahan, bukan di pinggir jalan raya. Maka dengan segala upaya, masjid berpindah ke tempat yang lebih strategis untuk sebuah kampung. Kades, ketua RW, dan ketua RT berperan penting dalam memindahkan masjid ke tempat yang lebih mudah diakses.

Setelah itu, manajemen mulai menjalankan gagasan berikutnya: pendataan. Ini bagian yang terkenal di blog-blog. Mas Krisna sendiri menyebutnya dengan sensus warga yang bertujuan untuk mendapatkan data-data perihal jama'ah. Hebatnya, data sensus ini lebih lengkap dari sensus penduduknya BPS, sehingga melalui sensus jamaah ini manajemen Jogokarian bisa mengetahui mustahik zakat, demografis, profil warga, dll. Data-data inilah yang kemudian dijadikan sebagai peta da'wah Jogokarian.

Data tersebut kemudian diolah menjadi pengareaan jamaah. Tujuannya untuk penempatan 'utusan' dan program da'wah yang dijalankan. Kabarnya, Ustadz Salim A. Fillah dulunya adalah salah seorang yang ditempatkan di area merah (awam tentang ajaran Islam) agar bisa membina area tersebut. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang awam di daerah tersebut kian tertarik untuk belajar Islam ke Rumah Belajar yang dibuka oleh Ust.Salim. Warga di area merah ini mulai berubah, mereka semakin percaya diri untuk ke masjid.

Selanjutnya, bagaimana membuat jama'ah menjadi senang ke Jogokarian?

Selain karena kemauan warga, Jogokarian memiliki daya tarik lain. Ada tembok yang bisa menjadi tempat selfie, jalur untuk kursi roda, klinik, angkringan, penginapan, sampai tetangga masjid yang merupakan rumah usaha.

Angkringan di Jogokarian*

Saya sendiri sempat mencicipi angkringan yang terkenal dengan gratisannya. Bila sedang beruntung, pengunjung tak perlu membayar jajanan yang dimakan. Dalam sehari, biasanya ada pengunjung yang datang dan jajan, lalu membayar lebih. Ada yang membayar 50 ribu, ada juga yang sampai 200 ribu, padahal hanya jajan senilai 10 ribu. Sisanya dipakai untuk gratis jajan sampai senilai dengan uang kembalian. Tak heran bila angkringan ini tak pernah sepi. Kenangan tiba-tiba mendapat rezeki membuat orang tertarik untuk berkunjung lagi. Setidaknya ke angkringan, namun bila saat adzan masih tetap ngangkring, malu lah!

Keunikan ini membuat Jogokarian bukan hanya menjadi sebuah masjid, tetapi juga sebuah pusat aktivitas sehari-hari.

Selesai di angkringan, saya bertemu dengan seorang tukang pijat. Dia ditangkan dari luar Yogyakarta untuk memijat tamu penginapan yang berasal dari Bogor. Ada 2 orang dari luar Yogyakarta bertemu di tempat ini, itu menunjukkan masjid ini bisa menjadi meeting point. Kiranya kita sama-sama tahu, tempat yang bisa dijadikan meeting point setidaknya harus nyaman untuk lebih dari sekadar tempat singgah.

Ya, nyaman. Akhirnya saya terpikirkan kata "nyaman" sebagai alasan kenapa orang bisa betah di Jogokarian, dan membuat mereka datang kembali. Itulah cara maintenance komunitasnya.

Bagaimana dengan anak-anak? Sebelum iqamah isya, saya menemukan seorang pemuda yang sedang bermain dengan anak-anak di selasar selatan masjid. Mereka terlihat ceria dengan permainan itu (yang biasanya di masjid lain membuat para sepuh terusik karena keributannya). Saat iqamah berkumandang, kakak pengasuh tadi segera memasuki ruangan utama. Siapa sangka, ternyata dialah imam shalat berjamaahnya.

Keceriaan anak-anak di Masjid Jogokarian*

Di Jogokarian, anak-anak dibuat ceria. Wajarlah bila setelah dewasa (seperti generasi Mas Krisna) mereka senang ke masjid. "Di sini (Jogokarian) punya kenangan indah." Begitu katanya.

24 Rajab 1439

*gambar didapat melalui google

Kopi dan Teh

Saya masih ingat, kapan pertama kali menemukan secangkir kopi. Itu adalah saat bapak dan kakak kedua ngobrol sambil merokok di ruang tengah. Sebagai lelaki perokok, tentu saja rasanya kurang sempurna tanpa ada secangkir kopi. Entah apa yang membuat mereka begitu suka ngopi. Karena penasaran, saya yang masih SD pun mencobanya. Sangat pahit, dan saya tidak suka. Walaupun sudah diberi gula.

Watir #2: Menikmati Nasib Naas

Sebagian manusia memang tidak jauh dari hal-hal yang berbau watir.

Tujuh cerita pendek dengan tema cinta dan kewatiran, melekat dengan sisi lain bernama humor. Keduanya dibungkus dalam bahasa ringan dan slang ala warga Sunda dekade 2010-an. Kisah dimulai dari cerita Jefferson si Pedagang Kesing yang jatuh cinta kepada seorang pelanggan yang mirip dengan Kiki Fatmala. Jefferson mengalami banyak hadangan demi mendapatkan si gadis, hingga akhir cerita mereka menikah dan membuka warung nasi di Planet Pluto.

Neng, Bebersih Bandung Yuk!

Do You love your town?”
Yap, sure.”
Then, do something for it!

Menjelang pagi, tanggal 27 Oktober 2013. Adalah hari Minggu, sebuah hari yang semenjak beberapa tahun terakhir identik dengan aktivitas bersama di Kota Bandung. Mulai dari olahraga bersama, liburan bersama, nongkrong bersama, pengajian bersama, hingga belanja bersama. Bisa dikatakan, Bandung menjadi lebih ramai saat akhir pekan tiba. Beberapa tempat yang menjadi jantung kota seolah lebih berdenyut, yang menandakan bahwa tempat itu lebih hidup.

Cerita di Balik "Has Published"

Sebagaimana biasanya penulis cathar (catatan harian), adalah sebuah kebahagiaan apabila bisa berbagi pelajaran hidup yang digambarkan melalui tulisannya. Seperti tulisan "Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta" yang dipublikasikan di dakwatuna.com. Terima kasih.

Gu Family Book

Choi Kang Chi, mahkluk setengah manusia setengah siluman yang berjuang untuk menjadi manusia seutuhnya. Gu Family Book merupakan sebuah drama seri Korea tentang mitologi, politik, kearifan, keluarga, dan cinta. Ceritanya penuh dengan intrik, misteria politik, dan dramatikal cinta.

Watir, Sebuah Revolusi Bodoran

Sejak dahulu kala, bangsa Sunda dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang sangat tinggi. Selain memiliki kode etik yang dijunjung tinggi dengan tegas, bangsa ini secara turun-temurun mewariskan budaya lainnya. Seperti halnya bahasa, dialek, dan termasuk hiburan.

Berteman Tapi tak Berteman

Ini masalah lama, tapi tetap saja mengganjal di hati. Saya tidak dapat memungkiri bahwa selama berteman di dunia maya, selama itu pula saya mengalami kehidupan yang benar-benar fana. Saya bisa saja punya ribuan teman di dunia maya, tapi perlu saya camkan pula, karena itu adalah dunia maya, maka mereka adalah sosok-sosok yang sebatas virtual. Ya, virtual alias fana. Atau bisa juga saya mengatakan bahwa they are not real.

Selamanya Cinta

Siang yang cerah, ada waktu luang yang saya agendakan untuk hunting ke toko buku. Mengenai tempat, yang terpikir hanya dua tujuan: Togamas atau Rumah Buku yang keduanya terletak di Jalan Supratman. Jadi, tanpa banyak berpikir, saya pun langsung saja ke tempat. Mengapa pilih kedua tempat yang itu? Hehe, alasannya sederhana saja: ada diskon (setidaknya 15%). Bahkan untuk beberapa jenis buku, diskonnya bisa mencapai 30%.

Sebagaimana niat awal saya yang mencari buku demi memperkaya kemampuan menulis, jenis buku yang saya incar pun tak akan jauh dari kumpulan cathar, memoar, atau cerita fiksi sederhana. Walaupun fiksi, tetap saja karya fiksi itu sendiri -biasanya- tergagas melalui pengalaman si penulis, atau pengalaman orang-orang yang beraudiensi (bertukar cerita dan pengalaman) dengan si penulis. Jadi, meski berlabel fiksi, saya masih pede untuk bisa melihat sebuah sisi hidup orang lain melalui sebuah naskah di mana si penulis bercerita dalam sudut pandangnya. Bagi saya itu cukup. Terlebih lagi bila menemukan buku yang isinya urang pisan, alias menggambarkan sisi hidup yang sama dengan bagaimana saya menjalani hidup. Seperti buku The Journey (memoar perjalanan) karya Farid Gaban dkk., Ketika Bunga Bicara (kumpulan kisah nyata) karya Nunik Utami-Dedew-Teresa, atau Nguping Jakarta (kumpulan celoteh warga Jakarta).