Mungkin
sudah menjadi sebuah pemandangan yang jarang ditemukan melihat Bandung yang
berkabut di pagi hari, sekitar jam 6 sampai jam 7. Terlebih lagi dalam beberapa
tahun terakhir pasca 2004 di mana terjadi peningkatan volume kendaraan yang amat
pesat. Sebagai catatan, sebelum 2004 jalanan di Bandung tak begitu padat selain
di area pusat keramaian seperti Bandung Indah Plaza, Cihampelas, Pasar Baru,
dan Dalem Kaum. Bahkan jalan Cipaganti merupakan salah satu jalan yang
terbilang cukup sepi sehingga kendaraan bisa dipacu dalam kecepatan yang cukup
tinggi.
Posted by Adit Purana on October 31, 2012 with No comments
Tahukah kamu?
Semalam tadi aku menangis
mengingatmu mengenangmu.
Mungkin hatiku terluka dalam,
atau selalu terlukiskan
kenangan kita.
(Audy - Menangis Semalam)
Sepertinya tak salah apabila ada episode atau scene tertentu yang
disukai oleh masing-masing orang. Ada yang menyukai bagian pertengkaran dimana
dua tokoh mengekspresikan emosinya masing-masing, ada penyuka epik petualangan
yang mengeksplor imajinasi, ada penggemar cerita violence yang dipenuhi scene
kekerasan, dan lain-lain. Mungkin selera semacam itulah yang mengantarkan
ketertarikan orang-orang dalam memilih cerita (bacaan atau film) mereka
masing-masing. Secara umum, ada yang menyukai action, drama, thriller, mistery,
komedi, sains-fiction, dan lain-lain. Namun ternyata tidak sesederhana itu,
terkadang selera menuntun pada hal-hal yang lebih detail. Bagi kita penikmat
genre action-petualangan, mungkin film semacam Indiana Jones menjadi genre yang
digemari. Sebagaimana bagi kita yang menyukai genre drama-kehidupan, tipikal
Dorama Jepang menjadi referensi penting.
Posted by Adit Purana on October 11, 2012 with No comments
Daisy-ku yang mungil, apa
kabarnya dirimu?
Saya selalu percaya, setiap orang punya caranya masing-masing dalam
menikmati hidup. Entah itu dengan menelusuri minatnya, melakukan sesuatu yang
menjadi hobi, pergi ke tempat favorit, atau bahkan sekedar menghanyutkan diri
dalam suasana yang ada. Begitu pula dengan saya yang mempunyai cara tersendiri
dalam menikmati hidup. Sebelumnya, saya sendiri mesti mengakui bahwa tak segala
hal berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya membosankan, jenuh, tertekan karena
lagi di-warning oleh deadline, dan lain-lain. Kadang begini kadang begitu,
kadang sulit kadang mudah, kadang lega kadang tertekan, kadang sedih kadang
bahagia. Benarlah apa kata iklan: “...karena hidup punya banyak rasa!” atau
“..life is never flat!”
Posted by Adit Purana on October 09, 2012 with 3 comments
Pesawatku terbang ke bulan...
(Memes - Pesawatku)
Pertengahan caturwulan 2012, salah satu obrolan yang ramai jadi topik
pembicaraan adalah “Perahu Kertas”-nya Dee Lestari. Sebenarnya bukan bukunya,
namun karena buku tersebut difilmkan. Tampaknya pemfilman buku inilah yang
membuat “Perahu Kertas” jadi booming. Setelah laris dengan bukunya, akhirnya para
pembaca yang apresiatif pada salah satu karya Dee tersebut disuguhkan dengan
bentuk lain penyajian imajinasi si penulis. Visualisasi dalam bentuk gambar
bergerak, alias film. Orang-orang berbondong ingin menontonnya. Bahkan kalangan
yang bukan pembaca buku pun ikut terhanyut antusiasme pembaca yang penasaran
pada versi filmnya. Terbukti, ada teman saya yang menonton film Perahu Kertas
bersama kekasihnya. Padahal saya tahu persis bahwa dia bukanlah penikmat buku.
Posted by Adit Purana on September 11, 2012 with No comments
Biarkan cinta mengudara
Meliuk-liuk di awan angkasa
Terbanglah lewati langit jingga
Ceria di cakrawala sanubari Aa
Biarkan cinta melayang
Menembus waktu dan ruang
Sampaikanlah kata sayang
Di bandara hati Kakang
Biarkan cinta mendarat
Hempaskan kerinduan yang tersekat
Menantimu dekap hangat
Teruntuk Dinda nan memikat
Meliuk-liuk di awan angkasa
Terbanglah lewati langit jingga
Ceria di cakrawala sanubari Aa
Biarkan cinta melayang
Menembus waktu dan ruang
Sampaikanlah kata sayang
Di bandara hati Kakang
Biarkan cinta mendarat
Hempaskan kerinduan yang tersekat
Menantimu dekap hangat
Teruntuk Dinda nan memikat
Position Report dikonfirmasi. Selamat pulang, Sayang!
Bandung, 10/09/2012
Bandung, 10/09/2012
Posted by Adit Purana on September 09, 2012 with 1 comment
Jum’at dini hari, saya terbangun tanpa sengaja. Entah apa gerangan
sesuatu yang menohok dalam hati hingga sedemikiannya termenung saat tergugah
dari tidur. Tercengah beberapa saat. Ah, perasaan macam apakah ini? Sebuah
perasaan yang tak jelas itu apa. Kegundahan hati yang menuntun saya untuk
beranjak ke meja makan, dan menyantap sebotol nyu milk tea yang tersisa di
kulkas. Teguk demi teguk pun menjadi kisah tentang sebotol minuman yang tadi
saya taruh di meja. Dingin, tapi setidaknya cukup untuk mengurangi balada
dangdut dalam benak. Selepas membuang botolnya, saya putuskan untuk mampir
dahulu ke kamar mandi, mengambil wudhu. Kembali ke kamar, menghamparkan sajadah
sebagai lapak untuk menghadap pada-Nya.
Posted by Adit Purana on September 08, 2012 with No comments
Dia tidak cantik mak...
Dia tidak jelek mak...
Yang sedang-sedang saja...
(Iwan - Yang Sedang-Sedang Saja)
Beberapa bait dari sebuah lirik lagu dangdut tahun 90-an itu memecah perhatian saya pada hangatnya sebuah mangkuk berisi bubur kacang hijau yang dicampur legitnya ketan hitam. Cukup untuk menghangatkan diri, cukup untuk mendamaikan benak, cukup untuk menentramkan suasana selepas tadi siang hiruk pikuk mewarnai aktivitas seharian. Malam ini pun, saya putuskan untuk mencari tempat demi menentramkan hati. Sekelumit permasalahan hidup, belum lagi ditambah pelik intrik pemerintahan yang efeknya -saya sadari- dirasakan oleh orang-orang rendahan seperti saya dan orang-orang di sekitar saya ini. Ya, dibanding menteri, siapalah saya ini? dan lagi, adakah menteri Indonesia di jaman sekarang yang mau nongkrong sendiri (tanpa dikawal patwal dan protokol) di warung pinggir jalan, dan merasakan langsung bagaimana cita rasa orang rendahan menjalani hidupnya?
Dia tidak jelek mak...
Yang sedang-sedang saja...
(Iwan - Yang Sedang-Sedang Saja)
Beberapa bait dari sebuah lirik lagu dangdut tahun 90-an itu memecah perhatian saya pada hangatnya sebuah mangkuk berisi bubur kacang hijau yang dicampur legitnya ketan hitam. Cukup untuk menghangatkan diri, cukup untuk mendamaikan benak, cukup untuk menentramkan suasana selepas tadi siang hiruk pikuk mewarnai aktivitas seharian. Malam ini pun, saya putuskan untuk mencari tempat demi menentramkan hati. Sekelumit permasalahan hidup, belum lagi ditambah pelik intrik pemerintahan yang efeknya -saya sadari- dirasakan oleh orang-orang rendahan seperti saya dan orang-orang di sekitar saya ini. Ya, dibanding menteri, siapalah saya ini? dan lagi, adakah menteri Indonesia di jaman sekarang yang mau nongkrong sendiri (tanpa dikawal patwal dan protokol) di warung pinggir jalan, dan merasakan langsung bagaimana cita rasa orang rendahan menjalani hidupnya?
Subscribe to:
Posts (Atom)






