Hidup yang Ketiga

Pernah membayangkan bagaimana bertemu dengan malaikat maut? Walaupun dalam film-film tertentu beberapa kematian terkesan terhormat, mulia, heroik, dan mengagumkan, -jangankan membayangkan- mendengar cerita tentang bagaimana orang wafat saja rasanya sudah menakutkan. Setidaknya untuk saya. Tetapi mungkin tanpa disadari sebenarnya malaikat kematian itu pernah mendatangi, memandangi wajah saya, dan menunggu detik eksekusi.

Masjid Salman Jatinangor (Masjid al-Jabar)

Dhuha, saya dan Nono menyengajakan diri untuk mampir ke kampus ITB Jatinangor (dulunya kampus Universitas Winaya Mukti) yang konon legendaris karena bangunan tempo dulu disertai cerita mistisnya. Setidaknya itu yang menjadi daya tarik bagi teman saya, sedangkan saya sendiri lebih tertarik untuk mampir ke masjid kampusnya yang katanya sudah dibangun.

Tahan, Jangan Marah Dulu!

Mudah untuk mengatakan, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan. Bukan sulit sih, melainkan kerap keburu terbawa emosi dan tidak sadar untuk segera mengendalikan diri. Saya sering kesal oleh tingkah orang lain, baik yang kenal maupun tidak dikenal. Bisa karena salah, bisa pula karena berbeda jalan mikirnya.

Nenek Penjual Nasi Kuning

Sebutlah namanya Ma Entin, seorang penjual nasi kuning di sebuah gang. Pada suatu pagi yang cerah, Yang Maha Berkehendak mempertemukan saya dengan beliau. Saya yang tengah menuju rumah seorang kawan lama, melihat sebuah gerobak biru bertuliskan Nasi Kuning di kacanya. Tetapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk singgah, melainkan beberapa lodor berisi gorengan yang dirasa pas untuk mengisi perut, ditambah sachet-sachet kopi yang tergantung di pinggirnya.

Sujud Terakhir

Langit masih gelap dan hawanya masih sangat dingin, walaupun cerah. Orang-orang yang shalat di masjid baru saja selesai shalat shubuh berjamaah. Tidak seperti biasanya, telefon rumah berbunyi saat hari masih menyongsong fajar. Ibu pun segera ke ruang tengah untuk menjawab panggilan telefon itu. Rasanya aneh, kok ada gitu ya yang menelfon sepagi ini? Dari ruang tengah, terdengar suara suara ibu, lirih, “Innalillah..”

Bacaan yang Ajaib

Aneh? Iya. Unik? Juga iya. Sejak kecil saya diperkenalkan pada huruf-huruf Qur'an melalui sebuah majalah anak, namanya Aku Anak Saleh. Entah sekarang masih ada, ataukah sudah tidak terbit lagi. Awalnya saya tidak ngeh, dan malas-malasan membacanya. Sampai akhirnya saat saya kelas 2 SD, ibu memanggilkan guru ngaji untuk mengajari kami (anaknya) membaca al-Qur'an sekaligus mengerti isinya. Kami biasa memanggilnya Mang Uwen.

Lilin-Lilin Nurani

Awan sudah tampak gelap, diiringi angin yang menyapu jalan Cijerah. Daun daun yang berserakan pun beterbangan beserta debu-debu dari celah selokan. Beberapa pejalan sampai diam sesaat karena memejamkan matanya agar debu tidak mengotori mata. Ada pula yang menutup hidungnya demi melindungi pernafasan dari udara kotor yang mungkin tak akan tersaring rambut hidung.