Showing posts with label Figur. Show all posts
Showing posts with label Figur. Show all posts

Sejoli #4: Kenal Lebih Dekat

Suatu hari, dia pernah mengungkapkan keinginannya melihat saya mengenakan setelan batik. Mungkin karena dia bosan melihat saya keseringan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, atau entah kenapa. Jadi saat saya menjadi panitia pernikahan seorang sahabat, saya mengajaknya untuk hadir. Bukan untuk menyaksikan hajatan sahabat saya, melainkan untuk melihat saya mengenakan setelan yang tidak biasa: batik.

Anak (Psikologis)

Bekerja di sekolah nyatanya membuat mata saya lebih terbuka tentang identitas anak. Selain karena sebuah kolom status 'Anak Angkat' pada lembar identitas siswa, saya juga dipertemukan dengan anak-anak yang entah sosok orang tuanya ke mana. Ya, sosoknya. Figurnya. Bukan badan dan kulit wajahnya.

Melawan Wajah Sendiri

Suatu hari, ada seorang wanita berusia cukup tua yang datang meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Beliau bercerita tentang kelompok mengaji sebelumnya, yang disebut-sebut tidak membuatnya betah. "Cara berbahasa pengajarnya tak enak. Niatnya benar, tapi caranya ngomongnya bikin kesal." Begitu kata beliau. Atas alasan itulah beliau ingin mendapatkan guru mengaji yang baru. Guru mengaji yang cara mengajarnya lebih enak, dan bisa diterima oleh wanita usia bijak.

Tidak Melengkapi

Kalau Kau ingin berteman, tak perlu menjadi seseorang yang terlihat kuat dan mengagumkan. Datanglah kemari, kita nikmati secangkir teh bersama, sambil bertukar cerita tentang kisah hidup masing-masing.

Rasanya dalam setiap hidup orang, selalu saja ada sosok-sosok yang terbilang hebat. Disebut begitu karena sosok itu membuat orang terkagum-kagum. Bila diingat-ingat, selalu saja ada obrolan tentang kekaguman pada sosok tertentu. Saya pun begitu, tidak jarang merasakan kekaguman akan kehebatan seseorang, sampai terbesit dalam hati bahwa ada rasa ingin menjadi hebat. Semisal kagum pada Andrea Pirlo, dan saya ingin bisa bermain bola sepertinya.

Kakek, Relawan Kebersihan

Di salah satu sudut perempatan, berdirilah sebuah rumah sederhana yang teduh. Teduh karena pepohonan yang rindang di sampingnya, pun karena penghuninya yang ramah dan bersahaja. Bila mentari sedang berada di puncak langit, terkadang pohon Flamboyan yang tegak di samping garasinya menjadi tempat berteduh bagi pengendara motor yang rehat sejenak.

Nenek Penjual Nasi Kuning

Sebutlah namanya Ma Entin, seorang penjual nasi kuning di sebuah gang. Pada suatu pagi yang cerah, Yang Maha Berkehendak mempertemukan saya dengan beliau. Saya yang tengah menuju rumah seorang kawan lama, melihat sebuah gerobak biru bertuliskan Nasi Kuning di kacanya. Tetapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk singgah, melainkan beberapa lodor berisi gorengan yang dirasa pas untuk mengisi perut, ditambah sachet-sachet kopi yang tergantung di pinggirnya.

Sujud Terakhir

Langit masih gelap dan hawanya masih sangat dingin, walaupun cerah. Orang-orang yang shalat di masjid baru saja selesai shalat shubuh berjamaah. Tidak seperti biasanya, telefon rumah berbunyi saat hari masih menyongsong fajar. Ibu pun segera ke ruang tengah untuk menjawab panggilan telefon itu. Rasanya aneh, kok ada gitu ya yang menelfon sepagi ini? Dari ruang tengah, terdengar suara suara ibu, lirih, “Innalillah..”

Hidup Ini, Mau Cari Apa?

Seorang sahabat berbagi cerita tentang pengalaman menjadi member fitnes di kantornya. Ada instruktur yang baru. Awalnya dia merasa asing, selama berfitnes di sana, sebelumnya tak pernah melihat instruktur tersebut. Barulah setelah diajak ngobrol, sahabat saya itu tahu bahwa dia adalah orang baru di fitness center.

Penjual Ayam yang Pemurah

Setiap pagi, biasanya ada penjual ayam yang berkeliling di komplek rumah. Bukan ayam hidup, bukan ayam mentah, juga bukan ayam goreng yang siap disantap, melainkan ayam bumbu yang siap untuk digoreng. Dagangan semacam ini biasanya diminati oleh ibu-ibu yang cukup sibuk untuk memasak, sehingga lebih memilih untuk mencari yang praktis dan awet disimpan.

Yang Biasa-Biasa Saja

2001, saya baru masuk SMA. Pada masa yang sama, di kota kami telepon seluler (ponsel) atau handphone (hape) adalah barang yang belum familiar bagi masyarakat. Terlebih lagi untuk saya yang baru saja lulus SMP. Demikian pula dengan teman-teman sebaya, kebanyakan dari mereka belum familiar. Seringkali saat punya kesempatan memegang hape, kami bertanya-tanya: "Ini cara pakainya gimana?"

Imamlah yang Semestinya Mengerti

Malam yang cerah, tanpa rintik-rintik air maupun langit yang mendung. Pengeras suara di masjid tidak lagi terdengar membahanakan suara imam yang memimpin shalat tarawih. Pertanda di masjid yang hendak saya singgahi itu shalat tarawih berjama'ahnya baru selesai. Karena sudah selesai, saya pun akhirnya memutuskan untuk singgah di sebuah warung yang letaknya tepat di sebelah masjid.

Cerita di Balik "Has Published"

Sebagaimana biasanya penulis cathar (catatan harian), adalah sebuah kebahagiaan apabila bisa berbagi pelajaran hidup yang digambarkan melalui tulisannya. Seperti tulisan "Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta" yang dipublikasikan di dakwatuna.com. Terima kasih.

Sesuci Hati Mbak Nisa

Seingat saya, namanya Nisa. Itu pun sebagaimana saya mendengar bagaimana dia dipanggil oleh teman-temannya. Ups! mungkin lebih tepat bila saya menyebutnya beliau, karena memang Mbak Nisa adalah kakak kelas saya di SMA. Dan tentunya, bukan karena sekedar beliau adalah kakak kelas, melainkan karena saya merasa ada sebuah sisi di mana Mbak yang satu ini sangat pantas untuk saya hormati.

Memberi Contoh, Bukan Sekedar Ceramah

Suatu ketika, DKM kami mengundang seorang pemateri untuk sebuah acara pengajian umum. Sebagaimana biasanya, pemuda selalu mendapat bagian menggarap hal-hal teknis pelaksanaan. Mulai dari membuat undangan kepada warga, menyebar undangan, menjadi perangkat acara, hingga menyambut kedatangan penceramah.

Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta


Selepas maghrib, saya melihatnya sedang menunaikan shalat rawatib. Sepintas tak ada yang tampak istimewa dari penampilannya, namun ada sesuatu darinya yang menyita perhatian: keteguhan hati beliau. Menjelang malam itu pun, saya terpana melihat sosok renta yang kokoh pendiriannya itu. Ya, rapuhnya jasad tak meruntuhkan kokohnya pendirian beliau.