Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta


Selepas maghrib, saya melihatnya sedang menunaikan shalat rawatib. Sepintas tak ada yang tampak istimewa dari penampilannya, namun ada sesuatu darinya yang menyita perhatian: keteguhan hati beliau. Menjelang malam itu pun, saya terpana melihat sosok renta yang kokoh pendiriannya itu. Ya, rapuhnya jasad tak meruntuhkan kokohnya pendirian beliau.

Semangkuk Bubur Kacang, Catatan, dan Hidup


Sebuah akhir pekan, malam, dan kemacetan. Jam 8 malam saya masih dalam perjalanan pulang dari kawasan Rancabadak. Ini memang malam Sabtu, namun bagi kebanyakan orang malam ini sudah termasuk akhir pekan. Siang yang begitu terik menyengat kami yang jam 12 menyinggahi masjid untuk shalat Jum'at, dilanjutkan dengan guyuran hujan sekitar jam setengah tiga, disambung oleh kemacetan di beberapa ruas jalan. Siangnya kepanasan, agak sore kehujanan, dan pulang membawa kepenatan.

Ke Tanah Suci #1: Datang dengan Cinta

Bisa menginjakkan kaki di tanah suci adalah sebuah impian bagi kami para muslim. Terlebih lagi bila menapakkan kaki sebagai jama'ah haji di bulan Dzulhijjah. Keinginan itu sempat saya ucapkan saat masih kecil kelas 3 SD, tahun 1995. Masih teringat jelas, salah satu foto yang dipajang di sebuah ruangan adalah foto ka'bah yang sedang dikelilingi para pentawaf. Ketika itu, saya sempat memandangi foto tersebut, dan berandai-andai menjadi bagian dari pusaran manusia yang arahnya berlawanan jarum jam itu. Cukup larut membayangkan, hingga keharuan menyelimuti batin dan membasahi mata.

Teladan dalam Keheningan

Sebuah siang bolong. Perkuliahan di hari ini selesai jam 10-an. Masih banyak waktu luang untuk hari ini. Berhubung tak ada agenda apa-apa dengan teman kuliah, saya pun akhirnya memilih untuk mampir ke sekre. Istirahat sejenak, ngobrol dengan teman seorganisasi, atau apa lah. Seperti biasanya, kisaran pagi hingga jam 2 ruangan-ruangan sekretariat hampir selalu sepi. Biasanya hanya ada beberapa orang yang mengisi dan berlalu-lalang di dalamnya. Memang demikian adanya. Pagi hingga menjelang ashar biasanya digunakan untuk kepentingan perkuliahan. Bilamana bukan ada jadwal kuliah, umumnya diagendakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Siang menjelang ashar, menjadi permulaan waktu luang di luar kepentingan perkuliahan. Ada yang melanjutkannya untuk nongkrong, main, istirahat, mengaji, aktivitas organisasi, dan lain-lain. Intinya, ada jam tertentu yang menjadi momen di mana orang-orang punya waktu luang.

Kenapa Saya Gak Pernah Mencalonkan Diri Jadi Ketua?

"Tuh, si Adit yang nggak pernah mau jadi ketua mah!" Tak sengaja saya mendengar ada seorang teman yang mengatakan demikian. Bisa dimaklum lah mengapa dia berkomentar begitu, itu karena saat masih aktif kuliah saya tak pernah mencalonkan diri dan menolak saat pernah ditawari jabatan struktural. Saya yang mendengarnya pun lebih memilih untuk sekedar senyum tanpa mengatakan apa-apa. Dia memang benar, saya memang tak pernah mau mencalonkan diri untuk menjadi ketua, dan untuk beberapa situasi saya memang memilih untuk menolak dicalonkan. Lagipula, orang-orang di dekat kami tak membutuhkan jawaban ataupun penjelasan dari saya mengenai alasannya. Memangnya penting untuk langsung dijawab? bahasa tubuh mereka tak mengisyaratkan keinginan untuk tahu alasannya, dan yang pasti mereka tak mempertanyakan "..kenapa?"

Penulis Gembel

Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa tulisan -apapun itu- menggambarkan siapa penulisnya, sebagaimana kita mengkategorisasi bermacam-macam tulisan berdasarkan konten, atau jenis tulisan. Ada sebutan yang lebih spesifik untuk menggambarkan bahwa seseorang adalah penulis. Bila kita melihat sisi jenis tulisan, mungkin yang akan kita temukan adalah sebutan-sebutan semacam: jurnalis, novelis, cerpenis, kolumnis, dll. Bergantung tulisan jenis apa yang biasa ditulisnya. Saat melihat dari segi konten, mungkin yang akan kita temukan adalah sebutan-sebutan: inspirator, motivator, ustadz/ustadzah, imaginator, romantic writer, dll. Bergantung dari konten apa yang menjadi trademark-nya si penulis. Tentang keilmiahan, agama, kuliner, hobi, cinta, biografi, berita, dll.

Perpusku Surgaku


Cemburu sama buku (nasib istri pustakawan). Royal beli buku, nyampulin, dan merawatnya.” *Buneradya dalam buku Catatan Hati yang Cemburu.

Rasanya ingin tertawa saat membaca sebuah kutipan komentar dalam buku Catatan Hati yang Cemburu karya Asma Nadia dan kawan-kawan itu. Sampai segitunya cemburu pada seorang pustakawan yang royal beli buku, nyampulin, plus merawatnya. Selebihnya, sebagai penggila buku mungkin dia juga takkan sungkan merogoh kocek untuk membeli rak sebagai rumah bagi buku-bukunya yang kian bertambah butuh penampungan yang layak. Kenyataannya, itu pula yang terjadi dalam hidup saya di mana dunia perbukuan adalah salah satu hasrat saya. Sepertinya saya tak bisa memungkiri bahwa sumber-sumber bacaan adalah area yang selalu saja membuat kedua mata ini jelalatan. Entah kenapa, saya hanya bisa menjawab: mungkin itulah yang disebut dengan minat. Lebih tepatnya minat baca.