Showing posts with label Dinamika. Show all posts
Showing posts with label Dinamika. Show all posts

Sejoli #3: Perjalanan

Apa yang saya nikmati dari perjalanan? Seringnya saya mendengar orang-orang membicarakan tempat yang mereka tuju. Entah itu tempat wisata, gunung, laut, ataupun perbelanjaan. Kalau membahas trip ke Jogja, yang mereka bahas seputar Malioboro, Tamansari, Keraton, Alun-Alun. Itu mereka.

Anak (Psikologis)

Bekerja di sekolah nyatanya membuat mata saya lebih terbuka tentang identitas anak. Selain karena sebuah kolom status 'Anak Angkat' pada lembar identitas siswa, saya juga dipertemukan dengan anak-anak yang entah sosok orang tuanya ke mana. Ya, sosoknya. Figurnya. Bukan badan dan kulit wajahnya.

Memilih Takdir

"Mulai dari nol ya, Mas."

Begitulah kata Si Mbak sambil tersenyum. Berusaha meyakinkan saya bahwa dia bisa dipercaya dan angkanya benar-benar dari nol. Ya, angka nol sebagai permulaan. Sebagaimana pelajaran matematika di SD, bahwa tiap angka bermula dari nol, dan ukuran-ukuran pun dimulainya dari nol. Seperti di penggaris, timbangan, termometer, dll. Jadi kalau mulai mengukur, awalnya adalah nol.

Bantu Atuh Lah !!!

Bila dipilih untuk memimpin, dan menyadari ada banyak sekali tugas, kira-kira apa yang diinginkan? Kalau saya pribadi, tentunya ingin dibantu. Bukan diberi ucapan "Selamat" karena terpilih sebagai orang terpandang, apalagi dipuji-puji layaknya selebritis yang diburu untuk didapatkan tanda tangan dan foto barengnya. Ya, hanya itu: dibantu. Supaya lancar dan berhasil. Alias tujuannya terpenuhi.

Rahasia Kesehatan

Seseorang mengatakan, “Rezeki tak pernah tertukar. Bila kita bekerja senilai 5 juta, lalu digaji 1 juta, 4 jutanya akan berbentuk rezeki lain. Dan bila kita bekerja senilai 1 juta, lalu bergaji 5 juta, kehidupan ini akan mengambil 4 juta itu dengan cara yang tak terkira.”

Suatu hari, di sebuah bus dalam perjalanan menuju rumah, saya berjumpa dengan seorang penumpang yang ramah. Lelaki beruban yang murah senyum, intonasi suaranya lembut, dan nyaman diajak bercengkrama. Dari curhatannya tentang jadwal pengajian pekanan di Viaduct dan sekolahnya di Pajagalan, obrolan beralih pada sebuah pertanyaan darinya: “Cik, kinten-kinten ceuk Ayi sabaraha yuswa abdi?” (Coba, kira-kira menurut Adek berapa umur saya?).

Nenek Penjual Nasi Kuning

Sebutlah namanya Ma Entin, seorang penjual nasi kuning di sebuah gang. Pada suatu pagi yang cerah, Yang Maha Berkehendak mempertemukan saya dengan beliau. Saya yang tengah menuju rumah seorang kawan lama, melihat sebuah gerobak biru bertuliskan Nasi Kuning di kacanya. Tetapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk singgah, melainkan beberapa lodor berisi gorengan yang dirasa pas untuk mengisi perut, ditambah sachet-sachet kopi yang tergantung di pinggirnya.

Lilin-Lilin Nurani

Awan sudah tampak gelap, diiringi angin yang menyapu jalan Cijerah. Daun daun yang berserakan pun beterbangan beserta debu-debu dari celah selokan. Beberapa pejalan sampai diam sesaat karena memejamkan matanya agar debu tidak mengotori mata. Ada pula yang menutup hidungnya demi melindungi pernafasan dari udara kotor yang mungkin tak akan tersaring rambut hidung.

Keep Contact

Pagi yang cukup melelahkan. Setelah bermain bola di Salman, ngobrol sejenak bersama beberapa teman sambil beristirahat, saya pun segera pulang sebelum matahari semakin tampak berada di puncak langit. Inginnya sih pulang sebelum suhu udara sepanas siang. Maklum, karena saya naik angkot. Jadi panas cuaca akan sangat terasa.

Menangisi Kehilangan

Sebagai pemuda yang aktif di masjid dekat rumah, salah satu aktivitas yang cukup familiar adalah mengurus jenazah. Begitu terdengar kabar bahwa ada salah seorang warga yang meninggal, kami langsung mencari tahu siapa dan di mana kediamannya, kemudian segera mendatangi kediamannya untuk mempersiapkan segala keperluan pengurusan jenazah. Mulai dari menyiapkan area pemandian, air, papan pemandian, dan tempat pengkafanan.

Nasehat di Pagi Hari

Senin. Pagi yang hangat. Mentari sudah tampak sejak jam setengah enam. Langit tampak berwarna biru muda, cerah, dengan putihnya awan. Tiada kelabu mendung, tiada awan gelap pertanda hujan segera datang. Pagi yang cerah mengakhiri sore kemarin yang mendung. Sebagaimana mentari yang cerah mengakhiri sore dan malam yang mendung, sebuah nasehat dari seseorang membuat mendung di hati saya pun sirna.

Komik Strip

Sebuah gambar bisa mempunyai banyak cerita. :D

Makan di restoran mahal

Dinamisnya Hidup

Semenjak pertama kuliah, di tahun 2004, saya sudah meniatkan diri untuk kuliah sambil mencari penghasilan. Tidak mengapa meski serabutan. Kadang ada, kadang sepi. Kira-kira begitulah hidup saya sebagai mahasiswa kumel yang berkutat dengan beberapa macam orderan demi mencari penghasilan. Kalau lagi ada orderan, berarti ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa. Kalau lagi sepi, ya paksakan saja untuk berpuasa.