Showing posts with label Sederhana. Show all posts
Showing posts with label Sederhana. Show all posts

Sejoli #7: Lamaran?

Kami mau serius, jadi langkah selanjutnya adalah melobi orang tua untuk saling kenal dan menerima keluarga satu sama lain. Saya berusaha agar bisa diterima oleh keluarganya, dan dia yang juga berusaha agar bisa diterima oleh ibu dan kakak saya. Lalu sampailah pada bagian yang biasanya membuat gugup, menghadap walinya. Ayah kandung.

Rahasia Kesehatan

Seseorang mengatakan, “Rezeki tak pernah tertukar. Bila kita bekerja senilai 5 juta, lalu digaji 1 juta, 4 jutanya akan berbentuk rezeki lain. Dan bila kita bekerja senilai 1 juta, lalu bergaji 5 juta, kehidupan ini akan mengambil 4 juta itu dengan cara yang tak terkira.”

Suatu hari, di sebuah bus dalam perjalanan menuju rumah, saya berjumpa dengan seorang penumpang yang ramah. Lelaki beruban yang murah senyum, intonasi suaranya lembut, dan nyaman diajak bercengkrama. Dari curhatannya tentang jadwal pengajian pekanan di Viaduct dan sekolahnya di Pajagalan, obrolan beralih pada sebuah pertanyaan darinya: “Cik, kinten-kinten ceuk Ayi sabaraha yuswa abdi?” (Coba, kira-kira menurut Adek berapa umur saya?).

Kakek, Relawan Kebersihan

Di salah satu sudut perempatan, berdirilah sebuah rumah sederhana yang teduh. Teduh karena pepohonan yang rindang di sampingnya, pun karena penghuninya yang ramah dan bersahaja. Bila mentari sedang berada di puncak langit, terkadang pohon Flamboyan yang tegak di samping garasinya menjadi tempat berteduh bagi pengendara motor yang rehat sejenak.

Masjid Salman Jatinangor (Masjid al-Jabar)

Dhuha, saya dan Nono menyengajakan diri untuk mampir ke kampus ITB Jatinangor (dulunya kampus Universitas Winaya Mukti) yang konon legendaris karena bangunan tempo dulu disertai cerita mistisnya. Setidaknya itu yang menjadi daya tarik bagi teman saya, sedangkan saya sendiri lebih tertarik untuk mampir ke masjid kampusnya yang katanya sudah dibangun.

Nenek Penjual Nasi Kuning

Sebutlah namanya Ma Entin, seorang penjual nasi kuning di sebuah gang. Pada suatu pagi yang cerah, Yang Maha Berkehendak mempertemukan saya dengan beliau. Saya yang tengah menuju rumah seorang kawan lama, melihat sebuah gerobak biru bertuliskan Nasi Kuning di kacanya. Tetapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk singgah, melainkan beberapa lodor berisi gorengan yang dirasa pas untuk mengisi perut, ditambah sachet-sachet kopi yang tergantung di pinggirnya.

Kang Iyang

Nama lengkapnya Iyang Darmawan. Seorang lelaki berdarah Sunda yang pada dekade 90-an namanya mulai dikenal masyarakat Bandung dengan panggilan Kang Iyang, sebagai salah satu anggota kelompok lawak parodi bernama Padhyangan Project (disingkat menjadi P-Project). Sejak saat itu pula saya mulai mengetahui namanya, meski saat itu kalah tenar dibanding rekan sesama anggota P-Project, seperti: Deni Chandra, Daan Arya, Izur Muchtar, atau Joe.

Yang Biasa-Biasa Saja

2001, saya baru masuk SMA. Pada masa yang sama, di kota kami telepon seluler (ponsel) atau handphone (hape) adalah barang yang belum familiar bagi masyarakat. Terlebih lagi untuk saya yang baru saja lulus SMP. Demikian pula dengan teman-teman sebaya, kebanyakan dari mereka belum familiar. Seringkali saat punya kesempatan memegang hape, kami bertanya-tanya: "Ini cara pakainya gimana?"

Tarik Mang!

Pagi yang hangat. Benar-benar hangat setelah dua hari sebelumnya dilanda hujan dan suhu yang dingin. Meski kemarin cuacanya cerah seharian, jejalanan di dekat rumah tampak menunjukkan bekas-bekas basah, tanda masih ada sisa-sisa hujan. Atau mungkin Cijerah memang hujan kemarin siang atau sorenya.

Memberi Contoh, Bukan Sekedar Ceramah

Suatu ketika, DKM kami mengundang seorang pemateri untuk sebuah acara pengajian umum. Sebagaimana biasanya, pemuda selalu mendapat bagian menggarap hal-hal teknis pelaksanaan. Mulai dari membuat undangan kepada warga, menyebar undangan, menjadi perangkat acara, hingga menyambut kedatangan penceramah.

Kebaikan itu Sungguh Sederhana

Bukan untuk yang pertama kali. Bahkan untuk yang kesekian kalinya saya menyaksikan seseorang bilang "A standar, A!" (dalam bahasa Indonesia: Kak standar, Kak!) ketika ada motor yang lewat dengan keadaan standar* masih tersanggah. Mumpung pengendara motor belum mengalami kecelakaan akibat lupa memposisikan standar motornya, segera saja diingatkan. Semoga saja si pengendara sadar akan keadaan standar motornya, lalu memposisikan, dan terhindar dari kecelakaan.