Saatnya Berpisah

Berpisah. Siapa yang senang dengan istilah yang satu itu? Rasanya tak ada, kecuali mereka yang dengan sengaja memikirkan perpisahan dengan nasib buruk, kabar duka, atau hal-hal jelek lainnya. Sedangkan saya sendiri, tentu saja tidak menyukainya. Terlebih lagi berpisah dengan orang-orang yang selama ini sudah akrab. Memang tak mengenakkan, namun begitulah kenyataan dalam perjalanan hidup yang mesti dilalui. Yang tersisa hanyalah pesan terakhir: “Keep in touch ya!” Meski jarak terbentang hingga sulit lagi bercengkrama, semoga adanya teknologi dapat melipat jarak hingga jadi lebih singkat. Seperti kata orang terdahulu, “Teknologi membuat jarak menjadi tak berarti.” Semoga saja benar demikian. Karena untuk dapat berkomunikasi secara langsung pun butuh waktu yang tepat.

Nova


Ba’da Isya. Saya sedang menikmati lembar demi lembar sebuah buku, tiba-tiba handphone saya berdering. Ada sebuah SMS, isinya: “Jarkom. Tok tok tok. Assalamu’alaikum. Sahabat, punya kesan pas kenal sama Nova? Kita bikin buku yuk buat Nova! Isinya puisi boleh, cerita boleh.. Pekan depan dikumpulin ya supaya bisa dikadoin ke nova :D” Baiklah. Akhirnya saya putuskan (sesuai dengan ‘ladang’-nya saya): saya akan menulis cerita, sebuah cathar.Saya tidak begitu ingat kapan pertama kali menemukannya. Yang jelas saat itu film silat dubbing tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia lagi populernya. Salah satu bintangnya saat itu adalah Jane Wenas, yang memerankan tokoh putri duyung yang sakti. Karena agak sering menonton film-film beginian, jadi agak familiar dengan wajah-wajah pemeran. Kadang sampai teringat.

Memberi

Memberi ya memberi, hanya itu. Tak perlu ada pengharapan akan balas jasa, tak usah berpikir mereka akan mengapresiasi. (anonim)

Menjadi panitia qurban menjadi pengalaman tersendiri bagi saya yang aktif di sebuah masjid dekat rumah. Bisa terus mendapat ilmu baru, bercengkrama dengan orang-orang, bergaul dengan tetangga, mengembangkan kemampuan, menyalurkan manfaat untuk ilmu yang sudah dipelajari, dan tentu saja suka-duka menjalani program kerja atau kegiatan. Khusus untuk event Idul Adha (qurban), biasanya sepulang dari masjid badan berbau daging dan darah, hujan-hujanan, lelah pikiran, dll. Beraktivitas penuh dari dini hari hingga malam tentu saja berkesan, karena sepulangnya langsung terkapar di kamar.

Pagi Berkabut


Mungkin sudah menjadi sebuah pemandangan yang jarang ditemukan melihat Bandung yang berkabut di pagi hari, sekitar jam 6 sampai jam 7. Terlebih lagi dalam beberapa tahun terakhir pasca 2004 di mana terjadi peningkatan volume kendaraan yang amat pesat. Sebagai catatan, sebelum 2004 jalanan di Bandung tak begitu padat selain di area pusat keramaian seperti Bandung Indah Plaza, Cihampelas, Pasar Baru, dan Dalem Kaum. Bahkan jalan Cipaganti merupakan salah satu jalan yang terbilang cukup sepi sehingga kendaraan bisa dipacu dalam kecepatan yang cukup tinggi.

When She’s Crying

Tahukah kamu?
Semalam tadi aku menangis mengingatmu mengenangmu.
Mungkin hatiku terluka dalam,
atau selalu terlukiskan kenangan kita.
(Audy - Menangis Semalam)

Sepertinya tak salah apabila ada episode atau scene tertentu yang disukai oleh masing-masing orang. Ada yang menyukai bagian pertengkaran dimana dua tokoh mengekspresikan emosinya masing-masing, ada penyuka epik petualangan yang mengeksplor imajinasi, ada penggemar cerita violence yang dipenuhi scene kekerasan, dan lain-lain. Mungkin selera semacam itulah yang mengantarkan ketertarikan orang-orang dalam memilih cerita (bacaan atau film) mereka masing-masing. Secara umum, ada yang menyukai action, drama, thriller, mistery, komedi, sains-fiction, dan lain-lain. Namun ternyata tidak sesederhana itu, terkadang selera menuntun pada hal-hal yang lebih detail. Bagi kita penikmat genre action-petualangan, mungkin film semacam Indiana Jones menjadi genre yang digemari. Sebagaimana bagi kita yang menyukai genre drama-kehidupan, tipikal Dorama Jepang menjadi referensi penting.

Daisy


Daisy-ku yang mungil, apa kabarnya dirimu?

Saya selalu percaya, setiap orang punya caranya masing-masing dalam menikmati hidup. Entah itu dengan menelusuri minatnya, melakukan sesuatu yang menjadi hobi, pergi ke tempat favorit, atau bahkan sekedar menghanyutkan diri dalam suasana yang ada. Begitu pula dengan saya yang mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup. Sebelumnya, saya sendiri mesti mengakui bahwa tak segala hal berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya membosankan, jenuh, tertekan karena lagi di-warning oleh deadline, dan lain-lain. Kadang begini kadang begitu, kadang sulit kadang mudah, kadang lega kadang tertekan, kadang sedih kadang bahagia. Benarlah apa kata iklan: “...karena hidup punya banyak rasa!” atau “..life is never flat!”

Pesawat Kertas

Pesawatku terbang ke bulan...
(Memes - Pesawatku)

Pertengahan caturwulan 2012, salah satu obrolan yang ramai jadi topik pembicaraan adalah “Perahu Kertas”-nya Dee Lestari. Sebenarnya bukan bukunya, namun karena buku tersebut difilmkan. Tampaknya pemfilman buku inilah yang membuat “Perahu Kertas” jadi booming. Setelah laris dengan bukunya, akhirnya para pembaca yang apresiatif pada salah satu karya Dee tersebut disuguhkan dengan bentuk lain penyajian imajinasi si penulis. Visualisasi dalam bentuk gambar bergerak, alias film. Orang-orang berbondong ingin menontonnya. Bahkan kalangan yang bukan pembaca buku pun ikut terhanyut antusiasme pembaca yang penasaran pada versi filmnya. Terbukti, ada teman saya yang menonton film Perahu Kertas bersama kekasihnya. Padahal saya tahu persis bahwa dia bukanlah penikmat buku.