Pantulan Diri

"Mas, selama ini merasa risih ga?"
"Risih kenapa?"
"Risih karena aku nempel terus."

Saya ingat betul saat beberapa pekan silam ditanya demikian. Saya tak tahu pasti kenapa dia berpikir begitu, karena saya juga masih ingat pertemuan-pertemuan awal kami. Dulu sebelum berteman, saya mengenalnya sebagai sosok yang selalu pasang wajah jutek (pada saya). Ya, setiap kami bertemu, dia selalu pasang tampang garangnya.

Bukan Tentang Bicara

Apa yang membuatmu merasa berarti?

Ah, entahlah. Rasanya bagi saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Hanya saja, saya pernah merasa tidak berarti, hingga lebih memilih untuk pergi. Ya, pergi. Pergi ke tempat di mana saya bisa merasa lebih berarti.

Tidak Melengkapi

Kalau Kau ingin berteman, tak perlu menjadi seseorang yang terlihat kuat dan mengagumkan. Datanglah kemari, kita nikmati secangkir teh bersama, sambil bertukar cerita tentang kisah hidup masing-masing.

Rasanya dalam setiap hidup orang, selalu saja ada sosok-sosok yang terbilang hebat. Disebut begitu karena sosok itu membuat orang terkagum-kagum. Bila diingat-ingat, selalu saja ada obrolan tentang kekaguman pada sosok tertentu. Saya pun begitu, tidak jarang merasakan kekaguman akan kehebatan seseorang, sampai terbesit dalam hati bahwa ada rasa ingin menjadi hebat. Semisal kagum pada Andrea Pirlo, dan saya ingin bisa bermain bola sepertinya.

Rahasia Kesehatan

Seseorang mengatakan, “Rezeki tak pernah tertukar. Bila kita bekerja senilai 5 juta, lalu digaji 1 juta, 4 jutanya akan berbentuk rezeki lain. Dan bila kita bekerja senilai 1 juta, lalu bergaji 5 juta, kehidupan ini akan mengambil 4 juta itu dengan cara yang tak terkira.”

Suatu hari, di sebuah bus dalam perjalanan menuju rumah, saya berjumpa dengan seorang penumpang yang ramah. Lelaki beruban yang murah senyum, intonasi suaranya lembut, dan nyaman diajak bercengkrama. Dari curhatannya tentang jadwal pengajian pekanan di Viaduct dan sekolahnya di Pajagalan, obrolan beralih pada sebuah pertanyaan darinya: “Cik, kinten-kinten ceuk Ayi sabaraha yuswa abdi?” (Coba, kira-kira menurut Adek berapa umur saya?).

Kakek, Relawan Kebersihan

Di salah satu sudut perempatan, berdirilah sebuah rumah sederhana yang teduh. Teduh karena pepohonan yang rindang di sampingnya, pun karena penghuninya yang ramah dan bersahaja. Bila mentari sedang berada di puncak langit, terkadang pohon Flamboyan yang tegak di samping garasinya menjadi tempat berteduh bagi pengendara motor yang rehat sejenak.

Hanya Titipan

Ada saat-saat saya merasa tidak enak ketika seseorang mengungkapkan rasa terima kasihnya pada saya. Bukan karena saya ingin menolak atau tidak peduli, tetapi lantaran saya merasa tidak memberikan sesuatu yang begitu berharga atau bernilai. Berharga maksudnya mahal, bernilai maksudnya bermakna. Ya, karena seringkali dalam hati saya berkata "Ah, belinya murah kok" atau "Nggak susah kok dapetnya."

Membeli Senyuman

"Ayo, ayo.. mampir ya ke standku di Festival Animasi." Saya pribadi menyukai animasi dan komik sejak masih SD, dan itu yang menjadi alasan untuk mengunjungi event-event perkomikan dan peranimasian. Seperti Pekan Komik 2004 di ITB, dan Pasar Komik 3 beberapa bulan silam di Braga. Kali ini ada seorang kawan yang menjadi peserta. Jadi, ada hal lain yang membuat saya ingin datang ke event ini: persahabatan.