Showing posts with label Catatan harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan harian. Show all posts

Sejoli #7: Lamaran?

Kami mau serius, jadi langkah selanjutnya adalah melobi orang tua untuk saling kenal dan menerima keluarga satu sama lain. Saya berusaha agar bisa diterima oleh keluarganya, dan dia yang juga berusaha agar bisa diterima oleh ibu dan kakak saya. Lalu sampailah pada bagian yang biasanya membuat gugup, menghadap walinya. Ayah kandung.

Sejoli #6: Godaan

Seperti saat memesan latte, lalu di menu terlihat creme brullee dengan harga yang sama. Pikiran melayang ke sebuah kedai lain yang menyajikan creme brullee dengan racikan terbaik. Mau batalkan pesanan latte dan ganti creme brullee saja?

Sejoli #5: Berjodoh

Target saya di akhir 2014 adalah segera mendapatkan penghasilan, tentunya melalui pekerjaan yang cukup sesuai. Terutama yang membuat saya bisa tetap menemani ibu yang sudah single parent dan memasuki usia pensiun. Nominal gaji bukan masalah utama.

Suatu hari, saya mendapatkan info lowongan mendidik di sebuah sekolah swasta. Alamatnya di sekitaran Ujung Berung ke arah utara, yang setelah saya survey ternyata memerlukan waktu 2 jam dari rumah. Ya sudah, ini jelas tidak sesuai. Terlalu jauh.

Pulang survey, saya mampir ke rumah seorang teman. Namanya Aisyah. Kebetulan searah menuju rumah, sekitar 1,5 km dari sekolah ini ke arah barat, lalu belok kanan di Padasuka. Setelah chat, kabarnya dia ada di rumah. Karena merasa kurang enak kalau datang dengan tangan kosong, saya pun beli cakue mini di pertigaan dekat sungai. Ala kadarnya, hanya senilai 10 ribu.

Saya berkeliling di sekitaran tiang listrik yang Aisyah sebut sebagai patokan gang menuju rumahnya. Sayang, saya tak menemukan rumah yang dia sebutkan ciri-cirinya. Sampai akhirnya dia menjemput ke depan gang dan menemukan saya yang sudah kucel berkeringat. Saat itu matahari begitu teriknya, jadi tak ada adegan saya kehujanan basah kuyup dijemput dia yang membawa payung.

Saya tak lama berakrab ria di rumahnya. Hanya minum teh, makan mie, saling bertukar cerita, dan sempat berpamitan dengan orang tuanya. Kemudian saya pun pulang dengan membawa oleh-oleh berupa pohon yang menarik perhatian saya di sana. Pohon cincau dari halaman depan rumahnya.

***

Beberapa pekan kemudian, saya menemukan iklan lowongan lain. Lokasinya di Cimahi. Tepat di hari yang sama, ada SMS info lowongan di tempat yang sama. Mungkin itu pertanda saya mesti mencoba melamar ke sana. Mengingat statusnya sebagai yayasan pendidikan Islam, pikiran saya melanglang buana ke Baitul Anshor, Darul Hikam, Darul Ilmi, Salman Alfarisi, Al Azhar, hingga Al Irsyad. Setelah mendapatkan alamatnya, saya pun survey ke Cimahi untuk melihat lokasi. Namanya Nur Al Rahman. Saya sempat bingung, karena kalau mengaji umumnya bukan menyebut Nur Al Rahman, melainkan Nurul Rahman. Seperti nama sekolah Nurul Aulia, atau nama masjid di sekolah saya dahulu (Nurul Hidayah). Belakangan saya malah mendengar dari guru-guru dan warga Cimahi, mereka kerap menyebutnya Ar Rohman. Geus beda deui nya.

Saya pun mengabari sahabat yang mengirim SMS info itu. "Man, urang jadi ngalamar ka Nurul Rohman tea." Saya juga mengabari kawan dekat yang pernah jadi guru di Salman, Al Azhar, dan Darul Ilmi. Intinya saya meminta do'a mudah-mudahan lancar dan berkah. Walaupun mereka juga tahu lika-liku sekolah Islam yang jauh dari ideal untuk sebuah sumber penghasilan. Tidak ketinggalan, teman kemping pun saya kabari perihal rencana saya melamar ke Ar Rohman. Kebetulan si teman kemping adalah orang Cimahi yang tinggal masih satu kelurahan dengan Ar Rohman. Pasti dia tahu sekolah itu.

"Saya mau ngelamar. Namanya Nurul Rahman. Doain ya, moga lancar dan berkah. Ya walaupun ga begitu ideal."

Beberapa saat kemudian, saya mendapatkan balasan bertubi. Tadinya saya kira akan mendapatkan balasan "Iya, moga keterima. Cocok ngajar di sana." Ternyata saya mendapat balasan "Iya, semoga lancar dan berkah. Amiin. Bisa cocok ama mas." yang dilanjutkan "Tadinya aku mau menawarkan diri. Nanyain mas mau ga nikah ama aku..."

Tepok jidat. Sejak membaca SMS itu, saya jadi banyak merenung. Apa ini pertanda jodoh? Saat saya baru mengunjungi rumah Aisyah, hadirlah si teman kemping dengan keceplosannya. Berada di posisi ini, saya hanya bisa berdo'a meminta pada yang Maha Kuasa. Setidaknya semoga saya diterima kerja, jadi punya penghasilan sebagai modal berumah tangga. Sejujurnya, saya tak punya modal apa-apa. Bahkan perasaan cinta pun tidak. Saya hanya melihat keduanya berpeluang menjadi teman hidup sampai akhir hayat, namun tak tahu mana yang akan berjodoh.

***

Si teman kemping mengenal Aisyah, dan dia tahu bahwa saya pernah main ke rumah Aisyah. Mereka kadang ngobrol bareng di tongkrongan dekat ITB. Cukup akrab, sampai tahu bahwa ibunya Aisyah memberikan kriteria perihal calon suami. Bahkan dia diminta menjadi MC di pernikahan Aisyah. Saya hadir di pernikahan Aisyah, dan bahagia melihatnya bahagia. Sekaligus merasa lega lantaran do'a saya terjawab, terutama saat Aisyah berfoto dengan MC.

Pulang dari hajatan, si teman kemping bercerita bahwa Aisyah pernah curhat, "Sebenarnya dulu ada teman yang ke rumah. Kayaknya mau pedekate, serius. Cuma waktu itu aku belum ngeh." Dia pasti tahu siapa lelaki yang dimaksud. Saya hanya tersenyum, tak bilang apa-apa. Saat mendengar Aisyah menceritakan itu, batinnya mungkin menjawab: "Iya, yang datang ke rumahmu saat itu adalah lelaki pilihanku."

Do'a saya dijawab lagi. Segala sesuatunya berjalan lancar. Teman-teman kami mendukung, bahkan mereka melihat kami adalah pasangan yang sangat klop. Dia memperkenalkan saya dengan sahabatnya, saya pun memperkenalkannya pada geng saya. Kedua orang tua kami menerima kehadiran calon orang baru di keluarganya. Rasanya tak ada alasan untuk mundur.

Honey moon ke Tamansari, Jogja

Apa pertanda jodoh? Saya hanya bisa menjawab: dilancarkan oleh yang Maha Kuasa. Boleh jadi tidak saling suka, usia jauh, atau punya alasan lain untuk menolak. Tapi kalau sudah benar-benar berniat dan menekuni jalannya, ternyata dilancarkan. Ini tentang membuka hati, bukan keras hati bersikukuh pada orang yang diinginkan.

22 Rabiul Awal 1441

Sejoli #4: Kenal Lebih Dekat

Suatu hari, dia pernah mengungkapkan keinginannya melihat saya mengenakan setelan batik. Mungkin karena dia bosan melihat saya keseringan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, atau entah kenapa. Jadi saat saya menjadi panitia pernikahan seorang sahabat, saya mengajaknya untuk hadir. Bukan untuk menyaksikan hajatan sahabat saya, melainkan untuk melihat saya mengenakan setelan yang tidak biasa: batik.

Sejoli #2: Berteman

Saat kita bisa memandangi lembayung, sambil mereguk secangkir teh hangat dan saling bertukar cerita tentang hidup. Lalu kita bisa tersenyum dan tertawa bersama. Itulah berteman, kata seseorang yang saya kenal.

Sejoli #1: Pertemuan

D'Massive pernah bilang "Bukan aku yang mencarimu, bukan kamu yang mencari aku.." Ya, kira-kira itulah yang saya alami. Sebelum pertemuan, kami tak pernah saling mencari. Demikian pula setelah melihat wajahnya, tak terpikirkan untuk mencarinya. Saya sebatas tahu bahwa dia sering mondar-mandir di area yang sama tempat kami beraktivitas, dan kami berbeda unit. Dia dengan kesehariannya, dan saya dengan keseharian saya. Rasa-rasanya tak ada irisan antara keseharian kami, itulah sebabnya saya tidak terpikir untuk mengenal dia.

Membangun Suasana

Dulu saat masih bujangan, sebagai orang yang ingin merdeka tetapi susah diam, saya ikut aktif di himpunan dengan cara yang tidak biasa. Ikut berkegiatan tanpa mau masuk ke struktural. Itu karena saya beranggapan bisa berkontribusi tanpa harus terikat dengan etika keorganisasian, dan kabar baiknya adalah dosen pun tahu apa yang saya hasilkan. Saat itu bagi saya pribadi ini bukan tentang keanggotaan resmi sebagai pengurus, tapi tentang sinergis sebagai warga yang ingin suasana di kampusnya kondusif.

Kang Iyang

Nama lengkapnya Iyang Darmawan. Seorang lelaki berdarah Sunda yang pada dekade 90-an namanya mulai dikenal masyarakat Bandung dengan panggilan Kang Iyang, sebagai salah satu anggota kelompok lawak parodi bernama Padhyangan Project (disingkat menjadi P-Project). Sejak saat itu pula saya mulai mengetahui namanya, meski saat itu kalah tenar dibanding rekan sesama anggota P-Project, seperti: Deni Chandra, Daan Arya, Izur Muchtar, atau Joe.

Ke Tanah Suci #10: Imam Masjid

Dahulu kala, ada seorang anak yang sangat bandel, hingga ibunnya tak kuasa lagi menahan amarah karena kebandelannya tersebut. Karena marah, sang ibu pun menyuruhnya pergi. "Pergilah. Jadilah imam di Haramain!" Puluhan tahun kemudian, anak itu menjadi ketua imam di Haramain. Kini orang-orang di dunia mengenal suara khas dari lelaki bernama: 'Abdurrahman as-Sudais.

Ke Tanah Suci #9: Keseharian di Mekkah

Sebagai pendatang yang berumrah, pola hidup di Mekkah jelas terasa berbeda dengan di Indonesia. Di Madinah dan Mekkah, kami seolah sangat tahu waktu untuk shalat fardhu. Bukan hanya karena kebiasaan masyarakat yang mendadak ramai berjalan menuju masjid 1 jam sebelum adzan, tetapi juga -salah satunya- karena ada program televisi khusus murattal yang juga berfungsi sebagai timer persiapan adzan.

Ke Tanah Suci #8: Tur Sekitar Mekkah

Menurut agenda, ada tiga tujuan tur selama kami di Mekkah, yaitu: Arafah, Mina, dan Jabal Rahmah. Arafah dan Mina adalah dua tempat khusus yang menjadi bagian dari serangkaian ibadah haji, sehingga tiap tur umrah biasanya mengagendakan untuk ke sana. Sambil berjalan-jalan, sekalian mempersiapkan peserta yang hendak meniatkan diri untuk mendaftar haji.

Ke Tanah Suci #7: Mekkah

Bagi saya, dilihat dari penataan kotanya, Madinah dan Mekkah memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama cukup ramah untuk pejalan kaki. Bisa jadi karena desain penataan kotanya demikian, atau bisa pula karena rekomendasi dari ulama yang berpendapat bahwa berjalan kaki menuju masjid dapat menambah pahala dan menghapus dosa. Ini hanya asumsi.

Ke Tanah Suci #6: Menuju Mekkah

Mekkah adalah sebuah kota yang berbeda dengan kota-kota suci lainnya. Hal ini dikarenakan ada Kabah di dalam Kota Mekkah, sehingga siapapun yang hendak ke Mekkah terkena kewajiban ihram. Bila berangkat dari Madinah, ihram ditandai dengan keberangkatan dari Masjid Bir Ali sebagai titik awal perjalanan ihram.

Ke Tanah Suci #5: Akhir di Madinah

Rombongan kami tidak begitu lama di Madinah, hanya 3 hari 3 malam. Pagi sekali, jam 6, rombongan dijadwalkan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Madinah, seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, dan al-Khandaq. Selain tempat bersejarah, rombongan juga mengunjungi kebun kurma yang katanya gratis mengambil bila sedang musim panen. Tapi sayangnya, saya datang bukan saat musim panen.

Ke Tanah Suci #4: Raudhah

Salah satu sisi lain dari Masjid Nabawi adalah kisah-kisah unik yang mencengangkan dari orang-orang yang pernah mengunjungi masjid nabi ini. Ternyata ada saja kisah-kisah yang tidak terduga, bahkan di luar akal manusia. Di Masjid Nabawi, orang bengal sekalipun bahkan bisa menangis seperti anak kecil. Saya yang sebenarnya tak begitu tahan shalat berlama-lama, kenyataannya di masjid nabi ini bisa berjam-jam berada di dalam untuk sekedar shalat dan berdo'a. Setiap harinya, jama'ah umrah bisa datang ke masjid sekitar jam 1 dan pulang sekitar jam setengah 6.

Mengulang Kenangan: SMP

Berawal dari rencana mengadakan kopdar kecil-kecilan bersama teman-teman alumni SMP angkatan 2001, kami berniat untuk kumpul di rumah salah seorang teman yang letaknya sekitaran Bandara Andir. Rumahnya Ableh. Awalnya ada rasa was-was karena saya sendiri (juga teman) ragu apakah rumahnya bisa cukup untuk menampung mereka yang hadir kopdar. Intinya, ada rasa pesimis yang menyelimuti batin. Hingga akhirnya 1 hari sebelum hari H (Sabtu), dapat kabar bahwa acara kopdarnya diundur dan dijadwal ulang.

Ikut Susah Gara-Gara Dekat

2007 silam, saya terpilih untuk menahkodai P3R (Panitia Pelaksana Program Ramadhan) di sebuah masjid. Alhasil, selama Ramadhan di tahun itu pun saya menjadi orang yang sangat sibuk dengan agenda-agenda keorganisasian. Pun dengan isi pikiran, tidak jauh dari program kerja dan rapat-rapat kordinasi. Daek teu daek lah eta mah.

Sebegitu Mudahnyakah Menyintai?

Saya adalah seseorang yang gemar bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, terutama angkot atau bus. Sebagai penunggang setia kendaraan umum, saya tahu bagaimana saja kebanyakan kendaraan di kota. Mulai dari tingkahnya saat jalan, ngetem, hingga jam-jam angkot atau bus dipenuhi penumpang. Salah satu waktu yang paling biasa dipadati oleh penumpang adalah pagi, tengah siang, dan sore. Jelas saja ramai, itu karena pagi-pagi adalah jamnya orang-orang berangkat kerja atau sekolah, sedangkan siang adalah jamnya anak-anak selesai sekolah atau hendak masuk sekolah, dan sore adalah jam pulang sekolah dan kerja.

Kebaikan itu Sungguh Sederhana

Bukan untuk yang pertama kali. Bahkan untuk yang kesekian kalinya saya menyaksikan seseorang bilang "A standar, A!" (dalam bahasa Indonesia: Kak standar, Kak!) ketika ada motor yang lewat dengan keadaan standar* masih tersanggah. Mumpung pengendara motor belum mengalami kecelakaan akibat lupa memposisikan standar motornya, segera saja diingatkan. Semoga saja si pengendara sadar akan keadaan standar motornya, lalu memposisikan, dan terhindar dari kecelakaan.

Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan!

Sebuah obrolan antara 2 orang...

Keur usaha neangan jodo, yeuh!”
Ceuk urang mah, mun can waktuna nya moal jadi we.”
Eh, da kudu aya usahana atuh nu kitu ge! Lain ngan ukur cicing wae.”
Urang teh geus 9 kali kandas, lain tanpa ngusaha. Matak wani ngomong kitu.”
“Wah... Aslina?”