Sejoli #5: Berjodoh

Target saya di akhir 2014 adalah segera mendapatkan penghasilan, tentunya melalui pekerjaan yang cukup sesuai. Terutama yang membuat saya bisa tetap menemani ibu yang sudah single parent dan memasuki usia pensiun. Nominal gaji bukan masalah utama.

Suatu hari, saya mendapatkan info lowongan mendidik di sebuah sekolah swasta. Alamatnya di sekitaran Ujung Berung ke arah utara, yang setelah saya survey ternyata memerlukan waktu 2 jam dari rumah. Ya sudah, ini jelas tidak sesuai. Terlalu jauh.

Pulang survey, saya mampir ke rumah seorang teman. Namanya Aisyah. Kebetulan searah menuju rumah, sekitar 1,5 km dari sekolah ini ke arah barat, lalu belok kanan di Padasuka. Setelah chat, kabarnya dia ada di rumah. Karena merasa kurang enak kalau datang dengan tangan kosong, saya pun beli cakue mini di pertigaan dekat sungai. Ala kadarnya, hanya senilai 10 ribu.

Saya berkeliling di sekitaran tiang listrik yang Aisyah sebut sebagai patokan gang menuju rumahnya. Sayang, saya tak menemukan rumah yang dia sebutkan ciri-cirinya. Sampai akhirnya dia menjemput ke depan gang dan menemukan saya yang sudah kucel berkeringat. Saat itu matahari begitu teriknya, jadi tak ada adegan saya kehujanan basah kuyup dijemput dia yang membawa payung.

Saya tak lama berakrab ria di rumahnya. Hanya minum teh, makan mie, saling bertukar cerita, dan sempat berpamitan dengan orang tuanya. Kemudian saya pun pulang dengan membawa oleh-oleh berupa pohon yang menarik perhatian saya di sana. Pohon cincau dari halaman depan rumahnya.

***

Beberapa pekan kemudian, saya menemukan iklan lowongan lain. Lokasinya di Cimahi. Tepat di hari yang sama, ada SMS info lowongan di tempat yang sama. Mungkin itu pertanda saya mesti mencoba melamar ke sana. Mengingat statusnya sebagai yayasan pendidikan Islam, pikiran saya melanglang buana ke Baitul Anshor, Darul Hikam, Darul Ilmi, Salman Alfarisi, Al Azhar, hingga Al Irsyad. Setelah mendapatkan alamatnya, saya pun survey ke Cimahi untuk melihat lokasi. Namanya Nur Al Rahman. Saya sempat bingung, karena kalau mengaji umumnya bukan menyebut Nur Al Rahman, melainkan Nurul Rahman. Seperti nama sekolah Nurul Aulia, atau nama masjid di sekolah saya dahulu (Nurul Hidayah). Belakangan saya malah mendengar dari guru-guru dan warga Cimahi, mereka kerap menyebutnya Ar Rohman. Geus beda deui nya.

Saya pun mengabari sahabat yang mengirim SMS info itu. "Man, urang jadi ngalamar ka Nurul Rohman tea." Saya juga mengabari kawan dekat yang pernah jadi guru di Salman, Al Azhar, dan Darul Ilmi. Intinya saya meminta do'a mudah-mudahan lancar dan berkah. Walaupun mereka juga tahu lika-liku sekolah Islam yang jauh dari ideal untuk sebuah sumber penghasilan. Tidak ketinggalan, teman kemping pun saya kabari perihal rencana saya melamar ke Ar Rohman. Kebetulan si teman kemping adalah orang Cimahi yang tinggal masih satu kelurahan dengan Ar Rohman. Pasti dia tahu sekolah itu.

"Saya mau ngelamar. Namanya Nurul Rahman. Doain ya, moga lancar dan berkah. Ya walaupun ga begitu ideal."

Beberapa saat kemudian, saya mendapatkan balasan bertubi. Tadinya saya kira akan mendapatkan balasan "Iya, moga keterima. Cocok ngajar di sana." Ternyata saya mendapat balasan "Iya, semoga lancar dan berkah. Amiin. Bisa cocok ama mas." yang dilanjutkan "Tadinya aku mau menawarkan diri. Nanyain mas mau ga nikah ama aku..."

Tepok jidat. Sejak membaca SMS itu, saya jadi banyak merenung. Apa ini pertanda jodoh? Saat saya baru mengunjungi rumah Aisyah, hadirlah si teman kemping dengan keceplosannya. Berada di posisi ini, saya hanya bisa berdo'a meminta pada yang Maha Kuasa. Setidaknya semoga saya diterima kerja, jadi punya penghasilan sebagai modal berumah tangga. Sejujurnya, saya tak punya modal apa-apa. Bahkan perasaan cinta pun tidak. Saya hanya melihat keduanya berpeluang menjadi teman hidup sampai akhir hayat, namun tak tahu mana yang akan berjodoh.

***

Si teman kemping mengenal Aisyah, dan dia tahu bahwa saya pernah main ke rumah Aisyah. Mereka kadang ngobrol bareng di tongkrongan dekat ITB. Cukup akrab, sampai tahu bahwa ibunya Aisyah memberikan kriteria perihal calon suami. Bahkan dia diminta menjadi MC di pernikahan Aisyah. Saya hadir di pernikahan Aisyah, dan bahagia melihatnya bahagia. Sekaligus merasa lega lantaran do'a saya terjawab, terutama saat Aisyah berfoto dengan MC.

Pulang dari hajatan, si teman kemping bercerita bahwa Aisyah pernah curhat, "Sebenarnya dulu ada teman yang ke rumah. Kayaknya mau pedekate, serius. Cuma waktu itu aku belum ngeh." Dia pasti tahu siapa lelaki yang dimaksud. Saya hanya tersenyum, tak bilang apa-apa. Saat mendengar Aisyah menceritakan itu, batinnya mungkin menjawab: "Iya, yang datang ke rumahmu saat itu adalah lelaki pilihanku."

Do'a saya dijawab lagi. Segala sesuatunya berjalan lancar. Teman-teman kami mendukung, bahkan mereka melihat kami adalah pasangan yang sangat klop. Dia memperkenalkan saya dengan sahabatnya, saya pun memperkenalkannya pada geng saya. Kedua orang tua kami menerima kehadiran calon orang baru di keluarganya. Rasanya tak ada alasan untuk mundur.

Honey moon ke Tamansari, Jogja

Apa pertanda jodoh? Saya hanya bisa menjawab: dilancarkan oleh yang Maha Kuasa. Boleh jadi tidak saling suka, usia jauh, atau punya alasan lain untuk menolak. Tapi kalau sudah benar-benar berniat dan menekuni jalannya, ternyata dilancarkan. Ini tentang membuka hati, bukan keras hati bersikukuh pada orang yang diinginkan.

22 Rabiul Awal 1441

Sejoli #4: Kenal Lebih Dekat

Suatu hari, dia pernah mengungkapkan keinginannya melihat saya mengenakan setelan batik. Mungkin karena dia bosan melihat saya keseringan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, atau entah kenapa. Jadi saat saya menjadi panitia pernikahan seorang sahabat, saya mengajaknya untuk hadir. Bukan untuk menyaksikan hajatan sahabat saya, melainkan untuk melihat saya mengenakan setelan yang tidak biasa: batik.

Sejoli #3: Perjalanan

Apa yang saya nikmati dari perjalanan? Seringnya saya mendengar orang-orang membicarakan tempat yang mereka tuju. Entah itu tempat wisata, gunung, laut, ataupun perbelanjaan. Kalau membahas trip ke Jogja, yang mereka bahas seputar Malioboro, Tamansari, Keraton, Alun-Alun. Itu mereka.

Sejoli #2: Berteman

Saat kita bisa memandangi lembayung, sambil mereguk secangkir teh hangat dan saling bertukar cerita tentang hidup. Lalu kita bisa tersenyum dan tertawa bersama. Itulah berteman, kata seseorang yang saya kenal.

Sejoli #1: Pertemuan

D'Massive pernah bilang "Bukan aku yang mencarimu, bukan kamu yang mencari aku.." Ya, kira-kira itulah yang saya alami. Sebelum pertemuan, kami tak pernah saling mencari. Demikian pula setelah melihat wajahnya, tak terpikirkan untuk mencarinya. Saya sebatas tahu bahwa dia sering mondar-mandir di area yang sama tempat kami beraktivitas, dan kami berbeda unit. Dia dengan kesehariannya, dan saya dengan keseharian saya. Rasa-rasanya tak ada irisan antara keseharian kami, itulah sebabnya saya tidak terpikir untuk mengenal dia.

Membangun Suasana

Dulu saat masih bujangan, sebagai orang yang ingin merdeka tetapi susah diam, saya ikut aktif di himpunan dengan cara yang tidak biasa. Ikut berkegiatan tanpa mau masuk ke struktural. Itu karena saya beranggapan bisa berkontribusi tanpa harus terikat dengan etika keorganisasian, dan kabar baiknya adalah dosen pun tahu apa yang saya hasilkan. Saat itu bagi saya pribadi ini bukan tentang keanggotaan resmi sebagai pengurus, tapi tentang sinergis sebagai warga yang ingin suasana di kampusnya kondusif.

Jogokarian #3: Manajemen Jamaah ep.2 (habis)

Saya membayangkan sebuah alur berpikir dalam merawat komunitas. Mulai dari orang-orang di dalamnya, dan bagaimana agar orang-orang tersebut bisa betah di masjid ini. Begitu saja, sederhana. Namun bila pola berpikir ini bisa diterapkan dengan baik dalam pengelolaan jama'ah, saya kira -sunnatullahnya- akan membuat masjid ini digandrungi oleh 5 klasifikasi yang disebutkan pada tulisan sebelumnya.

Ini tentang 'pendekatan' yang dilakukan manajemen Jogokarian kepada warga.

Mas Krisna (warga Jogokarian) pernah bercerita bahwa dulunya Masjid Jogokarian tidak berada di tempat yang sekarang, tetapi agak masuk daerah jalan yang lebih sempit. Bukan di samping jalan utama kampung. Manajemen masjid berpendapat bahwa itu kurang bagus untuk kejamaahan, kesannya kurang terbuka. Bayangkan saja bila mall terletak di tengah-tengah komplek perumahan, bukan di pinggir jalan raya. Maka dengan segala upaya, masjid berpindah ke tempat yang lebih strategis untuk sebuah kampung. Kades, ketua RW, dan ketua RT berperan penting dalam memindahkan masjid ke tempat yang lebih mudah diakses.

Setelah itu, manajemen mulai menjalankan gagasan berikutnya: pendataan. Ini bagian yang terkenal di blog-blog. Mas Krisna sendiri menyebutnya dengan sensus warga yang bertujuan untuk mendapatkan data-data perihal jama'ah. Hebatnya, data sensus ini lebih lengkap dari sensus penduduknya BPS, sehingga melalui sensus jamaah ini manajemen Jogokarian bisa mengetahui mustahik zakat, demografis, profil warga, dll. Data-data inilah yang kemudian dijadikan sebagai peta da'wah Jogokarian.

Data tersebut kemudian diolah menjadi pengareaan jamaah. Tujuannya untuk penempatan 'utusan' dan program da'wah yang dijalankan. Kabarnya, Ustadz Salim A. Fillah dulunya adalah salah seorang yang ditempatkan di area merah (awam tentang ajaran Islam) agar bisa membina area tersebut. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang awam di daerah tersebut kian tertarik untuk belajar Islam ke Rumah Belajar yang dibuka oleh Ust.Salim. Warga di area merah ini mulai berubah, mereka semakin percaya diri untuk ke masjid.

Selanjutnya, bagaimana membuat jama'ah menjadi senang ke Jogokarian?

Selain karena kemauan warga, Jogokarian memiliki daya tarik lain. Ada tembok yang bisa menjadi tempat selfie, jalur untuk kursi roda, klinik, angkringan, penginapan, sampai tetangga masjid yang merupakan rumah usaha.

Angkringan di Jogokarian*

Saya sendiri sempat mencicipi angkringan yang terkenal dengan gratisannya. Bila sedang beruntung, pengunjung tak perlu membayar jajanan yang dimakan. Dalam sehari, biasanya ada pengunjung yang datang dan jajan, lalu membayar lebih. Ada yang membayar 50 ribu, ada juga yang sampai 200 ribu, padahal hanya jajan senilai 10 ribu. Sisanya dipakai untuk gratis jajan sampai senilai dengan uang kembalian. Tak heran bila angkringan ini tak pernah sepi. Kenangan tiba-tiba mendapat rezeki membuat orang tertarik untuk berkunjung lagi. Setidaknya ke angkringan, namun bila saat adzan masih tetap ngangkring, malu lah!

Keunikan ini membuat Jogokarian bukan hanya menjadi sebuah masjid, tetapi juga sebuah pusat aktivitas sehari-hari.

Selesai di angkringan, saya bertemu dengan seorang tukang pijat. Dia ditangkan dari luar Yogyakarta untuk memijat tamu penginapan yang berasal dari Bogor. Ada 2 orang dari luar Yogyakarta bertemu di tempat ini, itu menunjukkan masjid ini bisa menjadi meeting point. Kiranya kita sama-sama tahu, tempat yang bisa dijadikan meeting point setidaknya harus nyaman untuk lebih dari sekadar tempat singgah.

Ya, nyaman. Akhirnya saya terpikirkan kata "nyaman" sebagai alasan kenapa orang bisa betah di Jogokarian, dan membuat mereka datang kembali. Itulah cara maintenance komunitasnya.

Bagaimana dengan anak-anak? Sebelum iqamah isya, saya menemukan seorang pemuda yang sedang bermain dengan anak-anak di selasar selatan masjid. Mereka terlihat ceria dengan permainan itu (yang biasanya di masjid lain membuat para sepuh terusik karena keributannya). Saat iqamah berkumandang, kakak pengasuh tadi segera memasuki ruangan utama. Siapa sangka, ternyata dialah imam shalat berjamaahnya.

Keceriaan anak-anak di Masjid Jogokarian*

Di Jogokarian, anak-anak dibuat ceria. Wajarlah bila setelah dewasa (seperti generasi Mas Krisna) mereka senang ke masjid. "Di sini (Jogokarian) punya kenangan indah." Begitu katanya.

24 Rajab 1439

*gambar didapat melalui google