Memilih Takdir

"Mulai dari nol ya, Mas."

Begitulah kata Si Mbak sambil tersenyum. Berusaha meyakinkan saya bahwa dia bisa dipercaya dan angkanya benar-benar dari nol. Ya, angka nol sebagai permulaan. Sebagaimana pelajaran matematika di SD, bahwa tiap angka bermula dari nol, dan ukuran-ukuran pun dimulainya dari nol. Seperti di penggaris, timbangan, termometer, dll. Jadi kalau mulai mengukur, awalnya adalah nol.

Itu di matematika, dan entah dari mana sebutan: memulai kembali hidup dari nol. "Udah lah. Yang udah terjadi mah biar aja berlalu. Sekarang kita lihat masa depan aja, ngebangun lagi hidup kita. Mulai dari nol. Tiap orang pernah gagal kok!" Kakak kelas saya pernah mengatakan itu saat saya gagal di Olimpiade Biologi 2003. Sebelumnya juga pernah mendengar yang serupa. "Gagal. Mulai lagi dari awal aja." Gara-gara karya saya sangat jelek dan kertasnya sudah tidak layak digunakan kembali.

Kalau saya menggambar, kemudian banyak menghapus, dan hasilnya jelek, idealnya memang pindah ke kertas yang baru. Itu pilihan cerdas yang sudah tak lagi terbantahkan untuk mendapatkan hasil terbaik yang paling bersih. Selebihnya, sebutan "Mulai dari nol" sering terdengar, sampai-sampai saya kerap mengatakan itu pada diri saya sendiri. Bukan karena terbiasa, tapi karena banyak perlu berdiri dan berlari lagi. Berdiri saja tak cukup, kadang perlu berlari.

Kalau terjatuh, tentunya perlu berdiri dan berlari lagi untuk mengejar bola. Karena langkah pertama dimulai dari tempat berdiri, kalimat "Mulai lagi dari nol" seperti selalu menjadi penyemangat. Ya, karena jatuhnya bukan hanya sekali. Itu di lapangan. Di tempat lain pun serupa. Gagal atau salah? Kalau perlu ya mulai lagi dari nol. Kebanyakan para penyemangat pun bilang begitu. "Mulailah lagi dari nol" seperti jadi obat untuk melupakan kegagalan hidup.

"Tiap orang pernah terjatuh." Katanya sih begitu. Iya sih, tetapi kadang saya juga berpikir bahwa bagaimanapun juga hidup saya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan hidup siapapun. Bahkan dengan saudara sedarah saya sekalipun. Meski kami berasal dari rahim yang sama, toh tahun lahirnya berbeda, sekolahnya tak sama.

Masa lalu disebut-sebut lagi. Diseret-seret kembali saat bertemu masalah baru. Paling lucunya adalah saat orang yang menyemangati "Ayo bangkit lagi. Mulai lagi dari nol. Lupain yang udah lewat!" justru di lain kesempatan malah mengungkit kegagalan dan kesalahan di masa lalu. Benarlah kalau lidah itu tajam, karena sangat efektif untuk meruntuhkan semangat hidup yang dibangun.

"Mulai dari nol" serasa tak lagi bermakna, karena diungkit atau tanpa terungkit, masa lalu saya akan terus mengikuti. Dan saya harusnya menyadari itu. Dulu saya pernah meneguk minuman beralkohol. Tapi apa mau dikata, terima saja kenyataan itu, meski sedang mampir shalat di masjidnya aktivis kampus. Itu masa lalu yang tak dapat saya ingkari. Begitu juga pengalaman melihat denyut malam Stasion Selatan sampai Tegalega, kepulan 234 saat masih berkualitas wahid, dll. Ada cerita panjang di luar tempat suci yang saya bawa ke tempat sujud. Sama panjangnya seperti yang saya bawa saat ingin berdagang secara jujur, atau saat membaca buku.

Btw, kadang saya juga teringat kegagalan menjalin cinta. Hehehehe. Padahal sedang menata diri untuk bisa membuka hubungan baru. Ya, wajah-wajah masa lalu bisa terkilas kembali saat menatap peluang bermasa depan dengan orang baru. Serasa dihantui kegagalan. Seperti kerap dihantui masalah tentang keluarga saat ingin membangun suasana idaman dalam berkeluarga bersama orang baru. Jadinya terbayang-bayang nanti keluarga berantakan. Saya takut gagal, walaupun para motivator banyak bilang "Jangan takut gagal! Coba, coba, terus coba!" Sayangnya, saya berpikir bahwa masa depan bukan dicoba-coba. Perasaan orang lain pun bukan untuk dicoba-coba.

Nolan said that the Bruce's greatest fear is bat. Saya? Mungkin jawabannya adalah pengalaman. Masa lalu yang memberikan bayangan-bayangan kegagalan dan hidup berantakan.

Kenangan membuat saya harus sadar bahwa sampai kapanpun saya tak dapat menghapus masa lalu, yang juga berarti saya tak pernah -dan tak akan pernah- memulai kembali kehidupan saya dari nol. Setelah terjatuh, berdiri, dan berlari lagi bukan berarti tak ada rasa sakit yang harus ditahan. Saya tahu betul rasanya melanjutkan permainan (futsal) setelah jatuh kena tekel. Matematisnya, kalau mulai dari nol, kaki tak terasa sakit. Jadi kalau jatuh dan kakinya sakit, itu sama saja memulai dari angka minus. Therefore, there's no restart from zero. Run is about survive with pain. It's more about dealing with my past.

Saat ada orang yang ingin hidup bersama saya, saatnya untuk berdamai dengan kenangan gagal menjalin hubungan istimewa. Saat bertemu orang baru, saat itu pula saya perlu berdamai dengan masa lalu tentang orang lama. Saat hendak berkeluarga, saat itu juga saya perlu berdamai dengan pengalaman buruk perihal keluarga. Menerima masa lalu, memilih untuk tidak dihantui episode kelam. Bukan sepenuhnya melupakan, tetapi menjadi catatan agar tak terulang.

Kagok edan sakalian !

Ya. Berlari setelah terjatuh akhirnya adalah tentang memilih untuk berkompromi dengan rasa sakit. Menerima orang baru akhirnya adalah tentang memberi kesempatan diri sendiri untuk membangun hubungan yang lebih ideal. Menerima masa depan akhirnya adalah tentang memilih untuk berdamai dengan diri sendiri.

12 Rajab 1437

Bantu Atuh Lah !!!

Bila dipilih untuk memimpin, dan menyadari ada banyak sekali tugas, kira-kira apa yang diinginkan? Kalau saya pribadi, tentunya ingin dibantu. Bukan diberi ucapan "Selamat" karena terpilih sebagai orang terpandang, apalagi dipuji-puji layaknya selebritis yang diburu untuk didapatkan tanda tangan dan foto barengnya. Ya, hanya itu: dibantu. Supaya lancar dan berhasil. Alias tujuannya terpenuhi.

Kopi dan Teh

Saya masih ingat, kapan pertama kali menemukan secangkir kopi. Itu adalah saat bapak dan kakak kedua ngobrol sambil merokok di ruang tengah. Sebagai lelaki perokok, tentu saja rasanya kurang sempurna tanpa ada secangkir kopi. Entah apa yang membuat mereka begitu suka ngopi. Karena penasaran, saya yang masih SD pun mencobanya. Sangat pahit, dan saya tidak suka. Walaupun sudah diberi gula.

Berbeda dengan perkenalanan saya pada teh. Dulu ibu dan bibi hampir selalu membuatkan teh manis sebagai minuman setelah makan. Saking sukanya, teh manis menjadi minuman kesukaan saya saat kecil. Terutama saat SD. Mulai dari segelas teh manis hangat, teh manis dingin, teh botolan, sampai es teh manis. Tanpa peduli apa mereknya, yang penting teh manis. Terlebih lagi saat itu bapak bekerja di kebun teh. Jadi oleh-oleh khasnya adalah teh.

Ada pasang surut dalam hidup. Seperti anak-anak yang berlarian, kemudian terjatuh dan berdarah. Tetapi berlari lagi untuk melanjutkan permainan. Perlu oplosan agar kuat. Ada saatnya cenghar, ada pula saatnya mulai ngantuk. Saya yang (saat SMP) ikut Pramuka, berkenalan lagi dengan minuman yang katanya dapat menunda ngantuk. Minuman yang selalu menjadi temannya tukang begadang. Kopi. Kami yang masih berumur 13-an perlu kopi untuk kerja hingga larut malam.

Unik. Kopi hitam yang saya regut tidak begitu pahit, dan saya mampu menghabiskannya selama begadang. Jadi we mun begadang ngopi deui. Selain untuk begadang, kopi juga menjadi minuman pilihan saat dingin. Itulah kenapa, kopi hampir selalu dibawa saat kemping. Paling tabu, saat SMA saya pernah membawa segelas kopi dari kantin ke kelas. Da keur hujan. Saat kuliah, tentu lebih butuh. Kerjaan lebih banyak, dan lebih sering begadang. Wajar kalau kantin-kantin di kampus selalu sedia kopi.

Rasa-rasanya itu yang membedakan antara kopi dengan teh. Kopi adalah oplosan untuk begadang, sedangkan teh dipercaya dapat memberikan rasa lebih tenang. Tapi tetap saja, kalau nongkrong santai, saya tetap lebih memilih pesan kopi. Mungkin ini yang disebut selera.

Sekarang, lain lagi ceritanya. Kalau dulu selalu perlu gula untuk ditambahkan pada segelas kopi atau teh, sekarang jauh lebih terbiasa dengan versi tanpa gula. Pesan segelas teh tawar, atau kopi pahit. Entah sejak kapan saya mulai suka versi sedikit pemanis. Yang jelas, sejak sadar ibu mengidap diabetes, saya pun mulai mengurangi penggunaan gula. Termasuk untuk kopi.

Gelas gratisan, dan gula nganggur.

Seorang sahabat yang banyak tugas keliling pernah bilang: "Kopi akan lebih terasa kualitasnya kalau gak pake gula." Dan memang begitulah adanya. Baru bisa lebih terasa bedanya antara Aceh, Toraja, Mandailing, dll. Untuk cita rasa, setelah merasakan versi pahit, bisa ditambahkan gula putih, gula merah, atau krimer. Ya, tak selalu gula putih.

Konon, penikmat kopi pahit adalah mereka yang terbiasa dengan kepahitan hidup. Hingga pahitnya kopi seolah tak terasa. Itu pula komentar yang saya dengar saat mereguk segelas Latte tanpa gula, atau secangkir Ule Kareng pahit (kopi Aceh). Ya, itu kata mereka. Padahal mah urangna we nu rentan diabetes. Jadi kudu ngabebelaan teu digulaan.

Perbandingan kopi dengan teh.

Sepahit apapun kopi, nikmati saja. Temukan sendiri cara menikmatinya. Seperti saya mereguknya sambil menonton video klipnya Hyorin yang berjudul "Driving Me Crazy" (OST The Master's Sun).

24 Rabiul Akhir 1437

Cijerah Culinary Night

Rakyat membutuhkan hiburan yang murah dan terjangkau. Memangnya zaman begini ada? Setidaknya di periode kepemimpinan Walikota Bandung saat ini terasa, jawabannya: ada. Yang rakyat butuhkan bukanlah tempat-tempat nongkrong mewah berbayar mahal, cukup hiburan rakyat yang bisa menjadi tempat ngumpul-jajan, dan perbaikan beberapa taman. Taman Alun-Alun (sebagi yang paling fenomenal), menjadi buktinya.

Pantulan Diri

"Mas, selama ini merasa risih ga?"
"Risih kenapa?"
"Risih karena aku nempel terus."

Saya ingat betul saat beberapa pekan silam ditanya demikian. Saya tak tahu pasti kenapa dia berpikir begitu, karena saya juga masih ingat pertemuan-pertemuan awal kami. Dulu sebelum berteman, saya mengenalnya sebagai sosok yang selalu pasang wajah jutek (pada saya). Ya, setiap kami bertemu, dia selalu pasang tampang garangnya.

Bukan Tentang Bicara

Apa yang membuatmu merasa berarti?

Ah, entahlah. Rasanya bagi saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Hanya saja, saya pernah merasa tidak berarti, hingga lebih memilih untuk pergi. Ya, pergi. Pergi ke tempat di mana saya bisa merasa lebih berarti.

Tidak Melengkapi

Kalau Kau ingin berteman, tak perlu menjadi seseorang yang terlihat kuat dan mengagumkan. Datanglah kemari, kita nikmati secangkir teh bersama, sambil bertukar cerita tentang kisah hidup masing-masing.

Rasanya dalam setiap hidup orang, selalu saja ada sosok-sosok yang terbilang hebat. Disebut begitu karena sosok itu membuat orang terkagum-kagum. Bila diingat-ingat, selalu saja ada obrolan tentang kekaguman pada sosok tertentu. Saya pun begitu, tidak jarang merasakan kekaguman akan kehebatan seseorang, sampai terbesit dalam hati bahwa ada rasa ingin menjadi hebat. Semisal kagum pada Andrea Pirlo, dan saya ingin bisa bermain bola sepertinya.