Jogokariyan #1: Kesan Pertama

Hingar-bingar dunia maya membuat saya terngiang nama Jogokariyan, sebuah masjid warga yang barisan shalat shubuhnya penuh. Itu hal yang mengagumkan bagi seorang pemuda ingusan -seperti saya- yang biasa menemukan jumlah barisan shalat shubuh berjamaah hanya kisaran satu sampai dua barisan, itu pun kadang belum penuh. Akhirnya nama Jogokariyan teringat begitu tahu Jogja menjadi tujuan singgah kami yang sedang dalam perjalanan dari Wonogiri menuju Purworejo.

Melawan Wajah Sendiri

Suatu hari, ada seorang wanita berusia cukup tua yang datang meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Beliau bercerita tentang kelompok mengaji sebelumnya, yang disebut-sebut tidak membuatnya betah. "Cara berbahasa pengajarnya tak enak. Niatnya benar, tapi caranya ngomongnya bikin kesal." Begitu kata beliau. Atas alasan itulah beliau ingin mendapatkan guru mengaji yang baru. Guru mengaji yang cara mengajarnya lebih enak, dan bisa diterima oleh wanita usia bijak.

Memilih Takdir

"Mulai dari nol ya, Mas."

Begitulah kata Si Mbak sambil tersenyum. Berusaha meyakinkan saya bahwa dia bisa dipercaya dan angkanya benar-benar dari nol. Ya, angka nol sebagai permulaan. Sebagaimana pelajaran matematika di SD, bahwa tiap angka bermula dari nol, dan ukuran-ukuran pun dimulainya dari nol. Seperti di penggaris, timbangan, termometer, dll. Jadi kalau mulai mengukur, awalnya adalah nol.

Bantu Atuh Lah !!!

Bila dipilih untuk memimpin, dan menyadari ada banyak sekali tugas, kira-kira apa yang diinginkan? Kalau saya pribadi, tentunya ingin dibantu. Bukan diberi ucapan "Selamat" karena terpilih sebagai orang terpandang, apalagi dipuji-puji layaknya selebritis yang diburu untuk didapatkan tanda tangan dan foto barengnya. Ya, hanya itu: dibantu. Supaya lancar dan berhasil. Alias tujuannya terpenuhi.

Kopi dan Teh

Saya masih ingat, kapan pertama kali menemukan secangkir kopi. Itu adalah saat bapak dan kakak kedua ngobrol sambil merokok di ruang tengah. Sebagai lelaki perokok, tentu saja rasanya kurang sempurna tanpa ada secangkir kopi. Entah apa yang membuat mereka begitu suka ngopi. Karena penasaran, saya yang masih SD pun mencobanya. Sangat pahit, dan saya tidak suka. Walaupun sudah diberi gula.