Anak (Psikologis)

Bekerja di sekolah nyatanya membuat mata saya lebih terbuka tentang identitas anak. Selain karena sebuah kolom status 'Anak Angkat' pada lembar identitas siswa, saya juga dipertemukan dengan anak-anak yang entah sosok orang tuanya ke mana. Ya, sosoknya. Figurnya. Bukan badan dan kulit wajahnya.

Jogokarian #2: Manajemen Jamaah

Sepekan sebelum merencanakan ke Jogja, saya sudah bilang pada teman traveling (istri) perihal alasan memilih Jogokarian sebagai tempat persinggahan di Jogja. Iistri saya pun memahami niat itu, dan segera mengontak teman (sesama relawan yang berasal dari Jogokarian) perihal rencana kedatangan kami.

Jogokariyan #1: Kesan Pertama

Hingar-bingar dunia maya membuat saya terngiang nama Jogokariyan, sebuah masjid warga yang barisan shalat shubuhnya penuh. Itu hal yang mengagumkan bagi seorang pemuda ingusan -seperti saya- yang biasa menemukan jumlah barisan shalat shubuh berjamaah hanya kisaran satu sampai dua barisan, itu pun kadang belum penuh. Akhirnya nama Jogokariyan teringat begitu tahu Jogja menjadi tujuan singgah kami yang sedang dalam perjalanan dari Wonogiri menuju Purworejo.

Melawan Wajah Sendiri

Suatu hari, ada seorang wanita berusia cukup tua yang datang meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Beliau bercerita tentang kelompok mengaji sebelumnya, yang disebut-sebut tidak membuatnya betah. "Cara berbahasa pengajarnya tak enak. Niatnya benar, tapi caranya ngomongnya bikin kesal." Begitu kata beliau. Atas alasan itulah beliau ingin mendapatkan guru mengaji yang baru. Guru mengaji yang cara mengajarnya lebih enak, dan bisa diterima oleh wanita usia bijak.