Jogokarian #2: Manajemen Jamaah

Sepekan sebelum merencanakan ke Jogja, saya sudah bilang pada teman traveling (istri) perihal alasan memilih Jogokarian sebagai tempat persinggahan di Jogja. Iistri saya pun memahami niat itu, dan segera mengontak teman (sesama relawan yang berasal dari Jogokarian) perihal rencana kedatangan kami.

Apa yang membuat masjid jami yang satu ini dipandang istimewa? salah satunya (dan yang paling dikenal) adalah bagaimana masjid ini mampu mengelola jamaah sekitarnya sehingga semua shaf terisi penuh saat shalat berjamaah. Terutama di waktu-waktu krusial: isya dan shubuh. Disebut istimewa karena perbandingannya adalah masjid-masjid lain yang isya dan shubuh berjamaahnya hanya tersisi 1 sampai 3 shaf. Saya juga mengetahui upaya-upaya masjid lain dalam memperpenuh shaf, namun belum cukup maksimal. Belum seberhasil Jogokarian.

Selasar Utara sampai terisi jamaah shalat

Sebagai alumni kuliah bidang sosial, saya duduk di samping halaman masjid sambil memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Tujuannya hanya ingin tahu siapa saja yang memenuhi shaf di masjid ini. Sambil menikmati hidangan angkringan yang mangkal di samping timur area Masjid Jogokarian, saya membuat klasifikasi bahwa jamaah Jogokarian terdiri dari: warga dekat masjid, orang-orang yang pulang kerja lalu numpang shalat, musafir yang ingin ke Jogokarian, mahasiswa-mahasiswi yang ikut aktif di Jogokarian, dan wisatawan Jogja (seperti kami).

A. Warga dekat masjid
Sangat mudah untuk membedakan antara warga asli dengan pendatang. Warga asli dekat masjid biasanya berjalan kaki, lalu pulang ke berbagai arah (bukan naik tangga ke arah penginapan Jogokarian). Mereka terlihat mengenakan pakaian santai ala shalat berjamaah. Beberapa dari mereka biasanya berkumpul dahulu untuk ngobrol, sambil menunggu teman pulang.

B. Penumpang shalat
Para pekerja yang baru pulang umumnya memiliki pakaian yang khas: kemeja rapi, bersepatu, membawa tas, berkendaraan. Di angkringan, kami bertemu dengan mas-mas yang baru pulang kerja dan sama-sama menyantap hidangan malam berbayar. Di angkringan ini juga kami sempat bertemu dengan pencari nafkah lain yang didatangkan khusus untuk memberikan layanan pijat kepada jamaah kategori berikutnya.

C. Tamu Jogokarian
Mbah pijat di angkringan tengah menunggu tamu Jogokarian yang berasal dari Bogor. Saya terkejut dengan cerita beliau, karena ternyata tamu tersebut sekeluarga jauh-jauh datang dari Bogor karena ingin berwisata religi di Jogokarian. Sebagai tamu yang sudah lansia, layanan pijat sudah seperti kebutuhannya.

Angkringan Jogokarian

D. Mahasiswa-mahasiswi
Awalnya saya berpikir bahwa jamaah yang berjaket himpunan adalah warga jogokarian yang masih kuliah. Namun saat dhuha, saya kembali menemukan pemakai jaket himpunan, dan mereka berkelompok. Pandangan saya tertuju pada sebuah pintu tempat mereka keluar, yang ternyata adalah klinik (berbasis masjid).

E. Wisatawan
Sudah jelas. Karena kami berdua sebenarnya adalah wisatawan yang sedari awal ingin kencan romantis di Jogja. Jogokarian memiliki penginapan sederhana, cocok bagi kami yang selepas isya berjalan menuju alun-alun dan menikmati suasana.

Selain kelima kategori tersebut, mungkin masih ada kategori lain yang belum terbaca oleh saya. Da aku mah apa atuh?! Segini juga udah uyuhan! Bagi saya pribadi, ini adalah pemetaan yang bisa digunakan untuk menentukan strategi manajemen masjid. Saya teringat, di RW kami ada salah satu warga yang memilih untuk shalat di masjid yang lebih jauh karena dia merasa masjid yang dekat rumahnya dikuasai golongan tertentu. Kira-kira, itulah pentingnya membuat pemetaan jamaah sebelum membuat strategi manajemen (dan akhirnya menyusun-menjalankan program).

Pada catatan ini, saya baru menulis tentang pemetaan jamaah. Jadi, bahasan tentang manajemen jamaah ini akan saya tuntaskan di episode selanjutnya.

13 Zulhijjah 1438

No comments:

Post a Comment