Penjual Ayam yang Pemurah

Setiap pagi, biasanya ada penjual ayam yang berkeliling di komplek rumah. Bukan ayam hidup, bukan ayam mentah, juga bukan ayam goreng yang siap disantap, melainkan ayam bumbu yang siap untuk digoreng. Dagangan semacam ini biasanya diminati oleh ibu-ibu yang cukup sibuk untuk memasak, sehingga lebih memilih untuk mencari yang praktis dan awet disimpan.

Manis dalam Kata, Pahit dalam Amal

Suatu siang, cuaca yang agak mendung, dan jam kuliah yang baru selesai. Jarum pendek pada jam dinding menunjukkan pukul 11, sedangkan jarum panjangnya hampir berpapasan dengan angka 2. Ada jeda yang cukup untuk rehat, bermunajat kepada-Nya, dan mengisi perut, sebelum tepat pukul 13.00 kami kembali punya kewajiban di kelas.

Nasehat di Pagi Hari

Senin. Pagi yang hangat. Mentari sudah tampak sejak jam setengah enam. Langit tampak berwarna biru muda, cerah, dengan putihnya awan. Tiada kelabu mendung, tiada awan gelap pertanda hujan segera datang. Pagi yang cerah mengakhiri sore kemarin yang mendung. Sebagaimana mentari yang cerah mengakhiri sore dan malam yang mendung, sebuah nasehat dari seseorang membuat mendung di hati saya pun sirna.

Ke Tanah Suci #6: Menuju Mekkah

Mekkah adalah sebuah kota yang berbeda dengan kota-kota suci lainnya. Hal ini dikarenakan ada Kabah di dalam Kota Mekkah, sehingga siapapun yang hendak ke Mekkah terkena kewajiban ihram. Bila berangkat dari Madinah, ihram ditandai dengan keberangkatan dari Masjid Bir Ali sebagai titik awal perjalanan ihram.

Watir #2: Menikmati Nasib Naas

Sebagian manusia memang tidak jauh dari hal-hal yang berbau watir.

Tujuh cerita pendek dengan tema cinta dan kewatiran, melekat dengan sisi lain bernama humor. Keduanya dibungkus dalam bahasa ringan dan slang ala warga Sunda dekade 2010-an. Kisah dimulai dari cerita Jefferson si Pedagang Kesing yang jatuh cinta kepada seorang pelanggan yang mirip dengan Kiki Fatmala. Jefferson mengalami banyak hadangan demi mendapatkan si gadis, hingga akhir cerita mereka menikah dan membuka warung nasi di Planet Pluto.

Ke Tanah Suci #5: Akhir di Madinah

Rombongan kami tidak begitu lama di Madinah, hanya 3 hari 3 malam. Pagi sekali, jam 6, rombongan dijadwalkan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Madinah, seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, dan al-Khandaq. Selain tempat bersejarah, rombongan juga mengunjungi kebun kurma yang katanya gratis mengambil bila sedang musim panen. Tapi sayangnya, saya datang bukan saat musim panen.

Ke Tanah Suci #4: Raudhah

Salah satu sisi lain dari Masjid Nabawi adalah kisah-kisah unik yang mencengangkan dari orang-orang yang pernah mengunjungi masjid nabi ini. Ternyata ada saja kisah-kisah yang tidak terduga, bahkan di luar akal manusia. Di Masjid Nabawi, orang bengal sekalipun bahkan bisa menangis seperti anak kecil. Saya yang sebenarnya tak begitu tahan shalat berlama-lama, kenyataannya di masjid nabi ini bisa berjam-jam berada di dalam untuk sekedar shalat dan berdo'a. Setiap harinya, jama'ah umrah bisa datang ke masjid sekitar jam 1 dan pulang sekitar jam setengah 6.

Yang Biasa-Biasa Saja

2001, saya baru masuk SMA. Pada masa yang sama, di kota kami telepon seluler (ponsel) atau handphone (hape) adalah barang yang belum familiar bagi masyarakat. Terlebih lagi untuk saya yang baru saja lulus SMP. Demikian pula dengan teman-teman sebaya, kebanyakan dari mereka belum familiar. Seringkali saat punya kesempatan memegang hape, kami bertanya-tanya: "Ini cara pakainya gimana?"

Curhat, Berterus Terang, dan Pertemanan

"Adiiiiiittt..."
"Yooow.. naon euy?"
"Sini lah! Aku mau curhat, ih."
"Beuli tuh di warung! Teu dagang curhat urang mah."

Tarik Mang!

Pagi yang hangat. Benar-benar hangat setelah dua hari sebelumnya dilanda hujan dan suhu yang dingin. Meski kemarin cuacanya cerah seharian, jejalanan di dekat rumah tampak menunjukkan bekas-bekas basah, tanda masih ada sisa-sisa hujan. Atau mungkin Cijerah memang hujan kemarin siang atau sorenya.

Imamlah yang Semestinya Mengerti

Malam yang cerah, tanpa rintik-rintik air maupun langit yang mendung. Pengeras suara di masjid tidak lagi terdengar membahanakan suara imam yang memimpin shalat tarawih. Pertanda di masjid yang hendak saya singgahi itu shalat tarawih berjama'ahnya baru selesai. Karena sudah selesai, saya pun akhirnya memutuskan untuk singgah di sebuah warung yang letaknya tepat di sebelah masjid.

Neng, Bebersih Bandung Yuk!

Do You love your town?”
Yap, sure.”
Then, do something for it!

Menjelang pagi, tanggal 27 Oktober 2013. Adalah hari Minggu, sebuah hari yang semenjak beberapa tahun terakhir identik dengan aktivitas bersama di Kota Bandung. Mulai dari olahraga bersama, liburan bersama, nongkrong bersama, pengajian bersama, hingga belanja bersama. Bisa dikatakan, Bandung menjadi lebih ramai saat akhir pekan tiba. Beberapa tempat yang menjadi jantung kota seolah lebih berdenyut, yang menandakan bahwa tempat itu lebih hidup.

Cerita di Balik "Has Published"

Sebagaimana biasanya penulis cathar (catatan harian), adalah sebuah kebahagiaan apabila bisa berbagi pelajaran hidup yang digambarkan melalui tulisannya. Seperti tulisan "Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta" yang dipublikasikan di dakwatuna.com. Terima kasih.

When Someone Being Nothing

Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.21, dan langit tampak lebih bersahabat setelah tadi siang mendung dan deras hujan mengguyur Kota Bandung. Cuaca yang masih dingin, hawa yang masih agak lembab, jalanan yang masih basah, dan tentunya udara yang sejuk mengembalikan cita rasa Bandung menjadi seperti saat dekade 90-an. Sejuk. Suasana yang biasa menemani acara ngopi.

Salah Alamat

Langit sudah berwana gelap, meski belum begitu malam. Lampu masjid masih menyala, belum dimatikan, karena di dalam ada beberapa orang yang hendak menyambung shalat maghrib dan isya melalui tadarusan. Sedangkan sisanya, satu per satu melangkah keluar dari masjid menuju rumahnya masing-masing.

Dinamisnya Hidup

Semenjak pertama kuliah, di tahun 2004, saya sudah meniatkan diri untuk kuliah sambil mencari penghasilan. Tidak mengapa meski serabutan. Kadang ada, kadang sepi. Kira-kira begitulah hidup saya sebagai mahasiswa kumel yang berkutat dengan beberapa macam orderan demi mencari penghasilan. Kalau lagi ada orderan, berarti ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa. Kalau lagi sepi, ya paksakan saja untuk berpuasa.

FRUIT BASKET: Manis Pahit Tulusnya Persahabatan

Tohru Honda, seorang gadis SMA yang hidup seorang diri sepeninggal wafat ibunya. Awalnya Tohru hendak tinggal bersama kakeknya, tetapi karena rumah kakeknya tengah direnovasi dan sang kakek menumpang tinggal bersama anak dan menantunya, Tohru pun memilih untuk tinggal sendiri, mandiri, tanpa membebani orang lain.

Sesuci Hati Mbak Nisa

Seingat saya, namanya Nisa. Itu pun sebagaimana saya mendengar bagaimana dia dipanggil oleh teman-temannya. Ups! mungkin lebih tepat bila saya menyebutnya beliau, karena memang Mbak Nisa adalah kakak kelas saya di SMA. Dan tentunya, bukan karena sekedar beliau adalah kakak kelas, melainkan karena saya merasa ada sebuah sisi di mana Mbak yang satu ini sangat pantas untuk saya hormati.

Di Balik Ilmu yang Bermanfaat

Berawal dari April 2012, saya dikaruniai sebuah kesempatan untuk menapaki tanah suci di Jazirah 'Arab sana. Senang? Tentu saja, karena itu adalah salah satu impian saya saat masih kanak-kanak. Di mana saat masih sering ingusan itu saya suka memandangi foto Masjid al-Haram dengan begitu lekat hingga sampai menangis, saking inginnya. Belasan tahun berselang, impian itu dikabulkan. Alhamdulillah.

Mengulang Kenangan: SMP

Berawal dari rencana mengadakan kopdar kecil-kecilan bersama teman-teman alumni SMP angkatan 2001, kami berniat untuk kumpul di rumah salah seorang teman yang letaknya sekitaran Bandara Andir. Rumahnya Ableh. Awalnya ada rasa was-was karena saya sendiri (juga teman) ragu apakah rumahnya bisa cukup untuk menampung mereka yang hadir kopdar. Intinya, ada rasa pesimis yang menyelimuti batin. Hingga akhirnya 1 hari sebelum hari H (Sabtu), dapat kabar bahwa acara kopdarnya diundur dan dijadwal ulang.

Ikut Susah Gara-Gara Dekat

2007 silam, saya terpilih untuk menahkodai P3R (Panitia Pelaksana Program Ramadhan) di sebuah masjid. Alhasil, selama Ramadhan di tahun itu pun saya menjadi orang yang sangat sibuk dengan agenda-agenda keorganisasian. Pun dengan isi pikiran, tidak jauh dari program kerja dan rapat-rapat kordinasi. Daek teu daek lah eta mah.

Sebegitu Mudahnyakah Menyintai?

Saya adalah seseorang yang gemar bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, terutama angkot atau bus. Sebagai penunggang setia kendaraan umum, saya tahu bagaimana saja kebanyakan kendaraan di kota. Mulai dari tingkahnya saat jalan, ngetem, hingga jam-jam angkot atau bus dipenuhi penumpang. Salah satu waktu yang paling biasa dipadati oleh penumpang adalah pagi, tengah siang, dan sore. Jelas saja ramai, itu karena pagi-pagi adalah jamnya orang-orang berangkat kerja atau sekolah, sedangkan siang adalah jamnya anak-anak selesai sekolah atau hendak masuk sekolah, dan sore adalah jam pulang sekolah dan kerja.

Menanyakan Kebahagiaan

"Lama kita nggak ketemu. Gimana kabar?"
"Baik. Iya, udah lama banget. Kamu gimana?"
"Kayak yang kamu lihat sekarang."
"Kayaknya kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang."
"Hmm.."

Memberi Contoh, Bukan Sekedar Ceramah

Suatu ketika, DKM kami mengundang seorang pemateri untuk sebuah acara pengajian umum. Sebagaimana biasanya, pemuda selalu mendapat bagian menggarap hal-hal teknis pelaksanaan. Mulai dari membuat undangan kepada warga, menyebar undangan, menjadi perangkat acara, hingga menyambut kedatangan penceramah.

Kebaikan itu Sungguh Sederhana

Bukan untuk yang pertama kali. Bahkan untuk yang kesekian kalinya saya menyaksikan seseorang bilang "A standar, A!" (dalam bahasa Indonesia: Kak standar, Kak!) ketika ada motor yang lewat dengan keadaan standar* masih tersanggah. Mumpung pengendara motor belum mengalami kecelakaan akibat lupa memposisikan standar motornya, segera saja diingatkan. Semoga saja si pengendara sadar akan keadaan standar motornya, lalu memposisikan, dan terhindar dari kecelakaan.

Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan!

Sebuah obrolan antara 2 orang...

Keur usaha neangan jodo, yeuh!”
Ceuk urang mah, mun can waktuna nya moal jadi we.”
Eh, da kudu aya usahana atuh nu kitu ge! Lain ngan ukur cicing wae.”
Urang teh geus 9 kali kandas, lain tanpa ngusaha. Matak wani ngomong kitu.”
“Wah... Aslina?”

Menghidupkan Hidup

Tersadar saat memperhatikan tingkah beberapa teman yang bisa secara tiba-tiba jadi ceria, ekspresif, dan maceuh. Rasanya ada kesan yang lain saat melihat mereka tiba-tiba begitu. Yang asalnya murung menjadi ceria, yang asalnya pasif menjadi aktif, yang pendiam menjadi maceuh, dan yang datar-datar menjadi ekspresif. Saat-saat begitu, rasanya kehidupan mereka menjadi lebih berdenyut.

Hati Ramah di Balik Wajah Sangar

Saya mulai mengenalnya di tahun 2010, dari putra pertamanya yang belajar mengaji pada saya. Awalnya saya sekedar mengenal sosok Pratama, putra pertamanya sebagai remaja SMP yang ikut aktif meramaikan kegiatan-kegiatan di masjid. Saya tidak begitu ingat secara pasti kapan Pratama ikut nimbrung aktif di kegiatan remaja masjid. Mungkin sekitar 2 tahunan sebelum dia meminta saya jadi guru ngajinya.

Fithrahnya Pemimpin Adalah Melayani

Saat dulu kita sekolah, siapakah pemimpin di kelas? Mudahnya kita jawab saja Ketua Kelas atau Ketua Murid, yang sering kita singkat sebutannya sebagai KM. Sekalian plus Wakil KM, supaya bila KM berhalangan hadir ada Wakil KM yang bisa menggantikan perannya.

Dengarkanlah Dahulu

Apa yang bisa saya lakukan untuk teman? Setidaknya yang bisa saya lakukan adalah mendengarkannya. Apabila saya sedang bokek, atau sedang tak punya hal-hal lain untuk diberikan, setidaknya yang bisa dilakukan adalah menemaninya dan mendengarkan. Dan ternyata, seringkali 'mendengarkan' menjadi episode paling penting dalam membangun hubungan dekat. Tentunya selain berterus terang.

Letak Kemuliaannya si Pengayuh Becak

Suara sirine ambulans menyeruak langit, memberikan tanda kepada sekumpulan orang di sekitarnya bahwa saatnya berangkat telah tiba. Seolah-olah meminta para pengantar untuk turut bersiap mengikuti ambulans mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir yang telah ditentukan oleh keluarga untuk almarhum.

Keluarga Dibangun oleh Cinta

"Pak Dokter, jadi berapa ntuk semua pemeriksaan ini?"
"Ah, kayak ke orang lain aja. Masih keluarga ini kok."
"Jadi?" Tanyanya bingung.
"Udah, nggak usah!"

Malam itu, setelah pulang dari pemeriksaan kandungan istrinya (kakak ipar saya), kakak saya masih bingung dengan yang dikatakan oleh dokter setelah pemeriksaan. Ibu yang mendengarkan cerita dari kakak dan mengenal si dokter pun hanya bisa mengiyakan. Karena memang begitulah Pak Dokter. Bila itu yang diinginkan oleh Pak Dokter, ibu menurut saja.

Gu Family Book

Choi Kang Chi, mahkluk setengah manusia setengah siluman yang berjuang untuk menjadi manusia seutuhnya. Gu Family Book merupakan sebuah drama seri Korea tentang mitologi, politik, kearifan, keluarga, dan cinta. Ceritanya penuh dengan intrik, misteria politik, dan dramatikal cinta.

Ngebubur Bareng Eva Celia

Saya merasa tidak ada sesuatu yang istimewa pada keseharian sebelum tidur. Hidup saya berjalan seperti biasanya, dan aktivitas yang saya kerjakan pun -menurut saya- seperti biasanya: mengerjakan tesis, mengerjakan desain info untuk sebuah event pekanan, berbuka di masjid, masak sop, kemudian istirahat malam.

Begini kronologisnya...

Watir, Sebuah Revolusi Bodoran

Sejak dahulu kala, bangsa Sunda dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang sangat tinggi. Selain memiliki kode etik yang dijunjung tinggi dengan tegas, bangsa ini secara turun-temurun mewariskan budaya lainnya. Seperti halnya bahasa, dialek, dan termasuk hiburan.

Bersilaturahim dengan Mas Nur

Nashrul Amri, ternyata itulah nama asli dan lengkapnya. Saya baru saja mengetahui nama aslinya justru setelah lama lulus dari SMP, tempat beliau bekerja sebagai penjaga sekolah. Dulu, saya mengetahui namanya dari guru-guru yang memanggilnya. "Mas Nur" begitulah beliau biasa dipanggil. Karena panggilan itu pula saya mengira namanya adalah Nurdin, Syahnur, atau apapun itu yang ada tiga huruf (N-U-R) berjejer secara berurutan.

Arti Kehilangan

Anehnya manusia. Seringkali menyadari berharganya sesuatu justru saat sudah kehilangannya. Ketika waktu sudah berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai momen-momen terbaik, ada saja keluhan "Seandainya saja dulu aku bla bla bla". Saat punya ponsel yang harganya cuma 200 ribuan raib di suatu tempat umum, sesak hati bukan kepalang karena ponsel tersebut menyimpan catatan-catatan penting dan nomor kontak orang-orang yang penting. Atau kehilangan orang yang bermakna dalam hidup, tentu saja nyesek di hati. Ketiganya saya pernah mengalami. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis di sini. Saya lebih tertarik untuk 'mengukur' makna di balik kehilangan.

Berteman Tapi tak Berteman

Ini masalah lama, tapi tetap saja mengganjal di hati. Saya tidak dapat memungkiri bahwa selama berteman di dunia maya, selama itu pula saya mengalami kehidupan yang benar-benar fana. Saya bisa saja punya ribuan teman di dunia maya, tapi perlu saya camkan pula, karena itu adalah dunia maya, maka mereka adalah sosok-sosok yang sebatas virtual. Ya, virtual alias fana. Atau bisa juga saya mengatakan bahwa they are not real.

Rahmat dari Seorang Rahmat

Pemuda yang satu itu biasa dipanggil Kang Rahmat. Saya sendiri mengenalnya dengan nama Rahmat Hidayat. Kami ditakdirkan satu tahun belajar di kelas yang sama pada sebuah SMP negeri di tengah Kota Bandung tahun 1998. Sebagaimana siswa lain yang sedang menjalankan masa orientasi sekolah, tidak ada pikiran lain selain berkenalan dengan teman-teman baru dan seputar tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh semua peserta MOS (Masa Orientasi Sekolah). Keberadaan kami sebagai siswa di kelas yang sama (kelas 1-A) mengukuhkan bahwa kami berteman. Pasti berteman, dan harus berteman.

Disorientasi

Saya mau memulai catatan singkat ini dengan sebuah pertanyaan, "Pernahkah di dunia maya Anda malah lebih banyak ngobrol dengan teman-teman baru yang tak pernah Anda kenal di dunia nyata?" Bila Anda pernah atau sedang mengalaminya, kiranya hal semacam itu pula yang saya alami saat ini di sebuah media jejaring sosial. Saya memang punya akun di beberapa media sosial, diantaranya yahoo (milist), blogspot, youtube, wordpress, deviantart, paseban, dan facebook. Yang ingin saya garis bawahi, selalu ada tujuan utama yang menjadi alasan bagi saya untuk membuat akun di media jejaring sosial.

May Memorian of Ayrton Senna

Berawal dari niat mencari sebuah berkas di lemari, tanpa sengaja saya melihat sebuah sebuah foto tentang masa lalu. Masih teringat jelas dalam ingatan, saat itu bapak mengajak saya jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza. Sekedar ingin bermain ke sana sebagai satu dari 2 mall yang ada di Bandung saat itu, ternyata di BIP tengah ada sebuah pameran yang mempertontonkan sebuah kendaraan yang sangat jarang -bahkan tak pernah- ditemui sebelumnya di Indonesia.


Bagi Saya Adalah Pilihan Hidup

Dari sekian banyak orang yang pernah saya jumpai saat menjalankan pekerjaannya, siapa saja yang paling berkesan? Ada beberapa orang, dan saya dapat menyebutkan siapa saja mereka, kapan saya mengenalnya, dan apa yang berkesan dari mereka. Mulai dari Bu Erna, Wa Adud, hingga Bu Tini. Dari kesemua orang-orang yang berkesan itu, pada akhirnya ada satu benang merah yang memperlihatkan bahwa mereka punya kesamaan. Mereka adalah guru semasa saya sekolah.

Ke Tanah Suci #3: Masyarakat Madinah

Setelah menunaikan shalat shubuh, rombongan berpencar. Ada waktu hingga tiba saatnya waktu sarapan pagi jam 6 di hotel. Usai shubuh berjama'ah, daerah sekitar Masjid Nabawi selalu ramai. Itu dikarenakan para PKL yang membuka lapak di halaman dekat masjid. Ada yang menjual pakaian, minyak wangi, kayu siwak, obat suplemen, mainan, dan mushaf. Meski langit masih tampak gelap dan mentari belum cukup terang untuk menyinari aktivitas, hiruk-pikuk sudah terasa.

Hubungan antara Warkop dan Kesetiaan

Entah sejak kapan saya mengenal istilah Warkop, kependekan dari Warung Kopi. Bagi saya, warkop adalah sebuah tempat sederhana dan kecil yang jauh dari kesan mewah. Menu utamanya tentu saja secangkir kopi. Ada juga menu-menu tambahan seperti mie rebus, susu hangat, berbagai macam udud, dan roti bakar. Seperti apapun bentuknya, yang jelas tempat yang satu ini sudah identik dengan lelaki. Itu karena yang biasa mengunjungi tempat ini adalah kaum adam.

Ke Tanah Suci #2: Madinah

Sadar tak ada pemandangan yang bernilai pariwisata, para penumpang pun memilih tidur setelah melaksanakan shalat isya di dalam bus. Saya juga tidur, karena merasa bosan. Lumayan untuk menepis kejenuhan, cukup untuk menghemat energi persiapan shalat di masjid Nabawi. Mesti begitu, karena menurut kabar, kita harus menyiapkan diri sebelum adzan shubuh sekitar 1 jam.

Ngebul di Warung

Suatu siang di daerah Dago seputaran Bangbayang. Tanpa tersadar, ternyata perut saya sudah waktunya diisi. Kosong terasa. Seperti nasehatnya Muhammad (saw.), makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Jadi sebelum perut terasa panas karena gesekan lambung dan asamnya (HCl) bertambah, segeralah makan. Mumpung isi perut belum beraksi, jadi cari makan saja.

Cyber Friends

Beberapa hari yang lalu, ada seorang 'kawan maya' yang unfriend di facebook. Awalnya karena dia kesal saya telah meledeknya, hingga akhirnya dia mengancam akan unfriend bila ngetawain. Saya bilang "Silahkan. Kamu yang add friend, kamu yang unfriend", dan benar saja dia meng-unfriend saya. Saya sih merasa cuek saja, karena merasa tidak dirugikan juga tidak diuntungkan. Sebenarnya, dia tidak bisa sepenuhnya dikatakan 'kawan maya'. Akhir 2012 kemarin dia memperkenalkan diri di facebook sebagai kakak iparnya teman saya waktu kuliah di UPI. Jadi sebenarnya, pertemanan kami adalah di dunia nyata, yang sayangnya hingga saat ini belum pernah bertemu.

Keironisan

26 tahun (hitungan kalender masehi) sudah saya merasakan hidup ini. Selama 26 tahun itu pula saya melewati banyak pengalaman bertemu dan melihat orang-orang dengan beragam watak dan sifatnya. Ada yang masih membekas di benak hingga beberapa diantaranya terngiang-ngiang di pikiran, ada pula yang sudah terbenam bahkan terlupakan. Yang terlupakan seperti tingkah-tingkah saya selama balita, dan yang terngiang-ngiang seperti pengalaman berorganisasi jaman sekolah hingga kuliah. Tentang pengalaman hidup yang masih saja terngiang-ngiang, salah satunya adalah tentang keironisan yang membuat saya bertanya-tanya "Kenapa?". Ya, saya sebut ironis karena bertemu dengan 2 tindakan berbeda mengenai 1 idealisme.

Kiat-Kiat Merawat Buku


Bagi para librarian, book lovers, dan book hunters, buku adalah harta karun yang sangat berharga, sampai ada semacam SOP dalam memperlakukan buku. Bagi beberapa orang, mungkin beberapa hal yang dilakukan terkesan gila dan lebay, namun begitulah cara yang mereka menghargai buku. Bila benar buku adalah gudangnya ilmu, maka penghargaan masyarakat terhadap ilmu dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai buku. Kita bisa melihat seperti apa perpustakaannya.

Keteguhan Hati Seorang Kakek Renta


Selepas maghrib, saya melihatnya sedang menunaikan shalat rawatib. Sepintas tak ada yang tampak istimewa dari penampilannya, namun ada sesuatu darinya yang menyita perhatian: keteguhan hati beliau. Menjelang malam itu pun, saya terpana melihat sosok renta yang kokoh pendiriannya itu. Ya, rapuhnya jasad tak meruntuhkan kokohnya pendirian beliau.

Semangkuk Bubur Kacang, Catatan, dan Hidup


Sebuah akhir pekan, malam, dan kemacetan. Jam 8 malam saya masih dalam perjalanan pulang dari kawasan Rancabadak. Ini memang malam Sabtu, namun bagi kebanyakan orang malam ini sudah termasuk akhir pekan. Siang yang begitu terik menyengat kami yang jam 12 menyinggahi masjid untuk shalat Jum'at, dilanjutkan dengan guyuran hujan sekitar jam setengah tiga, disambung oleh kemacetan di beberapa ruas jalan. Siangnya kepanasan, agak sore kehujanan, dan pulang membawa kepenatan.

Ke Tanah Suci #1: Datang dengan Cinta

Bisa menginjakkan kaki di tanah suci adalah sebuah impian bagi kami para muslim. Terlebih lagi bila menapakkan kaki sebagai jama'ah haji di bulan Dzulhijjah. Keinginan itu sempat saya ucapkan saat masih kecil kelas 3 SD, tahun 1995. Masih teringat jelas, salah satu foto yang dipajang di sebuah ruangan adalah foto ka'bah yang sedang dikelilingi para pentawaf. Ketika itu, saya sempat memandangi foto tersebut, dan berandai-andai menjadi bagian dari pusaran manusia yang arahnya berlawanan jarum jam itu. Cukup larut membayangkan, hingga keharuan menyelimuti batin dan membasahi mata.

Teladan dalam Keheningan

Sebuah siang bolong. Perkuliahan di hari ini selesai jam 10-an. Masih banyak waktu luang untuk hari ini. Berhubung tak ada agenda apa-apa dengan teman kuliah, saya pun akhirnya memilih untuk mampir ke sekre. Istirahat sejenak, ngobrol dengan teman seorganisasi, atau apa lah. Seperti biasanya, kisaran pagi hingga jam 2 ruangan-ruangan sekretariat hampir selalu sepi. Biasanya hanya ada beberapa orang yang mengisi dan berlalu-lalang di dalamnya. Memang demikian adanya. Pagi hingga menjelang ashar biasanya digunakan untuk kepentingan perkuliahan. Bilamana bukan ada jadwal kuliah, umumnya diagendakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Siang menjelang ashar, menjadi permulaan waktu luang di luar kepentingan perkuliahan. Ada yang melanjutkannya untuk nongkrong, main, istirahat, mengaji, aktivitas organisasi, dan lain-lain. Intinya, ada jam tertentu yang menjadi momen di mana orang-orang punya waktu luang.

Kenapa Saya Gak Pernah Mencalonkan Diri Jadi Ketua?

"Tuh, si Adit yang nggak pernah mau jadi ketua mah!" Tak sengaja saya mendengar ada seorang teman yang mengatakan demikian. Bisa dimaklum lah mengapa dia berkomentar begitu, itu karena saat masih aktif kuliah saya tak pernah mencalonkan diri dan menolak saat pernah ditawari jabatan struktural. Saya yang mendengarnya pun lebih memilih untuk sekedar senyum tanpa mengatakan apa-apa. Dia memang benar, saya memang tak pernah mau mencalonkan diri untuk menjadi ketua, dan untuk beberapa situasi saya memang memilih untuk menolak dicalonkan. Lagipula, orang-orang di dekat kami tak membutuhkan jawaban ataupun penjelasan dari saya mengenai alasannya. Memangnya penting untuk langsung dijawab? bahasa tubuh mereka tak mengisyaratkan keinginan untuk tahu alasannya, dan yang pasti mereka tak mempertanyakan "..kenapa?"

Penulis Gembel

Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa tulisan -apapun itu- menggambarkan siapa penulisnya, sebagaimana kita mengkategorisasi bermacam-macam tulisan berdasarkan konten, atau jenis tulisan. Ada sebutan yang lebih spesifik untuk menggambarkan bahwa seseorang adalah penulis. Bila kita melihat sisi jenis tulisan, mungkin yang akan kita temukan adalah sebutan-sebutan semacam: jurnalis, novelis, cerpenis, kolumnis, dll. Bergantung tulisan jenis apa yang biasa ditulisnya. Saat melihat dari segi konten, mungkin yang akan kita temukan adalah sebutan-sebutan: inspirator, motivator, ustadz/ustadzah, imaginator, romantic writer, dll. Bergantung dari konten apa yang menjadi trademark-nya si penulis. Tentang keilmiahan, agama, kuliner, hobi, cinta, biografi, berita, dll.

Perpusku Surgaku


Cemburu sama buku (nasib istri pustakawan). Royal beli buku, nyampulin, dan merawatnya.” *Buneradya dalam buku Catatan Hati yang Cemburu.

Rasanya ingin tertawa saat membaca sebuah kutipan komentar dalam buku Catatan Hati yang Cemburu karya Asma Nadia dan kawan-kawan itu. Sampai segitunya cemburu pada seorang pustakawan yang royal beli buku, nyampulin, plus merawatnya. Selebihnya, sebagai penggila buku mungkin dia juga takkan sungkan merogoh kocek untuk membeli rak sebagai rumah bagi buku-bukunya yang kian bertambah butuh penampungan yang layak. Kenyataannya, itu pula yang terjadi dalam hidup saya di mana dunia perbukuan adalah salah satu hasrat saya. Sepertinya saya tak bisa memungkiri bahwa sumber-sumber bacaan adalah area yang selalu saja membuat kedua mata ini jelalatan. Entah kenapa, saya hanya bisa menjawab: mungkin itulah yang disebut dengan minat. Lebih tepatnya minat baca.

Suatu Sore

Suatu sore. Setelah mendapat kabar tentang yang bersangkutan, saya langsung menyiapkan diri untuk berangkat menuju kediamannya di sebuah kawasan pemukiman yang letaknya di perbatasan Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung. Saya tak begitu memikirkan ini-itu tentang bagaimana kronologisnya, yang penting segera datang -setidaknya- dapat bertemu untuk kali terakhir. Alasan lainnya: mungkin karena peduli pada sosok-sosok di sekitarnya yang kelak membutuhkan pelipur, dan tentu saja karena ada cinta yang membuat diri ini tergerak mendatanginya.

Tanpa diminta menceritakan, kisah itu terkuak dari salah seorang kakak saya. “Tadi pagi sempat mengantar anak-anak ke sekolah. Lalu sepulangnya, setelah mandi diteruskan main tenis meja. Saat di rumah, duduk di depan meja komputer, mulai tampak ada yang aneh. Beliau muntah-muntah, dibarengi keringat deras yang membasahi pakaiannya.” Tak ada yang menyangka bahwa itu adalah hari terakhirnya tentang kisah hidup beliau yang dijemput malaikat di saat yang sebenarnya cukup sehat untuk menjalani hidup. Masih bisa jalan sendiri, bahkan sempat mengantarkan anak ke sekolah dan main tenis meja. Cerita yang menjadi bukti otopsi bahwa beliau cukup sehat  walau penyakit jantung menyelundup di balik kebugarannya. Seperti apapun kisahnya, sebuah kabar baik tersingkap: beliau pergi tanpa banyak menyusahkan, bertempat di rumahnya, di dekat keluarganya, dan tanpa sakit-sakitan (sekarat) berkepanjangan yang menyulitkan dari segi keuangan.

Sederhana Bukan Berarti Miskin

2004. Suatu siang. Saya sedang duduk nyantai di ruang sebuah sekretariat salah satu unit kegiatan di Salman. Adalah sebuah kebiasaan, tiap perjumpaan diawali dengan bersalaman. Sedangkan bila belum saling kenal, maka perjumpaan pertama adalah bersalaman sambil berkenalan. Itu yang terjadi ketika ada seorang -tampaknya senior- yang baru datang ke sekre, tanpa basa-basi langsung menghampiri dan mengajak berkenalan. Tampangnya amat khas bila dibandingkan yang lain. Dia mengenakan kemeja merah buram, dan celana katun hitam. Berkacamata, dengan kumis yang agak tipis membentuk rupa wajah model etnis Tionghoa. "Erikson" Begitulah dia menyebutkan namanya saat menyodorkan tangan untuk bersalaman. Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Mesin di ITB.

Lingkaran Setan

Begitulah saya menyebutnya. Sebuah keadaan dimana saya (bahkan mungkin setiap orang) terjerembab dalam keadaan, situasi, atau faktor-faktor yang mempengaruhi diri ini untuk sulit beranjak dari keadaan yang tak/kurang baik. Ada yang mengartikan lingkaran setan sebagai lingkungan-lingkungan yang memberikan pengaruh buruk. Ada juga yang mengartikannya sebagai lingkungan-lingkungan yang membuat sulit beranjak dari zona nyaman. Intinya, mungkin bisa disimpulkan sebagai variabel-variabel yang mengganggu produktifitas.

Rupanya bukan hanya di dunia nyata saja. Kenyataannya di jejaring sosial pun saya mengalaminya, terutama di Fb. Ada tarikan-tarikan tersendiri yang memenyita perhatian saat saya mengikuti forum-forum tertentu. Entah itu yang di-invite maupun yang saya ikuti karena keinginan sendiri. Namun pada akhirnya sebagai seseorang yang tengah menjalani kehidupan, ada saat-saat di mana perlu lebih fokus pada beberapa hal yang menjadi pilihan hidup. Sehingga jadi lebih penting untuk memilah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi performa saya. Lalu, mengesampingkan faktor-faktor yang tampaknya bisa mengganggu kefokusan. Dalam hal ini, mungkin sudah saatnya untuk mundur dari forum-forum yang bukan 'dunia' saya lagi. Dan tentunya move on dari forum-forum yang meng-invite di luar keinginan saya. Yang sudah bukan 'dunia' saya lagi: mungkin FLP (karena sudah jelas-jelas saya tak lagi aktif Kamisan sejak 2005, dan teman sejawat saya di FLP sudah tak lagi aktif di sana seperti: Adew, Veejay, Lian, Kang Topik, Teh Mia, Teh Gigi), dan UKDM (karena sudah terlalu jelas saya bukan alumni LDK, lagian saya juga bukan ADK). Sedangkan yang meng-invite di luar keinginan: ada aja entah dari mana, tiba-tiba ada group yang invite. Grup inilah-itulah-dll.

Hmmm.. Sepertinya sudah saatnya. Saya mesti keluar! Mengurangi forum-forum (group) yang membuat saya sulit beranjak.


Menjelang Jum'atan
11/01/2013

Jalan-Jalan

Ehehehe... Jalan ya jalan. Naik mobil ya naik mobil. Ngojeg ya ngojeg. Ngangkot ya ngangkot. Numpak bus ya numpak bus. Bagi saya yang namanya jalan-jalan ya jalan kaki. Setidaknya bila ada bagian naik kendaraannya, porsi jalan kaki tetap lebih besar. Ke manapun itu, pokoknya jalan kaki. Entah bertujuan untuk langsung ke suatu tempat, sekedar melihat-lihat, atau luntang-lantung mendinginkan batin. Yang jelas, saya senang jalan kaki. Di manapun itu. Di pinggir kota, tengah keramaian, hiking, menyusuri perkebunan, menepi pinggir pantai, atau ke pelosok-pelosok tempat. Mungkin ini adalah hal yang melelahkan, hingga orang-orang menganggapnya aneh dan kadang mentertawakan: "Seneng amat jalan kaki.." Yang jelas, saya menikmatinya.