Arti Kehilangan

Anehnya manusia. Seringkali menyadari berharganya sesuatu justru saat sudah kehilangannya. Ketika waktu sudah berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai momen-momen terbaik, ada saja keluhan "Seandainya saja dulu aku bla bla bla". Saat punya ponsel yang harganya cuma 200 ribuan raib di suatu tempat umum, sesak hati bukan kepalang karena ponsel tersebut menyimpan catatan-catatan penting dan nomor kontak orang-orang yang penting. Atau kehilangan orang yang bermakna dalam hidup, tentu saja nyesek di hati. Ketiganya saya pernah mengalami. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis di sini. Saya lebih tertarik untuk 'mengukur' makna di balik kehilangan.

Pada tulisan "May Memorian of Ayrton Senna" saya menyertakan foto bareng (alm.) bapak. Itu adalah sebuah foto yang secara khusus diambil dari album milik keluarga, dan saya menyelipkannya ke sebuah pigura untuk dipajang di meja. Disimpan di meja, sengaja supaya saya bisa sering melihatnya. Bukan tanpa alasan saya melakukannya. Dari sekian banyak foto keluarga, foto itulah yang saya rasakan paling menggambarkan kedekatan saya bersama bapak. Intinya, saya merasa itulah foto teristimewa tentang kami.

Saya berpikir bahwa kehilangan adalah perpisahan. Ya perpisahan, sebagaimana saya berpisah dengan masa lalu, ponsel, orang-orang tersayang, dan lain sebagainya. Beberapa diantaranya bikin nyesek hati, sebagian lain terkesan biasa-biasa saja, beberapa lainnya seakan tidak merasa kehilangan. Ketiganya pernah saya rasakan. Anda juga mungkin pernah. Apapun itu, yang jelas kehilangan sesuatu yang bermakna menyisakan bekas yang panjang, senilai dengan berharganya "Sesuatu yang Hilang" itu.

"Almarhum bapak adalah sosok yang sangat berarti, sehingga saya ingin sering mengenangnya. Itulah kenapa saya menyimpannya di tempat yang bisa dengan mudah saya lihat."

Suatu hari saya pernah kehilangan uang 50 ribu. Saat itu saya baru saja membayar kursus seharga 30 ribu, dan uang yang saya gunakan adalah selembar uang 100 ribu. Tanpa saya sadari, uang kembaliannya adalah 20 ribu (padahal seharusnya 70 ribu). Hanya saja saat itu saya sedang pusing-pusingnya dengan tugas penelitian, dan tak punya cukup waktu untuk ke FO dan mengambil 50 ribu yang menjadi hak saya itu. Alhasil, lepaskan saja. Dan sejauh ini (bila bukan untuk tulisan ini) saya tak pernah memikirkannya lagi.

Ini berbeda dengan arsip surat izin penelitian yang raib saat saya hendak mengambil data. Bila diuangkan arsip-arsip tersebut memang tak seberapa, tapi karena saking pentingnya saya harus menebus arsip-arsip itu. Ada kelanjutan ceritanya. Setelah kehilangan, selama beberapa hari saya mondar-mandir mencari beberapa orang untuk kembali membuat surat izin penelitian.

"Bila kita merasa kehilangan, itu berarti kita pernah merasa memilikinya. Bila kita tak merasa kehilangan, itu berarti kita merasa tak pernah memilikinya."

Walau sekedar beberapa lembar surat yang bisa di-print di mana saja, rasanya nyesek pisan di hati. Sedangkan uang 50 ribu itu, saya berpikir uang 50 ribu itu akan bisa lebih bermanfaat di yayasan tempat saya mendaftar kursus tahsin itu. Jadi, biarlah yang 50 ribu itu menjadi infaq yang semoga menggalir sampai di akhirat kelak.

Hal serupa terjadi pula dalam pertemanan. Saat saya lulus sekolah, ada saja nyeseknya. Hehe.. Itu tandanya di sekolah saya pernah memiliki teman sejati, walau hanya beberapa. Selebihnya, saya merasa tidak kehilangan. Kelanjutan ceritanya? Tentu saja ada. Setelah lulus itu kami suka reunian, nongkrong bareng, main kerumahnya, atau menjalankan aktivitas bersama dalam sebuah organisasi. Bohong banget lah kalau teman sejati tak mau bertemu. Makanya kami selalu ingin bertemu, dan sekarang di sela-sela kesibukan selalu coba menyisipkan waktu untuk ngopdar. Meski berpisah sejak lulus, kami berusaha untuk bisa bertemu.

If you always want to meet her/him, it means she/he is someone in your life. If you don't want to meet her/him, it means she/he is nothing. Real friends always be missed.

"Meski hati bisa melepaskan, tetap saja terngiang-ngiang. Itu artinya dia memang berarti."

Akui saja lah. Ada saja kenangan yang terulang dalam memori. Setelah lulus, tetap saja kepikiran saat-saat siang main bola di lapang sekolah, nongkrong di depan kelas, punya kantin langganan yang bisa dihutangi, atau ada siswi di kelas sebelah yang bisa dikecengin. Maybe it was crazy, but i don't want to manipulate my own feelings. Saying like if my feeling is like, saying sad if my feeling is sad.


Itulah kenapa reunian itu terasa penting, dan orang-orang mau bersusah payah datang ke acara reunian. Karena ada beberapa orang yang sangat berarti dan ingin rasanya untuk bertemu dengan mereka. Jauh-jauh dari luar kota hanya untuk bertemu dengan kawan dari masa lalu, padahal setelah bertemu hanya ngobrol. Anda juga mungkin begitu, bakal ngebela-belain datang untuk bertemu dengan mereka yang begitu berarti. Bukan kenapa-kenapa, melainkan karena kita merasa bahwa mereka pantas untuk diperjuangkan untuk tetap ada di dekat kita.

"Bila dia memang berarti, perjuangkanlah untuk tetap ada di dekat kita! Kecuali bila ajal telah memisahkan, doakan dan lakukan kebaikan yang bisa mengalir padanya."

Orang-orang yang bermakna selalu menyisakan cerita yang panjang setelah perpisahan. Setelah perpisahan, akan ada pengulangan, pengulangan, dan pengulangan. Entah itu reunian, atau sekedar pengulangan kenangan. Bagi saya begitulah kenyataannya, bukan tanpa alasan, melainkan kerena pengulangan itulah yang dapat menebus rasa kehilangan dan membayar rasa nyesek di hati. Semakin merasa kehilangan, semakin penting pula untuk bertemu kembali.

Dulu saat baru lulus SMP, nyesek pisan saat menyadari bahwa saya kehilangan beberapa teman yang sangat akrab. Setelah kepergian bapak, saya pernah menangis mengenang beliau. Beberapa pengalaman itu ternyata menyadarkan bahwa perpisahan dengan mereka membuat saya sangat sedih, bahkan mengalami keterpurukan. Buktinya sepeninggal bapak, keadaan keluarga menjadi labil, dan saya merasa tidak feel in dengan perkuliahan. Rasanya, seolah-olah tak ada lagi perkuliahan. Saya tak mau memungkiri bahwa itu mengubah hidup saya.

"Bila Anda sadar bahwa ada rasa sesak di hati, terpuruk, sedih (bahkan hingga menangis), dan mengubah hidup Anda setelah berpisah dengannya, itu artinya mereka adalah orang yang sangat berharga dalam hidup Anda." 




"Bila mereka adalah orang baik-baik (yang memberikan pengaruh baik, bisa membuat Anda terhibur, bisa membuat Anda lebih hidup, dan membuat Anda belajar tentang hidup ini), itu berarti sudah sewajarnya mereka diperjuangkan agar tetap berada di dekat Anda."

Kabar baiknya, saya tahu siapa saja mereka.

23 Sya'ban 1434





No comments:

Post a Comment