Bersilaturahim dengan Mas Nur

Nashrul Amri, ternyata itulah nama asli dan lengkapnya. Saya baru saja mengetahui nama aslinya justru setelah lama lulus dari SMP, tempat beliau bekerja sebagai penjaga sekolah. Dulu, saya mengetahui namanya dari guru-guru yang memanggilnya. "Mas Nur" begitulah beliau biasa dipanggil. Karena panggilan itu pula saya mengira namanya adalah Nurdin, Syahnur, atau apapun itu yang ada tiga huruf (N-U-R) berjejer secara berurutan.

1998 saya masuk SMP, 2001 saya lulus dari SMP, 2013 saya kembali ke sekolah legendaris itu untuk sekedar singgah. Selama 15 tahun itu saya tidak pernah mengetahui nama aslinya Mas Nur. Barulah saat menemukan kantinnya yang sudah berpindah dari ujung Selatan sekolah ke ujung Utara sekolah, saya tahu nama aslinya dari sebuah tulisan yang terpampang di satu sudut kantin. Di sana ada sebuah nama terpampang diikuti nama singkat yang ditulis dalam kurung. Nashrul Amri (Mas Nur).

Mas Nur (kanan), bersama Mas Eno (kiri).

Begitu melihat beliau, langsung saja saya menyapa "Mas.." Sungguh tidak terkira, ternyata Mas Nur masih ingat pada saya. Wajahnya terkejut seketika lalu sumringah melihat saya yang sudah lama tidak dijumpainya. Tentu saja terkesima, karena teman satu angkatan belum tentu mengenal saya. "Ya inget lah.." Begitu katanya. Itu karena dulu saya aktif di Pramuka, jadi sering bertemu.

"Saya bisa menyangka-nyangka, tapi itu belum tentu benar."

Selain salah mengira tentang nama aslinya, tadinya saya mengira bahwa Mas Nur sudah lupa pada wajah saya. Ternyata tidak begitu adanya, Mas Nur masih dapat mengenal wajah saya yang sudah berjenggot, berkumis, dan berjerawat. Acungkan jempol untuk Mas Nur!

Ada yang tetap dan ada yang sudah berubah. Beliau masih Mas Nur yang dulu, sebagaimana saya masih Adit yang seperti dulu. Orangnya bersahabat dan mudah bercerita, dan bila saya bukan sosok Adit yang seperti dulu, mungkin Mas Nur pun akan merasa asing. Di sisi lain, ada juga yang sudah berbeda. Saya sudah kumisan, Mas Nur pindah ke sebelah Utara area sekolah. Sekarang Mas Nur membuka lapak warung di sana, berjualan minuman kemasan, minuman seduh, mie, dan makanan-makanan ringan.

Warungnya masih sedia mie, tapi sekarang sudah sedia kopi dan tidak lagi jualan pisang molen. Akhir 90-an dan awal 2000-an kopi belum populer di kalangan siswa SMP. Juga penting diingat, dulu yang paling terkenal dari lapaknya Mas Nur adalah pisang molennya. Saking terkenalnya itu pisang molen, setengah jam sebelum istirahat beberapa siswa (terutama saya) suka ijin ke WC untuk sekalian ke dapurnya beliau demi memesan molen paling besar. Mumpung haneut keneh, pisahkeun heula! Harganya @250 rupiah. Seantero sekolah mengenal pisang molen racikan Mas Nur, hingga siswa kelas Utara pun rela jauh-jauh ke kantinnya demi mendapatkan molen.

Istri dan anak.

Mas Nur bercerita banyak, sebanyak hal-hal yang saya tanyakan pada beliau. 2013 ini Mas Nur sudah menikah dan dikaruniai seorang putra. Istri dan anaknya tinggal di Jogja, bila musim liburan tiba mereka suka main ke Bandung atau Mas Nur yang pulang kampung (ke Jogja atau kampung asalnya, Purworejo).

Cita rasa kampung Mas Nur.

Kabar lainnya, legenda sekolah kami ternyata masih hidup. Pak Karsa dan Bu Peni yang sudah pensiun ternyata masih ada. Bahkan Pak Karsa masih mengajar di SD Sabang. Ini berbeda dengan kabar burung yang beredar bahwa mereka telah tiada.

"Mengklarifikasi kabar itu penting"

Seandainya Mas Nur tidak bercerita tentang Pak Karsa dan Bu Peni, mungkin saya masih mengira bahwa kedua sosok itu telah tiada. Jadi, bertabayyun itu memang penting.

Kabar lain yang membuat saya tercengang adalah tentang Bu Yen-Yen (Yenyen Heryani, guru PKn sekaligus mantan wali kelas) yang baru menikah beberapa bulan silam. Siapa sangka bahwa dulu pas kami SMP bu guru yang satu itu belum menikah? Eh, ternyata. Beberapa hal terjadi justru di luar dugaan, bahkan terkesan tak logis.

Cerita lainnya: Pak Iing sebenarnya adalah pengajar seni ukir, tapi karena beliau dulu pandai Bahasa Inggris, jadilah beliau ditugaskan untuk mengajar Bahasa Inggris. Pak Iing sudah tidak mengajar, sekarang ditugaskan di Diknas Bandung Barat. Lalu, Bu Silvany sang guru Basa Sunda masih mengajar. Bu Silvany ternyata tinggal di Cimahi, dan saya mendapatkan nomor kontaknya dari Mas Nur. Janten tiasa disumpingan lah!

Tinggal beberapa guru senior yang tersisa, diantaranya Bu Wida (baju hijau).

Apa lagi yang sudah berbeda?

Berita duka bagi keluarga besar DIMAS (Pedestrian March Scout), sekolah ini tidak lagi bergugus depan 03012-03013. Nomor Gudep-nya sudah berganti, jadi saya pun tidak tertarik untuk menengok sekre Pramuka. Warna inisial merah-abu sudah tidak tampak, dan tongkat putih strip biru-merah juga tidak lagi terlihat. Rasanya itu cukup untuk membuat saya cukup terasing di area dekat sanggar Pramuka.

Sisanya adalah penampakan sekolah yang sudah jelas berbeda. Sekarang kantin banyak berjejer di sebelah Utara, taman diperbanyak, gedung baru (lantai 2) dibangun, sanggar Pramuka pindah ke bekas mushala, sanggar Pramuka jadul (samping aula) jadi akses ke WC baru, dan dekat gerbang dibangun pos satpam. Sedangkan pada segi struktural, Pak Dede kumis (perpus) dipindah ke Tata Usaha, dan penggantinya adalah Teh Popon yang dulu dagang gorengan dekat sanggar Pramuka, putrinya Mang Indi penjaga sekolah yang dulu.

Depan aula, tempat biasa nongkrong.

Ah, sayangnya karena saya tidak membawa hape cerdas, jadi beberapa gambar belum bisa diposting di sini. Maaf saja ya pembaca!

2 Ramadhan 1434 H

3 comments:

  1. Postingan watir muncul di timeline FB, dan tersasar disini...
    Pas baca, kayanya kenaaal.. sama Pak Karsa, Bu Peni, Bu yenyen...
    waaaa...nuhun, jadi tau update-an infonya :D

    ReplyDelete
  2. 10 ramadhan 1437 H
    Pa kabar dit damang?
    Mau bookmark aja dulu disini
    Bikin grup silaturahmi barudak dimas dit angkatan bawah aja dulu, kalo ga sibuk hehe

    ReplyDelete
  3. Tanya dong, ini Adit yg mana ya?

    ReplyDelete