Watir, Sebuah Revolusi Bodoran

Sejak dahulu kala, bangsa Sunda dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang sangat tinggi. Selain memiliki kode etik yang dijunjung tinggi dengan tegas, bangsa ini secara turun-temurun mewariskan budaya lainnya. Seperti halnya bahasa, dialek, dan termasuk hiburan.

Sisa-sisa peradaban tersebut sebenarnya masih dapat dibaca secara kasat mata melalui beberapa tanda yang mencirikan tingkahnya bangsa Sunda. Tetua mengatakan, "Bila semua orang Indonesia berkumpul dalam suatu tempat, orang yang akan pertama kali menampakkan giginya adalah orang Sunda." Itu menunjukkan betapa ramah dan bersahabatnya orang Sunda di antara budaya-budaya lain di negeri ini.

Menampakkan gigi bukan hanya berarti senyum lebar, tapi ada satu lagi makna lain: humoris. Murah senyum dan humoris, itu 2 hal yang secara kasat mata menjadi pembeda. Tapi seiring berkembangnya jaman, lambat laun tradisi ini mulai luntur. Bangsa Sunda sendiri mulai lupa akan tradisi yang mencirikan identitas aslinya sebagai bangsa yang humoris.

Mengenai keramahan orang Bandung, itu mungkin sudah sangat lumrah. Silahkan bertanya pada orang-orang yang pernah ke Jakarta, orang Kalimantan, atau pada orang Aceh. Bahkan orang Sunda punya tempat tersendiri di mata orang Aceh.

Sebelumnya, sekitar tahun 1998 saat masuk SMP saya mulai mengenal seperti apa itu perpustakaan dan referensi-referensinya. Salah satu referensi di perpustakaan SMP itu adalah sebuah majalah lawas bernama Cakakak. Sederhananya, Cakakak (bahasa Sunda) bisa diartikan sebagai tertawa atau ngakak. Jadi dari judulnya, bisa ditebak bahwa isinya adalah sekumpulan cerita lucu dengan berbagai macam versi. Ada yang berupa plesetan berita, karikatur, tebak-tebakan, candaan, atau fiksi lucu.

Cakakak sebenarnya hanyalah salah satu media humor bangsa Sunda. Masih ada media lainnya yang digunakan, diantaranya: panggung teater, dan suara. Panggung teatrikal seperti kisah Si Kabayan, Inohong di Bojongrangkong, atau Sasagon. Sedangkan suara, yang eksis saat ini contohnya adalah Cangehgar yang diputar di sebuah radio swasta Bandung. Ada lagi? tentu saja ada, bila sedang ngerumpi orang Sunda suka bercanda atau melucu. Jadi, amat wajar bila SOS dapat memenangkan kontes API yang pertama, kemudian salah satu personelnya Sule direkrut ke OVJ dan acara tv ini melejit pesat dengan rating tinggi sebagai hiburan yang dapat membuat penonton tertawa puas.

Saking kuatnya budaya bodoran dalam bangsa Sunda, hanya dengan mimik wajah Sule yang merupakan pelawak muda bisa sampai membuat seniornya, Nunung tak sanggup menahan tawa. Bahkan pada sebuah episode Nunung sampai -maaf- ngompol.

Kita lanjut! Dalam dunia tulisan, bodoran seolah merupakan bidang sastra tersendiri dalam budaya Sunda. Gaya bertutur humor ala Sunda jelas berbeda dengan humor-humor lain. Tahun 2001 saya pernah membeli sebuah buku berjudul Buntut Oa. Buntut Oa adalah sekumpulan bodoran yang merupakan bodoran-bodoran terbaik dalam majalah Cakakak. Buntut Oa mempunya sebuah judul kecil yang lugas: Aoseun Bangsa Sunda nu Rumaos Teu Acan Maot. Itu bermakna bahwa bodoran adalah bagian yang melekat pada jati diri bangsa Sunda.

Cakakak dan Buntut Oa adalah dua bacaan sastra bodoran tingkat tinggi. Bahasa yang digunakan oleh keduanya pun adalah Basa Sunda tetua yang sudah jarang digunakan di kehidupan jaman sekarang. Seperti yang dikatakan (alm.) Bapak saat dulu pernah bilang di Cianjur, "Kamu gak akan ngerti ama bahasa itu." Kenyataannya saya memang tak tahu bahasa macam apa itu, tapi setelah membaca Cakakak dan Buntut Oa saya mulai mengenal bahasa itu dari istilah-istilah Sunda Tua yang digunakan dalam sastra bodoran ini.

12 tahun berlalu setelah saya membeli Buntut Oa. Pada 2013 ini terbit sebuah buku berjudul Watir yang merupakan kumpulan penuturan dari situsnya Infowatir. Isinya serupa dengan Buntut Oa, yaitu bodoran.

Watir (sampul depan)

Membaca kedua buku tersebut, ada perbedaan yang jelas terasa. Tidak perlu jauh sampai tamat, dari judul dan cerita pertama saja sudah terlihat. Buku Watir lebih mengeksplorasi kehidupan era lebay jaman sekarang melalui cerita-cerita seputar anak muda. Bahasa yang digunakannya pun jelas berbeda, Watir dominan menggunakan bahasa Indonesia yang dipadukan dengan beberapa istilah bahasa Sunda.

"Salah satu hal paling memalukan dalam hidup adalah tikait di pintu masuk BIP." (Watir).

Terlepas dari segi kebahasaan dan tema cerita, buku Watir tetap sakti dalam membuat pembacanya tertawa. Watir pisan pokona mah lah! Meski cita rasanya berbeda, secara tersirat Watir menunjukkan bahwa di era 2013 ini bangsa Sunda belum sepenuhnya kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang humoris. Kabar baik itu, Lur!

Jaman bisa berubah, hingga gaya hidup kita pun perubah. Tapi sebisa mungkin jati diri kita tidak ikut berubah. Seperti buku Watir ini yang berusaha mempertahankan jati diri bangsa Sunda sebagai bangsa yang humoris.

6 Ramadhan 1434

No comments:

Post a Comment