When Someone Being Nothing

Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.21, dan langit tampak lebih bersahabat setelah tadi siang mendung dan deras hujan mengguyur Kota Bandung. Cuaca yang masih dingin, hawa yang masih agak lembab, jalanan yang masih basah, dan tentunya udara yang sejuk mengembalikan cita rasa Bandung menjadi seperti saat dekade 90-an. Sejuk. Suasana yang biasa menemani acara ngopi.

Saya menggunakan momen ini untuk bertemu dengan seorang kawan lama, tepatnya teman SMP, namanya Dicki. Saat akhir pekan tiba, teman saya yang satu ini biasanya menjaga sebuah lapak dagang di jalan Cihampelas. Bisnis kaos.

Sekian lama saya tidak mampir ke rumahnya, selama itu pula saya lupa dengan keluarganya. Ada yang berubah, dan ada yang masih seperti dulu. Usia mereka sudah bertambah, tetapi mereka masih seperti yang dulu pernah saya kenal.

"Pak, masih ingat? Ini Adit." Kata Dicki pada bapaknya.
"Adit, yang di mana?" Tanya bapaknya.
"Itu, temen SMP yang dulu suka ke rumah."
"Oh, iya iya..."

Lama tidak berjumpa, malah saya sudah lupa wajahnya. Tetapi kawan lama saya itu menceritakan kembali tentang pertemanan kami saat dulu sekolah bersama. Hingga akhirnya Dicki mengungkapkan kebahagiaannya memiliki seorang teman yang sekolah hingga S-2.

"Nah, ini satu-satunya temen Dicki yang S-2, Pak."
"Oh, gitu. Bagus atuh sekolah yang tinggi."

Saya terkejut dengan ungkapannya yang begitu. Terang saja terkejut, karena saya tahu betul bahwa teman sekelasnya Dicki ada yang sudah menyelesaikan S-2 dan menjadi asisten manajer. Kiranya dia yang lebih dulu bergelar Master itu lebih membanggakan, terlebih lagi bila melihat jabatan di kantornya. Tetapi Dicki beranggapan lain.

"Ah, nggak. Dengan dia tuh udah nggak pernah saling kontak lagi. Diajak nge-chat juga dia nggak ngebales."

Dua tahun mereka bersama dalam satu kelas. Namun pertemanannya seolah tidak membekas. Saya sendiri yang pernah setahun satu kelas dengan Dicki, tetapi masih dianggap teman. Jadi, ternyata pertemanan itu tidak ditentukan oleh seberapa lama bersama.

Saya sebenarnya masih mau menyebut mereka yang kenal saat sekolah sebagai teman, tetapi apa yang dikatakan Dicki tidak salah juga. Sebutannya saja yang "teman", tetapi bila ngobrol saja tak pernah lagi, apalah artinya?

Taken from Daily Health

Seperti dulu saat kuliah. Ada seorang teman kuliah yang suka cuek (pada saya). Entah kenapa. Maka saya pun mencuekinya. Kami saling kenal, tetapi saling cuek. Bahkan bila berpapasan, rasanya sampai ogah untuk sekedar menyapa. Dia pun tak melirik ke arah saya, tiada kontak pandangan. Seolah-olah, di jalan tempat kami berpapasan itu tidak ada orang yang saya kenal sebagai teman.

Rasanya, antara iya berteman dan bukan berteman.

21 Dzulhijjah 1434

No comments:

Post a Comment