Yang Biasa-Biasa Saja

2001, saya baru masuk SMA. Pada masa yang sama, di kota kami telepon seluler (ponsel) atau handphone (hape) adalah barang yang belum familiar bagi masyarakat. Terlebih lagi untuk saya yang baru saja lulus SMP. Demikian pula dengan teman-teman sebaya, kebanyakan dari mereka belum familiar. Seringkali saat punya kesempatan memegang hape, kami bertanya-tanya: "Ini cara pakainya gimana?"

Tidak banyak anak sekolahan yang punya hape. Kalaupun ada yang punya, mereka adalah anak-anaknya kalangan hartawan. Tetapi itu pun tidak banyak. Jumlahnya masih bisa dihitung jari. Di kelas saya, hanya ada 4 teman yang memiliki hape, itu pun yang saya ketahui. Selebihnya adalah kami yang menyimpan lembaran kumpulan nomor telepon di saku dompet.

Hape beginian harganya masih >500 ribu

Sebut saja namanya Bayu, salah seorang teman sekelas yang sebenarnya mempunyai hape. Saya sebut 'sebenarnya' karena selama di sekolah Bayu tidak pernah terlihat seperti siswa yang mempunyai hape, berbeda dengan siswa lain yang terang-terangan memperlihatkan hapenya.

Tahun 2001, di sekolah saya itu hape masih dianggap barang mewah. Harga sebuah ponsel monokrom bisa mencapai 1 juta. Terang saja itu barang mewah bagi anak sekolahan yang uang saku hariannya hanya kisaran 1000-2000 rupiah. Penting diingat, harga gorengan masih @250 rupiah. Beli gorengan 1000 rupiah sudah cukup mengenyangkan. Sisanya biasa dibelikan air mineral atau ditabung.

Sepintas melihat penampilannya, tidak terpikir bahwa Bayu adalah seorang anak hartawan. Terang saja demikian, sepatunya hanya sepatu seharga 20 ribuan yang bisa dijumpai di pasar, dan motornya hanya Astrea Grand. Sementara siswa lain banyak yang motornya lebih bagus dibanding Bayu. Ada yang pakai Ninja, RX King, F1ZR, atau Satria.

Astrea Grand

Berkunjung ke rumahnya pun bisa membuat tercengang, karena ternyata rumahnya Bayu lumayan besar dan luas. Bangunannya 3 lantai dengan desain lantai utama berada di lantai 2. Lantai 1 nya adalah semacam ruang bawah tanah. bukan hanya itu, di belakang rumahnya pun ada saung yang jaraknya sekitar 300 meter dari bangunan rumahnya. Bila dilihat dari lokasinya, bangunan tersebut bisa disebut rumah, tetapi juga layak untuk disebut vila.

Perlu diingat juga, di Bandung tidak banyak orang yang mempunyai vila. Hanya para hartawan yang mempunyai vila. Juragan tanah yang ada di Bandung pun umumnya punya rumah di kampung, bukan vila.

Dipikir-pikir, sebenarnya Bayu bisa saja tampil layaknya anak hartawan. Tetapi saat motornya diganti, Bayu lebih memilih hanya Shogun hitam yang masih kategori motor bebek biasa. Tetapi begitulah dia dengan pilihannya. Pilihan yang bahkan membuat perasaannya ditolak oleh gadis pujaan hati yang akhirnya memilih siswa lain. Konon kabarnya, siswa lain yang dipilih si gadis itu motornya adalah Satria yang harganya 5 jutaan lebih mahal dari motornya Bayu.

Satria

Bayangkan saja. Tidak mau pamer kelebihan diri, tetapi pada akhirnya ditolak karena kesederhanaannya.

Setahun setelah lulus dari SMA, saya sempat bertemu lagi dengan Bayu. Dia masih Bayu yang seperti dulu, bahkan motornya masih Shogun hitam yang dulu. Jauh dari kesan mewah. Semoga kelak dia berjodoh dengan wanita impian yang menerimanya bukan karena motor keren atau kemewahan. Tetaplah menjadi orang yang sederhana, Lur!

18 Muharram 1435

2 comments:

  1. asa emang ngaranna bayu brooo...
    asa teu kudu di inisialkeun..
    ahahahhahhaa,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. da teu diinisialkeun, bisi jadi bener sial... :P

      Delete