Kiat-Kiat Merawat Buku


Bagi para librarian, book lovers, dan book hunters, buku adalah harta karun yang sangat berharga, sampai ada semacam SOP dalam memperlakukan buku. Bagi beberapa orang, mungkin beberapa hal yang dilakukan terkesan gila dan lebay, namun begitulah cara yang mereka menghargai buku. Bila benar buku adalah gudangnya ilmu, maka penghargaan masyarakat terhadap ilmu dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai buku. Kita bisa melihat seperti apa perpustakaannya.

Bila kita mau melihat bagaimana penghargaan negeri ini terhadap ilmu, lihat saja perpustakaannya. Terutama perpustakaan pemerintah. Kalau ada perpustakaan swasta, kampus, dan taman bacaan, silahkan bandingkan. Lalu silahkan simpulkan sendiri.

Buku juga adalah warisan, karena memang kerap dijadikan warisan turun-temurun dari generasi ke generasi. Meski sekarang sudah tahun 2013, bukan berarti buku-buku jadul tidak layak baca. Lantas, bagaimana generasi kita di dekade 2010-an bisa masih menikmati buku-buku jadul? Sederhananya, itu adalah salah satu pekerjaan para pustakawan yang tersebar di seluruh dunia. Mereka punya SOP dalam merawat buku. Perlu diingat, karena cara -yang disebut gila dan lebay- mereka dalam memperlakukan buku itulah kita masih bisa menikmati buku-buku jadul.

Berikut ini ada beberapa kiat dalam merawat buku.

1. Bersyukur
Sadari bahwa buku itu jumlahnya terbatas. Tidak semua orang dapat menemukannya dan sanggup memilikinya. Book hunter bahkan bisa berkeliling kota dan bolos kerja demi mendapatkan buku. Perjuangan dalam mendapatkan buku bisa membuat kita merasa sayang pada buku yang sudah dibeli itu. Merawat dan menghargai buku bukan sekadar tentang bagaimana buku jadi awet, tapi juga sebuah bentuk rasa syukur. Book lovers bisa uring-uringan, sedih, atau ngambek bila bukunya sampai rusak atau kebasahan.

2. Segera beri sampul
Bila buku sudah didapat, segera sampul. Biasanya para book lovers menggunakan sampul berupa plastik mika yang tipis. Hal ini dilakukan supaya cover buku terlindungi, sehingga tinta cetak cover tidak luntur karena gesekan-gesekan. Fungsi lainnya adalah untuk melindungi cover dari air.

3. Hindari air
Musuh utama buku adalah air, karena air punya sifat yang dapat merusak kertas. Jadi bila kena air, buku bisa merekah dan keriting. Meski disetrika, tetap tidak akan kembali seperti semula. Idealnya buku disimpan secara teratur di rak, namun saat belum selesai dibaca biasanya disimpan geletakan di meja, kursi, kasur, atau lantai. Hal tersebut tidak masalah, tapi tetap hindarkan buku dari air. Tak lupa, perhatikan tangan saat memegang buku. Usahakan tangan dalam keadaan kering saat memegang buku.

4. Perhatikan tempat menyimpan
Tetap diingat, musuh utama buku adalah air. Beberapa tempat disinyalir punya kadar air udara yang cukup tinggi, dengan kata lain ada tempat-tempat tertentu yang sifatnya lembab. Tentunya tempat yang demikian tidak cocok untuk dijadikan sebagai ‘area’ menyimpan buku. Buku yang disimpan di tempat lembab potensial jamuran. Efeknya, buku jadi merekah dan bisa keriting plus ada bercak-bercak jamurnya. Jamurnya bisa dibersihkan dengan cara dilap, tapi berwaspadalah karena konon jamur tersebut tidak baik bila terhirup sampai masuk ke paru-paru.

5. Bersihkan dari debu
Lambat laun, buku yang disimpan akan berdebu. Baiknya beberapa hari sekali dibersihkan. Selain karena sebagian dari iman, buku yang bersih pun akan enak dilihat. Semakin lama tak dibersihkan, kotornya bisa jadi semakin permanen. Jadi, bersihkan sesegera mungkin.

6. Simpan di tempat yang layak
Selain melindungi dari air, tempat yang layak akan membuat bentuk buku tetap terjaga. Tempat yang baik takkan membuat buku menjadi ringsek, melintir, atau tumpul pinggirnya. Contoh: bila disimpan ke dalam tas, hindari penyimpanan yang membuat buku jadi melekuk. Demikian pula dalam menandai halaman. Baiknya kita menggunakan pembatas buku, atau penanda halaman.

Penataan buku...

7. Lokalisasi
Tentukan lokasi tertentu yang khusus untuk menyimpan buku. Hal ini akan mempermudah kita dalam mengatur, dan ambil-simpan buku. Bila sudah dibaca, segera simpan ke tempatnya. Dengan begitu, keberadaan buku akan lebih terpantau sehingga bila raib atau tercecer akan lebih mudah disadari keberadaannya. Kenapa? Karena bila buku tidak ada di rak, kemungkinannya hanya beberapa: belum selesai dibaca, dipinjam, atau hilang. Hal ini biasanya digunakan untuk meminimalisir “Lupa Nyimpen”.

8. Simpan berdiri
Simpan buku dalam keadaan tegak berdiri. Cara penyimpanan seperti ini akan memudahkan pembaca untuk mengambil buku, karena tidak ada buku di atasnya yang menumpuk dan harus diangkat lebih dahulu. Semakin mudah kita mengambilnya, semakin minim kemungkinan untuk mencederai buku.

9. Jangan terlalu dempet
Bila rak sudah penuh, jangan paksakan untuk menyelipkan buku pada celah yang ada. Bila memang sudah penuh, ya siapkan rak yang baru. Bila dipaksakan akan membuat buku sulit untuk dimasukkan ke celah. Begitu pula saat pengambilan. Pemaksaan akan beresiko mencederai buku.

Book lovers management...

10. Catatan pembelian
Buku dibeli melalui perjuangan. Biasanya pecinta buku punya catatan kecil yang menyimpan cerita tentang perjuangannya mendapat buku tersebut. Catatan ini biasanya ditulis di halaman pembuka. Catatan yang satu ini punya sejarah. Selebihnya, catatan itu bisa menunjukkan seberapa tua sebuah buku dan menentukan seberapa intens kita perlu memperhatikan supaya dapat merawatnya.

11. Nama pemilik
Tempelkan label atau buat tulisan yang mencantumkan nama pemiliknya. Tak ketinggalan, alamat atau info yang dapat digunakan untuk mengontak si pemilik. Bukan untuk narsis, tapi bila suatu saat buku dipinjam atau hilang, orang yang menemukannya tahu kepada siapa buku mesti dikembalikan. Bila buku sudah pindah kepemilikan, tempelkan label baru.

12. Inventarisasi
Buat daftar buku. Hal ini membantu kita untuk melihat jumlah buku yang sudah dimiliki, dan judulnya apa saja. Contoh: di kamar ada 150, di ruang tengah ada 39, yang dipinjam teman ada 16.

13. Pengelompokan
Pengelompokan dapat membantu kita dalam pencarian judul buku. Misalnya: buku agama di rak atas, buku kuliah di rak tengah, komik di rak bawah. Jadi bila nanti hendak mencari komik, area pencarian cukup seputar rak bawah. Ini jelas mengirit energi. Sekedar saran, buku paling penting dan paling sering dibaca baiknya disimpan di lokasi yang mudah dijangkau. Contohnya al-Qur’an. Simpan di tempat yang paling mudah dijangkau, karena kita akan sering menggunakannya.

Penataan Buku

Seperti apa kecintaan pustakawan sejati terhadap buku? Konon mengalahkan kecintaan mereka pada istrinya. “Cemburu sama buku (nasib istri pustakawan). Royal beli buku, nyampulin, dan merawatnya.” Curhat Buneradya dalam buku Catatan Hati Yang Cemburu. Maklum, selain Dia yang Maha Penyayang, buku adalah kekasih yang setia dan tak pernah protes. Hihihi...

Sekian. Semoga bermanfaat.

28 Jumadil ‘Ula 1434.

No comments:

Post a Comment