Penjual Ayam yang Pemurah

Setiap pagi, biasanya ada penjual ayam yang berkeliling di komplek rumah. Bukan ayam hidup, bukan ayam mentah, juga bukan ayam goreng yang siap disantap, melainkan ayam bumbu yang siap untuk digoreng. Dagangan semacam ini biasanya diminati oleh ibu-ibu yang cukup sibuk untuk memasak, sehingga lebih memilih untuk mencari yang praktis dan awet disimpan.

Komplit. Penjual ayam mempunyai berbagai macam bagian, mulai dari kepala, dada, paha, hingga jeroan (usus dan ati ampela). Tergantung selera masing-masing pembeli, terserah mau pilih yang mana. Tentunya dengan harga yang berbeda-beda. Berbeda antara harga kepala, daging, dan jeroan. Seikat jeroan harganya seribu rupiah.

Usus ayam siap goreng (pict: ladangjiwa.com)

Suatu pagi, ibu membeli jeroan dari penjual ayam ini. "Ada uang 15 ribu? Pinjem dulu lah, buat bayar." Terlihat, ibu menenteng sebungkus jeroan. Melihat ibu tengah berjalan ke dapur untuk menyimpannya di kulkas, saya pun segera mengambil uang dan ke luar untuk membayarnya.

"Lima belas rebu nya, Kang?" Tanya saya sambil menyodorkan selembar uang 20 ribu. "Muhun." Jawabnya sambil tersenyum dan mengambil uang itu.

Saya memperhatikannya yang sedang mengumpulkan uang untuk dijadikan kembalian. Pakaian yang khas ala pengendara motor yang menempuh perjalanan jauh. Jaket tebal, celana panjang, sepatu, dan sebuah tas pinggang untuk menyimpan uang. Di jok motor bagian belakangnya ada sebuah baskom yang diikatkan ke pegangan. Pada baskom itulah ayam dagangannya disimpan.

Setelah diingat-ingat, sudah cukup lama dia tidak terlihat berjualan. Itu yang terpikirkan, karena bila dia berjualan setiap hari, setidaknya ibu akan membeli sebungkus untuk persedian selama satu pekan. Sebagai penghuni rumah, saya hafal betul bahwa ibu tidak suka memasak jeroan ayam. Jadi bila di kulkas ada sebuah bungkus yang isinya jeroan ayam siap goreng, kemungkinan besar dibeli dari Akang Penjual Ayam ini.

"Kang, ka mana wae? Lami teu katingal."
"Muhun, tos lami pisan teu icalan."
"Biasana unggal enjing katingal, asa henteu kamari-kamari mah."
"Punten A, angsulanana kirang 500. Kumaha atuh nya?"

Dia bertanya, kebingungan karena uang yang ada di tas pinggangnya tidak mencukupi sebagai kembalian. Uang kembalian yang berhak saya terima adalah 5 ribu, sedangkan uang yang tersedia di tas dan sakunya hanya 2 lembar 2000-an dan sekeping 500. Dia pun merogok-rogok saku, tetapi tidak menemukan uang yang tepat untuk kembalian. Begitu juga setelah dia mengambil dompetnya. Isi dompetnya ternyata uang lembaran 10 ribu dan 20 ribuan.

"Ah, atos we lah. Teu sawios, Kang." Begitu jawab saya. Lagipula, toh hanya 500 rupiah.

Tetapi dia bersikeras ingin memberikan kembalian. "Tos we lah, nyandak deui we. Supados abdi teu gaduh sametan. Ku kepala, wios?" Sebenarnya saya merasa agak tak enak, khawatir dia jadi merugi. Karena dengan jumlah uang yang belum seberapa di tas pinggang, terlihat bahwa dagangannya belum balik modal. Tetapi melihatnya yang bersikukuh begitu, saya juga merasa tak sanggup untuk menolaknya.

Dia pun akhirnya mengambil sebuah kantong plastik kecil dan membuka baskomnya. "Ah, bilih Aa teu selera kanu kepala. Tos lah, jeroan deui we." Garpu yang biasa digunakan untuk mengambil potongan ayam pun diarahkan pada sebuah gulungan usus, lalu usus tersebut dimasukan ke plastik. Satu gulungan usus ke dalam satu plastik.

"Ieu, Kang. Hatur nuhun pisan." Katanya sambil tersenyum. Dia pun menutup baskom, membereskan perlengkapan, menalikan tutup baskomnya (supaya tidak lepas apabila motor melaju), dan pamit. "Mangga, Kang."

***

Dia merelakan haknya yang 500 rupiah untuk salah satu pelanggan. Padahal bila berpikir dari segi untung-rugi, berapalah penghasilannya dari berjualan ayam selama satu hari hingga dia tidak sungkan untuk memberi dalam keadaan begitu?

Bila memberi tidak perlu melihat latar belakang ekonomi, semoga Allah membalas kebaikannya. Bila dia menyadari bahwa kami adalah keluarga masih mampu dan dia tetap berniat memberi, semoga kami mempunyai kesempatan untuk membalas kebaikannya. Dan untuk saya pribadi, apakah saya akan sanggup seperti dia yang memberi saat keadaan kurang mendukung?

30 Muharram 1435

3 comments:

  1. sate usus. duh, rindu banget udah lama gak makan sate usus :(

    ReplyDelete
  2. Baru tau ada pejual ayam keliling pake motor. Biasanya kan tukang sayur yang jual ayam, itupun ga seberapa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sekitar 3 tahun terakhir ini sih Teh... Tapi lumayan membantu lah buat yang jarang pakepuk masak di rumah..

      Delete