Letak Kemuliaannya si Pengayuh Becak

Suara sirine ambulans menyeruak langit, memberikan tanda kepada sekumpulan orang di sekitarnya bahwa saatnya berangkat telah tiba. Seolah-olah meminta para pengantar untuk turut bersiap mengikuti ambulans mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir yang telah ditentukan oleh keluarga untuk almarhum.

Saya sebagai salah seorang anak dari almarhum menumpang mobil paman yang turut mengantarkan jenazah. Tidak banyak yang saya pikirkan tentang kepengurusan jenazah. Bukannya enggan memikirkan, tapi keadaan kami sekeluarga masih serasa terpukul oleh kepergian bapak yang begitu mendadak dini hari. Saya sendiri tidak dapat berbuat banyak selain menenangkan anggota keluarga yang lain, terutama ibu dan teteh. Terlihat jelas, ibu dan teteh adalah yang paling histeris bila dibandingkan yang lain.

Sebagai keluarga yang ditinggalkan, tentu saja kami sangat ingin melihat bapak untuk yang terakhir kalinya. Itulah sebabnya kami mengambil posisi yang dekat dengan 'liang peristirahatan' agar bisa melihatnya dengan jelas, sekaligus barangkali ada yang membutuhkan bantuan, jadi saya bisa membantu petugas pemakaman. Biasanya membantu membuatkan bola bantalan dari tanah liat untuk mengganjal jenazah agar posisinya ajeg. Selain berdo'a, itu hal terakhir yang dapat saya lakukan saat kedua mata ini berhadapan langsung dengan jasadnya.

Sementara petugas mulai mengeruk tanah di pinggiran dan memindahkannya ke liang, kami mulai menjauh untuk memudahkan pekerjaan para petugas dalam menguburkan. Ah, mungkin lebih tepatnya bukan petugas. Karena memang tidak ada petugas pekuburan di sana.

Area pekuburan tersebut bukanlah komplek Taman Pemakaman Umum yang sudah terkelola, melainkan sekedar sebidang tanah yang sengaja dibeli secara patungan oleh keluarga besar kami untuk investasi 'masa depan terakhir'. Tidak ada petugas pekuburan, yang ada hanyalah seorang kakek tua beserta istrinya yang juga sudah amat tua. Mereka sudah masuk usia yang tidak lagi kokoh untuk menopang pekerjaan gali tanah dan membopong jenazah.

Orang-orang yang sedang bekerja menguburkan jenazah bapak adalah petugas dadakan yang saya sudah kenal. Mereka bukanlah petugas pengurusan jenazah, lebih tepatnya mereka adalah dua orang pengayuh becak yang biasa mangkal di dekat gerbang komplek rumah saya.

Saya pun tersadar, "Beruntungnya kami tinggal di sebuah komplek tempat mereka mangkal." Selidik-selidik, ternyata mereka adalah langganan pengurus jenazah. Maksudnya bila ada penghuni komplek yang meninggal, merekalah yang biasa naik ambulans, menggotong jenazah, hingga turun ke lubang galian untuk membopong dan menempatkan jenazah ke tanah. Siapa yang menyangka bahwa orang terakhir yang merangkul almarhum dengan begitu hati-hati justru adalah 2 orang pengayuh becak?

Bila tidak ada mereka, entah siapa yang akan melakukannya. yang jelas keberadaan mereka rasanya teramat membantu. Ingin sekali diri ini memberikan hadiah atas kebaikannya itu, meski berbagi bingkisan sembako tiap menjelang lebaran sepertinya kurang cukup.

Mungkin keluarga lain pun berpikir demikian, ingin berterima kasih atas kebaikan mereka untuk turut mengurus jenazah. Bukan hanya itu, setiap Jum'at tiba mereka biasa dipanggil untuk mengantar dan menjemput langganannya ke masjid. Maklum, langganannya itu adalah seorang kakek tua yang berjalan saja sudah kesulitan. Jadi selain mengayuh dan mengantarkan pelanggan, Mang Becak pun menyiapkan kursi di sebuah sudut ruang utama masjid dan menggendong sang kakek untuk duduk di kursi lipat yang telah disiapkan itu. Begitulah setiap hari Jum'at.

Sang Kakek dan keluarganya pun sepertinya amat ingin berterima kasih karena telah membantu saat-saat penting di mana Kakek ingin menyempurnakan ibadah jum'atnya di masjid.


Saat ada orang-orang yang diam-diam ingin sekali berterima kasih pada mereka, bisa jadi itulah yang membuatnya teramat mulia di hadapan-Nya. Melebihi penghuni-penghuni komplek yang lebih berpendidikan, berpangkat, atau berpenghasilan tinggi.

Serendah-rendahnya harga kemuliaan, tetap saja harus ditebus oleh kebaikan. Seperti yang mereka lakukan. Mereka berpendidikan jauh lebih rendah, penghasilan tak seberapa, dan tak memiliki jabatan apa-apa di komplek, tapi ada banyak orang yang ingin berterima kasih padanya. Meski sayangnya mereka tidak menikmati rasa syukur kami.

Kelak bila kalian telah tiada, kami akan merasa kehilangan. Semoga keridhaan-Nya menyertai kalian, selalu. Di sisa umur dan akhirat kelak.

16 Ramadhan 1434

No comments:

Post a Comment