Wanita (Catatan Hati Seorang Lelaki)

Sepertinya lebih pas dan terasa sense-nya apabila untuk menulis kata demi kata tentang wanita ini, saya mendompleng caranya Mbak Asma Nadia saat menulis sebuah naskah yang akhirnya 2006 silam telah saya beli bukunya saat masih cetakan pertama dan tentunya belum jadi best seller, “Catatan Hati Seorang Istri”. Terasa lebih bernyawa saat akhirnya catatan ini saya beri nama: Catatan Hati Seorang Lelaki.

Kedalaman hati seorang wanita, siapa yang tahu?
Itu pula yang saya rasakan saat harus berhadapan dengan makhluk bernama wanita, yang bagi saya lebih familiar disebut perempuan atau awewe. Masalahnya, saya seringkali kikuk saat berhadapan dengan kaum hawa. Tak tahu asumsi mana yang benar tentang perempuan, juga tak tahu mesti bagaimana saat berhadapan dengannya. Pendek kalimat, saya orang yang awam tentang perempuan, walaupun saya sudah jadi sarjana psikologi.

Sejak kecil, saya bukanlah seseorang yang biasa bergaul dengan lawan jenis. Entah kenapa. Mungkin salah satunya adalah karena didikan para orang tua di jaman dulu adalah awam dan tabu untuk bergaul dengan lawan jenis saat usia SD dan SMP. Walaupun saat itu sudah familiar dengan istilah ‘pacaran’. Semasa SD dan SMP, tak pernah ada ‘pacaran’ untuk bocah tengil dan bengal macam saya. Yah, kalau sekedar keceng-mengeceng, boleh lah. Selebihnya, saya adalah siswa yang suka bikin kegaduhan dan meloloskan diri dari absensi. Tapi itu dulu, baiknya jangan ditiru! Saya memang anak yang terlampau bandel dan tengil untuk mau pacaran.

Apalah yang diinginkan oleh anak bengal selain kebebasan? Itulah saya saat SMA. Tak mau ada orang yang ikut campur urusan di luar kelas, terlebih lagi kalau dia sampai mengganggu. Alhasil, lagi-lagi tak ada yang namanya ‘deket sama cewek’. Tiap pulang sekolah, saya suka main bola di lapangan sekolah. Namun pada saat itu pula biasanya suka ada teman yang tak ikut main lantaran mengantar pacarnya pulang. Saya sih berpikir: daripada siang nggak bisa main bola, mendingan nggak punya pacar lah! Sebenarnya, bisa saja sih jadian dengan salah seorang siswi. Tapi tidak. Saya tidak rela kalau jadwal main bola dikorbankan demi pacaran.

Tak banyak bergaul dengan perempuan, dan tak begitu tahu tentang perempuan. Begitulah jadinya. Ketidaktahuan saya tentang perempuan pernah sampai membuat saya berselisih dengan salah seorang teman di kelas gara-gara saya tak memberitahu dia tentang lampiran pada laporan tugas praktikum Biologi. Saya tak mengira bahwa dia (namanya Kuntum Ekawati) akan sebegitu marah dan emosinya, sampai menangis sesenggukan pula. Entah, kenapa dia sampai sebegitunya? Entah karena dia yang memang sentimentil, atau memang begitulah perempuan. Yang jelas, dari kejadian itu saya nyadar bahwa saya bukanlah seseorang yang pandai untuk memahami perempuan, terlebih lagi perasaannya. Sepertinya itu adalah kelemahan saya dibanding kebanyakan lelaki lain di dunia ini.

Buntut peristiwa itu, saya dan Kuntum berselisih sekian lamanya. Selama beberapa pekan kami tak pernah bertegur sapa, padahal belajar di kelas yang sama. Alhamdulillah, walau lama berselisih, akhirnya kami berdamai di penghujung tahun ajaran. Yah, sedih juga. Hanya gara-gara tentang laporan praktikum, kami seperti musuhan. Selama berselisih itu, saya tak tahu mesti bagaimana menghadapi persoalan ini. Kikuk. Tak terbayang bagaimana perasaannya setelah kejadian itu. Apakah dia masih marah, kecewa, atau bagaimana. Entah.

Begitulah wanita. Kedalaman hatinya, siapa yang tahu? Sampai-sampai isinya tak terlihat, dan emosinya bisa meluap tak terduga.

Begitulah di sekolah, begitu pula di rumah. Saya bukanlah anak yang dekat dengan ibu, dan sebagai gantinya, saya jadi anak kepercayaan bapak. Saat 2007 silam bapak meninggal, keadaan di keluarga berubah drastis. Namun yang jelas, sebagai seorang anak, masih ada keinginan untuk membahagiakan orang tua. Membahagiakan almarhum bapak di alam sana, begitu juga dengan ibu. Ingin sekali membahagiakannya. Tapi, bagaimana caranya ya menorehkan senyum di wajah ibu? Lagi-lagi saya kikuk. Tak tahu mesti bagaimana.

Kesepian. Mungkin itulah yang dirasakan oleh ibu semenjak kepergian bapak. Tak heran bila beberapa hari sekali ibu meminta bibi untuk main ke rumah. Sekedar untuk menemani ibu ngobrol, begitulah alasannya. Saya hanya tahu bahwa sebagai seorang wanita, ibu pun membutuhkan sesama wanita sebagai teman ngobrol. Memang, apa sih yang ibu harapkan dari teman sesama wanita? Tak adakah yang bisa saya lakukan demi melihatnya bahagia?

Atas dasar itulah, saya memberanikan diri untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang konyol pada seorang teman perempuan. Tentang apa yang biasa dia obrolkan dengan ibunya. “Hey, kalo ngobrol ama mamah, biasanya ngobrolin apa sih?” Hehe.. teman saya itu malah protes walau akhirnya dia menceritakan biasa ngobrol apa saja dengan ibunya, “Iya nih, apaan sih nanya gituan?!”

Hehe.. biar lah, demi punya bahan obrolan untuk membahagiakan ibu. Namun begitulah ibu. Jarang sekali melihatnya berekspresi. Saya tak tahu kapan beliau bahagia atau sedih. Bahkan saat sewajarnya orang sedih, di depan anak-anaknya sama sekali tak tampak bahwa ibu lagi sedih. Pun saat anak-anaknya yang lelaki ini selalu bandel dan membuat onar, sama sekali tak terlihat kekecewaan akibat luka di hatinya. Saya yakin, tiap orang di dunia ini bisa kesal akibat tingkah bandel anak laki-laki. Begitu juga seorang ibu.

Ah, lagi-lagi. Kedalaman hati seorang wanita, siapa yang tahu? Banyak ibu yang pernah mengalami masa-masa sulit meladeni kebandelan anak laki-laki. Begitu dalam ibu menyembunyikan kekesalannya hingga tak terlihat oleh anak-anaknya. Anak-anaknya hanya tahu bahwa ibu sayang pada mereka.

***

Kedalaman hati seorang wanita, siapa yang tahu? Memang hanya Allah yang mengetahui secara pasti. Sedangkan saya? Perlu banyak berguru untuk memahami -sedikit saja- tentang wanita.

He..he..he.. sebenarnya cukup malu untuk menuliskan ini. Karena melalui secarik catatan yang yang satu ini, orang bisa melihat betapa begonya saya. Tapi tak apa-apa lah, setidaknya catatan ini bisa menjadi tempat latihan untuk jujur pada diri sendiri juga pada orang lain. Satu hal lagi, saya dedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang menghargai kejujuran!

Sepertiga akhir malam belum tidur
Cijerah, 19 April 2012



No comments:

Post a Comment