Bacaan yang Ajaib

Aneh? Iya. Unik? Juga iya. Sejak kecil saya diperkenalkan pada huruf-huruf Qur'an melalui sebuah majalah anak, namanya Aku Anak Saleh. Entah sekarang masih ada, ataukah sudah tidak terbit lagi. Awalnya saya tidak ngeh, dan malas-malasan membacanya. Sampai akhirnya saat saya kelas 2 SD, ibu memanggilkan guru ngaji untuk mengajari kami (anaknya) membaca al-Qur'an sekaligus mengerti isinya. Kami biasa memanggilnya Mang Uwen.

Melalui Mang Uwen, saya mulai mengenal suara-suara lantunan al-Qur'an yang dibacakan oleh qori-qori Indonesia. Walaupun tidak mengenal siapa saja mereka. Yang jelas, sejak itu saya mulai tahu ada kaset-kaset tilawah seperti halnya kaset-kaset musik semodel GnR, Scorpions, atau Meggy Z. Sayangnya, saya tidak begitu menyukai lantunan tilawah dari qori-qori Indonesia yang katanya terkenal itu.


Pertengahan kelas 1 SMA, saya mulai mengalami titik balik. Belajar Islam lebih rutin dan serius. Entah mendapatkan semangat dari mana, tiba-tiba saja terasa ada yang membuat saya semakin penasaran untuk membuka lembar demi lembar mushaf yang disimpan di meja dekat kasur. Maka saya pun membacanya, walau tidak membaca terjemahannya. Keinginan saya saat itu adalah melancarkan bacaan. Hanya itu.

Lulus SMA, sebelum masuk kuliah, saya mulai akrab lagi dengan lantunan tilawah yang disetel melalui audio. Tepatnya saat datang ke pengajian MaPI di Masjid al-Murosalah Telkom Gerlong. Rasanya beda dengan tilawah-tilawah yang biasanya sangat panjang harakatnya, padahal surat pendek. Tilawahnya siapa ya yang direkam? Saya mulai penasaran.

Setelah mencari sumber suara, ternyata itu adalah rekaman suaranya imam masjid asal Timur Tengah. Saya kurang begitu tahu tentang imam mana yang tilawahnya enakeun. Maka suatu hari, CD MP3 murottal yang saya beli pun isinya campuran beberapa imam. Seperti al-Mathrud, Shuraim, Ghamidi, al-Efasi, dan ar-Rifa'i. Dari beberapa imam tersebut, yang saya sukai adalah tilawahnya Hani ar-Rifa'i.

Selama beberapa tahun, murottal Qur'an yang saya setel di komputer adalah dari ar-Rifa'i. Saya cuek saja, karena bagi saya (dibanding yang lain) yang enak adalah tilawahnya beliau. Sampai akhirnya acara Tahsin di MQFM yang ba'da maghrib mengulas bahwa kalau untuk latihan, murottalnya ar-Rifa'i adalah yang paling sulit karena cepat dan teknik vokalnya tinggi. Jadi kalau untuk latihan makhraj, sebaiknya gunakan yang pelan, seperti tipenya al-Mathrud.

Tapi tetap, kalau untuk hiburan saya kembali lagi pilih yang ar-Rifa'i. Ya, hiburan. Di komputer saya saat itu ada 2 macam hiburan audio: murottal dan musik. Jadi kalau tidak menyetel musik, saya menyetel murottal. Sekalipun di tahun 2005-an saya sudah kenal dengan Kang Deden dan Egi (Edcoustic), tetap saja saya kurang suka dengan jenis lagu Islami seperti nasyid atau kasidah.

Bertahun-tahun saya begitu. Di komputer saya file musik ternyata sudah mencapai sekian GB. Jumlah yang cukup besar dan membengkak karena update lagu. Saya bukan penggemar musik, hanya pendengar yang menikmati. Kalau lagunya saya sukai, saya cari dan disetel di komputer. Ada lagu baru yang enakeun, cari lagi, lalu setel. Jadi, lagu itu sifatnya musiman. Dulu doyan dengar Lembayung Bali-nya Saras Dewi, sekarang doyannya Fox Rain (acoustic version)-nya Lee Sun Hee. Kalau playlist itu sudah bosan saya dengarkan, akhirnya saya setel murottal lagi.

Terus begitu. Siklusnya seperti itu. Dan anehnya, saya tak bosan menyetel murottal yang liriknya itu melulu dan yang tasmi itu melulu. Aneh ya?

Sampai tahun 2012, saya masih memilih murottalnya ar-Rifa'i. April, saya diundang ke Baitullah dalam jamuan umroh. Di sana saya mendengar langsung suara imam-imam yang biasanya hanya saya dengar melalui MP3. Suatu saat di Masjidil Haram, saya mendengarkan suara merdu yang sudah familiar khasnya salah seorang imam. Suara tilawah yang merdu itu membuat saya jatuh hati dan berpaling dari murottalnya ar-Rifa'i. Saat itu saya tidak tahu siapa pemilik suaranya. Baru setelah pulang ke Indonesia, melalui internet saya browsing dan mendapatkan satu nama: 'Abdurrahman Sudais, yang ternyata adalah ketua imam Masjidil Haram. Pantas saja enakeun.

Siklus kebosanan terhadap musik masih ada. Saat bosan mendengar sebuah lagu, balik lagi nyetel murottal. Dan tak pernah ada rasa bosan saat mendengar murottal, meski liriknya itu-itu terus. Setiap lagu, biasanya saya sudah bosan setelah beberapa pekan. Berbeda dengan murottal. Setelah saya ingat-ingat, 7 tahun lamanya saya tak bosan dengan murottalnya ar-Rifa'i. 2005-2012. Itu pun karena berpaling ke murottalnya Sudais.

Kiranya lantunan tilawah adalah irama, ini adalah irama yang tak pernah ada bosannya untuk terus didengarkan. Bahkan setelah hafal liriknya sekalipun. Begitu pula bila saya menyebutnya sebagai bacaan. Saya bisa menyebutkan beberapa buku favorit, tapi nyatanya buku yang paling banyak dibaca adalah Qur'an. Bahkan setelah tamat berkali-kali pun. Buku favorit? Setelah tamat bacanya, simpan di rak. Selesai. Namanya saja yang buku favorit, padahal mah... Barangkali Anda pun begitu. Ngaku lah! Buku favorit mana yang dibaca berkali-kali setelah tamat?

Entah kenapa bisa demikian? Yang jelas, rasanya saya mulai memahami mengapa al-Qur'an disebut sebagai mukjizat.

15 Ramadhan 1435

7 comments:

  1. Kang, saya rada gerimis baca ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heh.. gerimis kenapa?
      Justru urang mah asa aneh ka diri sorangan. "Naha nya urang bisa kieu?"

      Delete
  2. Murotal yang distel di MaPi itu emang arenakeun. Kalau yang lokal, paling suka denger Abu Rabbani, ga tau kenapa. Pas aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yg dipake pas kajian, biasanya yg Ghomidi. Kalo yg Abu Robbani, dulu pernah beli kasetnya. Enakeun sih, tapi udah nggak pake yg itu lagi, da kagok sambil nyetel kompu. Biar ga boros listrik. :P

      *Sok atuh, teh Efi we direkam ngajinya. Ntar sy dengerin.

      Delete
  3. subhanallah, jadi kangen dengerin muratal

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaahh.. suka merendah gitu si teteh mah. padahal mah sering.. :P

      Delete
  4. jdi tahu yang dicari cari deh mantap dah

    ReplyDelete