Tampil Apa Adanya

Tahun 2004 silam, tahun yang amat bersejarah. Pada tahun ini saya pertama kali terdaftar menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri. Pada tahun ini, saya memasuki sebuah lingkungan yang keadaannya jauh berbeda dengan masa-masa sekolah dulu. Sebagai seorang anak (yang saat masih sekolah) tumbuh di lingkungan organisasi, rasanya tempat ini -kampus- punya pengaruh doktrin yang amat kuat. Hal itu dirasakan saat pertama kali masuk ospek.

Benarlah demikian. Hari demi hari saat awal perkuliahan, hampir selalu terdengar seruan untuk menjadi mahasiswa terbaik, berprestasi, studi selesai dengan cepat 3,5 tahun, dan menjadi orang penting di kampus. Ya, menjadi orang penting, semacam menjabat posisi tertentu di organisasi kampus, terutama BEM (OSIS-nya kampus). Entah itu tingkat jurusan, fakultas, ataupun kampus. Singkat kalimat, doktrin di kampus ini adalah doktrin yang mengajarkan mahasiswa untuk eksis. 

Doktrin di kampus ini terasa amat kuat, sampai-sampai tanpa disadari saya pun terbawa arus, jadi terbawa-bawa pengen eksis. Melupakan niat awal kenapa saya datang ke kampus, yaitu belajar, membentuk komunitas sepak bola, dan kalau memungkinkan, nyari penghasilan juga. 

Tanpa disadari juga, akhirnya saya mengalami masalah serius. Masalah yang kalau dalam bahasa intelek disebut dengan "krisis kepribadian". Saya menyadarinya saat seorang teman sekolah ngomong "Dit, Saya mah pengen Kamu yg kayak dulu lagi!" Omongan yang sederhana, tapi penuh makna. Omongan yang singkat, tapi seolah-olah menampar sukma. Omongan yang halus tapi dengan tegas menyadarkan bahwa saya telah melenceng jauh. 

Coba untuk merenung, apa yang mesti saya ubah dalam diri ini. Teguran yang mendalam. Karena teguran itulah akhirnya saya kembali seperti dulu. Menjadi Adit yang seperti biasa dan apa adanya. Makasih buat teman-teman sekolah. 

Dari teguran itu saya nyadar, kalau dalam suatu hubungan, tak begitu penting siapa saya. Hal-hal semacam prestise, prestasi, eksistensi, popularitas jadi tak ada harganya. Setidaknya buat saya sih demikian.  

Karena teguran itu pula, akhirnya saya jadi berpikir, kalau saya tak membutuhkan (dan tak akan membutuhkan) teman atau 'teman' yang hebat, mentereng, atau sejenisnya. Kalau kita bisa saling nerima, menghargai, menasihati, dan melengkapi satu sama lain, buat saya itu sudah cukup. Saya merasa tak perlu dikagumi, diidolai, atau dipuji-puji. 

Begitulah pola pikir saya saat berteman. Saya mencari teman yang mau nerima saya apa adanya, bukan mau nerima kalau saya punya kelebihan. Itulah, kenapa selama ini saya mencoba untuk tampil apa adanya. Tetap melakukan yang terbaik, dan di sisi lain tak menutupi keterbatasan yang dimiliki. Ya, tak menutupinya. Karena saya mau tahu, siapa saja orang yang mau nerima saya apa adanya. 

Yah, beginilah saya yang apa adanya...
Anti jaim, anti gengsi, bahkan terkadang malu-maluin.
Blak-blakan, ngomong seadanya, bahkan kata orang lain: terlalu jujur.
Balangsak, tampak kacrut. 

Saya tak akan menutup-nutupi hal semacam itu, dan mari sama-sama kita lihat, siapa saja yang akan menerima diri kita apa adanya? Yang siap dan mau saling menghargai, menasihati, dan melengkapi satu sama lain.  Jadi, pada akhirnya suatu saat nanti, saya tak akan sungkan tuk bertanya, "Kau telah tahu hal-hal jelek dalam diri ini, dan Kau akhirnya tahu kalau aku tak sebaik yang Kau bayangkan. Jadi, apakah Kau masih mau menerimaku? Itu sepenuhnya hakmu untuk memutuskan! Tak ada sesuatu yang bisa Kau banggakan, dan tak banyak yang bisa kau dapatkan dariku. Aku mah cuma bisa nerima dirimu apa adanya, dan menawarkan komitmen untuk dibangun bersama..."

Sebuah pinggir kota, 9 Desember 2010

0 comments:

Post a Comment