Hidup Ini, Mau Cari Apa?

Seorang sahabat berbagi cerita tentang pengalaman menjadi member fitnes di kantornya. Ada instruktur yang baru. Awalnya dia merasa asing, selama berfitnes di sana, sebelumnya tak pernah melihat instruktur tersebut. Barulah setelah diajak ngobrol, sahabat saya itu tahu bahwa dia adalah orang baru di fitness center.

"Saya orang baru di sini, Mas."
"Wah, pantes baru lihat."
"Sebelumnya pernah jadi instruktur?"
"Iya, pernah. Di Double-G."
"Wah, itu kan bonafid. Kok mau pindah ke sini, Mas?"

Instruktur baru itu mulai bercerita tentang alasan kenapa akhirnya dia memilih untuk menjadi instruktur kebugaran di kantor departemen, yang untuk instruktur kesehatan sendiri penghasilannya lebih sedikit dibanding di Double-G. "Emang sih bonafid. Tapi ada sesuatu yang saya nggak suka."

"Cara mencari uangnya itu lho, Mas!" Sang instruktur lanjut bercerita bahwa di tempat kerjanya yang dulu itu, instruktur-instrukturnya berkompetisi untuk mendapatkan pelanggan. Seperti yang berebut pelanggan. Bukan hanya itu, instruktur juga sudah seperti marketer suplemen-suplemen kebugaran.

Saya terkejut akan cerita tersebut, karena sebagai orang yang pernah fitnes di beberapa pusat kebugaran, belum pernah sampai ditawar-tawari pil suplemen. Pil suplemen biasanya hanya dipajang di etalase, dan penjaga tempat kebugaran hanya memberi pada pengunjung yang mau beli. Bukan ditawarkan pada pengunjung. Bahkan seumur-umur saya latihan olahraga, dan membaca majalah kebugaran, suplemen yang direkomendasikan pun hanyalah pisang, sayur, telur, dan susu. Dalam program makan atlet pun, tidak ada penggunaan pil suplemen. Pil suplemen hanya diberikan untuk atlet yang terdesak sangat membutuhkan.

Akhir kisah, sang instruktur bilang: "Daripada penghasilan besar dengan cara yang begitu, mendingan saya jadi instruktur di sini aja walau gajinya lebih sedikit, Mas."

Instruktur membantu yang berlatih

Di jaman yang seperti ini, saya berpikir setiap orang pasti membutuhkan uang. Setidaknya untuk membeli makan dan pakaian. Bahkan orang-orang berlomba mencari sumber penghasilan yang dapat memberikan banyak, dan kebanyakan berpikir untuk memilih pekerjaan dengan penghasilan tertinggi. Bekerja adalah untuk uang. Tetapi instruktur yang satu ini berbeda, sepertinya ada hal lain yang dia cari.

Saya? Aaahh... apakah yang sebenarnya mau dicari dalam hidup ini?

17 Jumadil Ula 1435

12 comments:

  1. ini nih yang sering jadi bahan renungan, hidup ini mau nyari apa? O.O btw, template barunya bagus kang, sederhana tapi enak diliat hehe :D *salah fokus*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...dan saya pun sering termenung akan hal itu, teh. ;P

      Delete
    2. hahaha~ :D manusiawi, kang :3 *sotoy*

      Delete
  2. Orang-orang MLM dan Manajer perusahaan pengeleman benang teh celup harus baca postingan ini... hehehe

    ReplyDelete
  3. hidup cuma untuk mampir minum kata pepatah Jawa.. kalo kataku hidup cuma cari Agus..

    ReplyDelete
  4. Tuh, Mas Agus.. ada yang ngasih kode.. ;D

    ReplyDelete
  5. Kemaren baca quotes ini di internet: "The sole purpose of human existence is to reproduce and not letting their species to extinct 'til they die."

    Ada benarnya dan ada salahnya kalau menurutku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. asa gimana gitu.. kayak mesin reproduksi aja..

      Delete
    2. iya sih, tapi memang pada dasarnya setiap spesies, termasuk manusia, ingin mempertahankan agar spesiesnya untuk tidak punah.

      Memang ada orang baik dan jahat. Ada juga orang yang hidup dengan cara baik dan hidup dengan cara salah. Terlepas dari itu semua, kalau melihat interaksi antara alam dengan manusia, banyak sudah yang diberikan alam kepada manusia, tapi hanya sedikit saja balasan dari manusia kepada alam. Makanya, eksistensi manusia dan kontribusinya pada dunia patut dipertanyakan.

      #nyerocospagi2

      Delete
    3. jadi, tergantung dari manusianya itu sendiri gitu ya..?

      Delete