Hidup yang Ketiga

Pernah membayangkan bagaimana bertemu dengan malaikat maut? Walaupun dalam film-film tertentu beberapa kematian terkesan terhormat, mulia, heroik, dan mengagumkan, -jangankan membayangkan- mendengar cerita tentang bagaimana orang wafat saja rasanya sudah menakutkan. Setidaknya untuk saya. Tetapi mungkin tanpa disadari sebenarnya malaikat kematian itu pernah mendatangi, memandangi wajah saya, dan menunggu detik eksekusi.

Seperti kata Algren dalam The Last Samurai. "Seharusnya saya sudah mati." Dan mengingat dia adalah satu-satunya satu-satunya orang yang masih hidup dari kepungan para samurai, bisa saya pahami mengapa Algren mengatakan demikian. Dalam tradisi samurai, demi menjaga kehormatan, yang kalah akan bunuh diri lalu dipenggal. Seharusnya itu terjadi pada Algren.

Saya masih ingat saat sidang Tugas Akhir, yang konon adalah pembantaian bagi para mahasiswa. Saya ingat betul bagaimana mereka keluar ruangan sidang dengan wajah yang memerah, berkeringat, lalu duduk di pinggir ruangan untuk melepaskan air mata. Tibalah bagian saya yang masuk ruangan. Tak perlu saya ceritakan apa yang terjadi di dalamnya. Begitu selesai, saya keluar dengan wajah datar. "Selesai" hanya itu yang saya katakan.

"Ih, Kamu mah. Kok bisa-bisanya lempeng gitu sih?!" Celetuk seorang kawan. Pertanyaan yang saja jawab dengan senyum ketus dan sedikit tawa sambil menggelengkan kepala. Saya tahu apa yang mereka bayangkan tentang keadaan di dalam ruangan. Keadaan yang mengingatkan saya pada belasan tahun silam.

1998. Saat kawan-kawan SD hendak merayakan kelulusan, saya malah terbaring lesu di kamar. Demam dengan suhu 39'C menurut termometer rumah. Kepala terasa pusing, badan lemas, dan mulut terasa ingin memuntahkan isi perut. Demam apa ini? Tanya saya begitu panik pada diri sendiri. Demi lekas sembuh, saya paksakan diri untuk menelan makanan walaupun rasanya ingin muntah. Paksakan untuk kuat, demi tidak dirawat di rumah sakit.

Keadaan tubuh saya tak kunjung membaik. Akhirnya saya menyerah untuk pantang ke rumah sakit setelah ibu dan bapak membujuk untuk ke rumah sakit dalam rangka medical check up di laboratoriumnya. Keadaan yang saya alami terlalu parah untuk sebuah demam biasa, itu menjadi alasan untuk ambil sampel darah, 1 tabung suntikan.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, hasil pemeriksaan darah sudah selesai. Saya diperbolehkan pulang. Semacam tipes, begitu kesimpulannya. Jadi saya diperbolehkan untuk dirawat di rumah. Meski begitu, saya masih ketakutan. Takut akan sebuah dugaan pribadi yang sepertinya belum diketahui orang tua saya. Mereka belum tahu bahwa saya sudah beberapa kali mimisan. Ketakutan itu saya lawan dengan mencengkram-cengkram pergelangan, lalu melepaskan cengkraman dan melihat hasilnya. "Bagus! Tidak ada bintik-bintik." Gumam saya dalam hati.

Menyedihkan. Selama di rumah, keadaan saya tidak kunjung membaik. Sebaliknya. Saya mulai muntah-muntah yang disertai endapan-endapan hitam seperti minyak yang tercampur dalam air (saya mulai panik, takutnya itu adalah darah kotor yang mengendap). Kepala malah terasa semakin pening. Bila berdiri, badan seperti semakin hilang keseimbangan. Saat berbaring, seorang bumi sedang gempa dan dunia bergoyang. Saya berpikir lebih keras. Ini terjadi gempa, tetapi barang-barang di sekitar saya tidak ada yang sampai jatuh. Barang-barang itu tetap pada tempatnya, selayaknya tidak terjadi guncangan tanah. Berarti keadaan saya saja yang membuat saya merasa terjadi gempa hebat. Ya, gempa yang sangat hebat, hingga saya merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Semakin parah. Bapak segera membawa saya kembali ke rumah sakit. Langsung ke lab untuk periksa, dan kembali cek darah. Tunggu beberapa saat di lab, sampai akhirnya terdengar: "Ini demam berdarah. Trombositnya turun drastis, tinggal 9. Untung segera dibawa ke sini." Normalnya, trombosit sekitar 150-250. Tidak ada yang menyangka bahwa itu adalah demam berdarah. Karena secara kasat mata tidak ada bintik-bintik di badan, dan muntah darah yang seperti pesilat baru terkena pukulan tenaga dalam. Telat beberapa jam lagi, (hukum alamnya, sunatullahnya) nasib saya berakhir.

Saya langsung dibawa ke UGD, dan langsung dipasang infus. Rawat inap. Setiap satu jam sekali, ada suster yang datang untuk ambil sampel darah. Katanya untuk memantau pertambahan trombosit selama pengobatan.

Dekade 90-an, demam berdarah adalah salah satu dari dua penyakit yang paling mengerikan. Sosialisasi tentang penyakit ini sering ditayangkan di TVRI melalui film dokumenter dari dinas kesehatan. Di film itu diperlihatkan bagaimana penderita demam bedarah bisa sampai muntah darah yang diperkirakan volumenya mencapai satu cangkir untuk sekali muntah. Bahkan disebutkan bahwa pada dekade itu mayoritas penderita demam berdarah tidak berhasil bertahan hidup.

Empat tahun berselang. Pengalaman dirawat di rumah sakit itu seakan pudar. Hampir lupa bagaimana rasanya. Hanya tersisa kenangan gara-gara saya sekolah di Jalan Cihampelas, jalan yang sama dengan alamat rumah sakit itu.

Suatu hari, saya dan beberapa kawan pulang dari Lembang melewati jalan setapak menuju Dago. Saat itu kami baru selesai pertandingan liga sepakbola antar kelas. Pemandangan yang indah di pegunungan, dan sepi sehingga tidak perlu ada polisi. Jadi tidak perlu khawatir ditilang oleh polisi. Lagipula jalur yang kami lewati adalah daerah gunung dan perkampungan.

Sebagaimana biasanya jalan di daerah gunung, jalan yang kami lewati pun penuh tikungan dan tanjakan-turunan. Jiwa anak muda rupanya membuat kami tak terkendali. Mesin Tiger 2000 dipacu untuk memberikan sensasi berkendara. Mumpung jalanan sepi. Sampai akhirnya sebuah rambu mengejutkan kami dan harus segera rem mendadak. Di sebuah pinggir turunan berdiri satu plang merah bergambar tengkorak.

Di jalan aspal kasar berkerikil itu kami (beserta motor) terpeleset beberapa puluh meter, dan berhenti satu meter di pinggir tikungan. Beberapa warga segera membantu kami ke rumah terdekat. Saya melihat-lihat keadaan di sekitar. Ternyata satu meter dari tempat saya terbaring tadi adalah tebing setinggi kisaran 3 meter. Di sebelah tebing itu adalah tanah yang digunakan warga untuk berkebun. Di kebun itu, ditancapkan potongan-potongan bambu untuk memberdirikan tanaman-tanaman.

Bila ada orang jatuh dari tebing, lalu potongan-potongan bambu itu menembus tubuhnya, bagaimana jadinya? Pantas saja dipasang rambu tengkorak.

Rasanya kematian begitu dekat. Saat terkena demam berdarah, jaraknya tinggal beberapa jam. Dan saat kecelakaan motor itu, jaraknya tinggal sekitar satu meter. Menyadari hal ini, saya mulai terpikir anggapan-anggapan. Saat demam berdarah, bisa jadi Sang Pemilik Hidup menunda kematian beberapa jam sebelum jadwal malaikat menjemput. Dan saat kecelakaan itu, bisa jadi Sang Maha Berkehendak memanjangkan cerita hidup dengan memasang penghalang satu meter dari maut.

Ya. Bisa jadi, bisa jadi, dan bisa jadi. Meski epilog sudah ditentukan, Sang Penulis bisa mengubahnya. Walau saya pribadi tak mengetahui apa yang menjadi alasan-Nya. Seperti waktu untuk hidup telah habis, tetapi Penguasa Langit memberikan lagi kesempatan untuk -melanjutkan- hidup.


Kita. Kiranya diberikan kesempatan untuk hidup kembali, mau melakukan apa?

2 Safar 1436

4 comments:

  1. saya juga jadi inget waktu dirawat di rumah sakit. Paling anti ke dokter sekali sakit eh parah. Temen saya dateng nengok sambil nangis2, saya malah ngelarang nangis. Eh diprotes, dasar kamu mah, flat!
    Enggak tua ya, waktu itu ga bisa nangis. Rasanya pikiran kosong, bisa lolos dari maut dan dikasih kesempatan melanjutkan hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata bener ya, ajal itu emang deket. Dan takdir yg di luar kemampuan kita pun bisa diubah...

      Delete
  2. eh typo, enggak tau maksudnya hahaha

    ReplyDelete