Kakek, Relawan Kebersihan

Di salah satu sudut perempatan, berdirilah sebuah rumah sederhana yang teduh. Teduh karena pepohonan yang rindang di sampingnya, pun karena penghuninya yang ramah dan bersahaja. Bila mentari sedang berada di puncak langit, terkadang pohon Flamboyan yang tegak di samping garasinya menjadi tempat berteduh bagi pengendara motor yang rehat sejenak.

Sebelum jam enam pagi, dari rumah itu keluar seorang lelaki agak bungkuk, beruban, menjinjing sebuah sapu lidi. Dibawanya sapu lidi itu ke satu sudut, disapunya daun-daun yang berserakan di pinggiran jalan depan rumahnya. Dikumpulkannya serakan daun itu dalam satu gundukan, untuk kemudian dimasukkan ke wadah sampah di sebelah garasi rumahnya. Bila di pinggir jalan sudah selesai, dengan tangan kiri yang menopang badannya ke lutut, tangan kanannya menggenggam gagang sapu untuk menyisir sampah-sampah di selokan.


Selesai di sebuah sudut, dengan langkah kaki yang sudah kaku, pelan namun pasti, si kakek berpindah ke sudut lain. Seperti sebelumnya, disapunya dedaunan dan sampah yang berserakan, lalu dikumpulkan dalam sebuah gundukan.

Ah, namun sayang. Saya harus segera berangkat mengantar keponakan ke sekolahnya. Jadinya tak bisa melanjutkan episode pagi si kakek.

Keesokan harinya, episode pagi si kakek kembali menjadi pemandangan yang menarik perhatian saya. Sambil memarkir mobil di depan rumah dan menunggu berangkat, saya kembali memperhatikan lelaki beruban yang mengenggam sapu lidi itu.

Sama seperti kemarin. Pekerjaannya di pagi ini adalah mengumpulkan dedaunan dan sampah yang berserakan agar lebih mudah dibuang ke wadah sampah. Hanya saja mungkin saya agak telat. Pinggiran jalan, baik depan maupun samping rumahnya tampak sudah bersih. Sepertinya lelaki ini baru selesai dengan rutinitas paginya.

Ternyata saya salah. Alih-alih membawa sapunya masuk ke halaman dalam, rupanya beliau malah mampir dahulu ke pinggiran jalan bagian lain, samping rumah tetangganya. Melihatnya begitu, rasanya rumah si kakek adalah yang di seberang rumah tempat beliau menyimpan sapu lidinya. Sementara umumnya orang berpikir "Ngapain menyapu di depan rumah orang lain?", tanpa banyak tingkah dan bicara, si kakek terus menyapu.

Membersihkan selokan, dengan tangan kiri memegang lutut

Malu rasanya bila guguran daun belimbing yang berserakan di depan rumah tidak saya sapu, atau saat lantai toilet sudah agak licin dan menghitam belum saya sikat. Lebih malulah diri ini saat berjumpa di masjid, saya yang seorang pemuda menemukannya sudah duduk menunggu khatib naik mimbar. Dengan berpakaian rapi dan berpeci, beliau yang langkahnya pelan dan seperti menggusur-gusur sendal ternyata lebih dulu sampai ke masjid, dan lebih siap menyimak khutbah jumat.

Ah, saya menyukai kebaikannya yang sederhana itu. Kebaikan yang biasa dan dilakukannya tiap hari. Mungkin itu amal terbaik yang mampu dilakukannya di tengah segala keterbatasan. Bagaimana dengan saya?

20 Rabiul Tsani 1436

10 comments:

  1. Replies
    1. Temen sy pernah bilang "..mungkin itu sederhana, tapi berarti banget buat aku." Bagi beberapa, yg sederhana ternyata justru sangat berarti.

      Trims udah berkunjung, Mbak. :)

      Delete
  2. dit, kumaha damang? eleuh-eleuh kembaran urang produktif pisan euy..

    Kangen jaman kuliah euy, penuh ide. ayeuna mah mikir duit wae..

    Sing sehat n bagja nyak lur..

    iraha undangan tea? (atawa anggeus? hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. kitu we.
      Insya Allah taun ieu. Doakeun we, sing jadi.. :D

      Delete
    2. Aamiin... Undangan tong poho! tong ka pesbuk nyak.. tara aktip..

      Delete
  3. Adit, tos seeur geuningan tulisanna
    janten pangling tos lami teu pendak

    Bumina masih sami?
    Hoyong ngadugikeun buku nu ditambut
    tos lami, sok kaingetan wae

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syumuhun..
      Ameng atuh ka bumi. Masih keneh di ditu da.
      SMS heula we. Nomer si gue baru, Awas emailkeun nomer kontak atuh. Ke email si gue (akangcunihin@gmail.com).

      Delete
  4. oh ya, kang... sebagai pembaca asa lebih adem liat tampilan yang sebelumnya, yang warana putih..

    ReplyDelete