Tidak Melengkapi

Kalau Kau ingin berteman, tak perlu menjadi seseorang yang terlihat kuat dan mengagumkan. Datanglah kemari, kita nikmati secangkir teh bersama, sambil bertukar cerita tentang kisah hidup masing-masing.

Rasanya dalam setiap hidup orang, selalu saja ada sosok-sosok yang terbilang hebat. Disebut begitu karena sosok itu membuat orang terkagum-kagum. Bila diingat-ingat, selalu saja ada obrolan tentang kekaguman pada sosok tertentu. Saya pun begitu, tidak jarang merasakan kekaguman akan kehebatan seseorang, sampai terbesit dalam hati bahwa ada rasa ingin menjadi hebat. Semisal kagum pada Andrea Pirlo, dan saya ingin bisa bermain bola sepertinya.

Sudah lebih dari seperempat abad saya hidup. Mengenal banyak orang dari berbagai tempat, dari beragam latar hidup, dari bermacam usia. Entah sudah berapa banyak orang yang datang ke kehidupan saya, dan pergi lantaran kami harus berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing. Dari sekian banyak teman yang saya kenal, ada yang saya akui hebat. Bahkan banyak. Seringkali saya bergumam "Edan lah, si eta mah bisa nepi ka kitu. Kumaha carana?" dan mengaku takluk.

Sering mengagumi, pun pernah dikagumi. Tetapi itu dulu, sekarang rasanya tidak begitu. Karena saya agak acuh untuk hal ini. Dulu, suatu hari saat masih SMP, ada teman yang bilang bahwa saya hebat, karena kami yang anggota Pramuka berhasil membawa pulang gelar juara Lomba Penggalang se-Bandung Raya (Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kab. Bandung).

Kagum dan bangga. Begitulah kata mereka. Ya, hanya dua itu. Setelah lulus SMP, sekalipun membawa kebanggaan itu, saya tetap merasakan kehilangan. Ada perasaan hampa saat saya harus berpisah dengan beberapa teman yang selama ini sangat berharga. Jauh di lubuk hati, terasa bahwa kebanggaan dan kekaguman teman tidak seberapa ketimbang kehilangan teman akrab.

Di SMA, saya mendapat teman-teman baru, dan tentu saja kecengan baru. Hehehehe. Ah, setidaknya itu bisa mengobati rasa hampa. Memiliki sahabat (walau diri ini tidak dikagumi) rasanya lebih baik ketimbang sendiri di puncak kejayaan. Saya sengaja tidak menjadi pentolan di sekolah, ingin menjadi sosok yang sederhana saja. Yang dirindukan saat nongkrong, bukan dicari saat ada kepentingan. Perasaan ini semakin menjadi-jadi saat saya kuliah, zaman di mana saya lebih banyak dicari karena ada kepentingan.

Seorang teman pernah bilang: "Pas bagian ada perlu, dicari. Pas bagian nggak ada perlu, serasa nggak dianggap teman." Rupanya, dia mengalami dan merasakan hal yang sama. Menyedihkan? iya. Tetapi akhirnya nasib yang sama inilah mengakrabkan kami. Kami saling mengakui, berterus terang tentang keadaan masing-masing. Kami pun mulai saling membantu agar bisa berhasil bersama. Saya pernah diantar ke kampus, dia pernah numpang print di rumah saya. Saya membantu teman berjualan, dia membantu saya membetulkan komputer. Kami main bola bareng, kadang makan bareng, dll. Intinya, banyak menghabiskan waktu bersama.

Punya beberapa teman yang bisa saling menerima dan membantu untuk jadi lebih baik rasanya jauh lebih enak ketimbang ada banyak orang yang mengagumi. Punya beberapa kawan yang bisa diajak ngopi dan ngumpul bareng rasanya lebih baik ketimbang ada beberapa fans yang menuntut untuk tampil sempurna. Sebagai teman, kami saling melengkapi. Dan ternyata orang-orang yang melengkapi hidup saya bukanlah mereka yang (saya anggap) hebat atau mengagumkan. Mereka hanyalah teman yang ingin bersama dan saling membantu.

Pict from google

Menjadi orang hebat atau mengenal orang hebat tidak membuat hidup saya menjadi lengkap. Menjadi orang hebat hanya membuat orang lain kagum. Bertemankan orang hebat hanya membuat saya merasa bangga. Yang membuat hidup saya lebih lengkap justru adalah teman yang ingin bersama, mau membantu, dan membuang rasa gengsinya.

18 Jumadil Akhir 1436

12 comments:

  1. adit menarik banget ini bahasannya. saya pernah ada pada posisi keduanya. dikagumi dan mengagumi. tapi nyatanya hubungan emosional dengan orang-orang jauh lebih penting. hanya ingin menjadi apa yang disebutkan dalam hadits: khoirunnas, anfauhum linnas :)

    ReplyDelete
  2. "Punya beberapa teman yang bisa saling menerima dan membantu untuk jadi lebih baik rasanya jauh lebih enak ketimbang ada banyak orang yang mengagumi."
    mantap kang kalimat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, hati kecil saya berkata demikian. sekadar pengakauan diri..

      Delete
  3. eugh keur ngarasa ieu pisan dit...

    sono pisan rek ngobrol jeung ente, baguz, anung, dll.

    alhamdulillah boga babaturan jiga ente..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kunaon ateuch??
      da aya wae di bandung urang mah. ngemail we ka akangcunihin@gmail.com, atawa posting di blog we..

      Delete
  4. "Yang membuat hidup saya lebih lengkap justru adalah teman yang ingin bersama, mau membantu, dan membuang rasa gengsinya."

    Saya ngeliat fenomena-- setidaknya di linimasa medsos-- kalau orang "terlalu mencela" dan "terlalu memuja" ya . Dalam sebuah pertemanan, ketika seseorang lebih ditinggikan dari yang lain, berarti mereka tidak memanusiakan satu sama lain. Memanusiakan satu sama lain: sadar kalau masing-masing memiliki kelebihan dan KEKURANGAN dalam porsi yang sudah Allah tetapkan. Even si salah satu dari mereka tampak WOW di mata publik, tapi tetep we, pasti ada kekurangannya. :)

    Hatur nuhun, Kang. :)

    ReplyDelete
  5. Sama-sama, Dik.. Nice to meet you at this page.

    ReplyDelete