Bukan Tentang Bicara

Apa yang membuatmu merasa berarti?

Ah, entahlah. Rasanya bagi saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Hanya saja, saya pernah merasa tidak berarti, hingga lebih memilih untuk pergi. Ya, pergi. Pergi ke tempat di mana saya bisa merasa lebih berarti.

Dulu saat masih kuliah. Di kampus, bila ada acara-acara seperti buka bareng, halal bi halal, atau acara kumpul lainnya, seingat saya tak pernah ada yang mencari. Intinya, serasa tidak ada yang mengharapkan kehadiran saya. Lain cerita di reunian alumni SMA, saya sampai di-SMS dan ditelfon berkali-kali demi kepastian akan kehadiran di acara tersebut. Sekiranya saya tidak hadir, berbagai ungkapan kesedihan mengalir dari benak mereka.

Saya pernah merasa sangat sedih, lantaran di acara reunian tersebut, mereka menunggu begitu lama hanya karena ingin melihat saya. Hanya untuk datang, duduk bersama, berbagi cerita hidup, bertukar kabar, dan makan bersama. Ya, hanya tentang kehadiran, bukan tentang kemampuan dan seberapa tangguh kami dalam menghadapi hidup.

Saat itu saya mulai berpikir bahwa berarti atau tidaknya seseorang adalah tentang kehadiran. Seseorang yang dianggap berarti selalu diharapkan hadir. Kiranya, saya jadi mengerti mengapa kado terindah dalam hidup adalah kehadiran. Tepatnya kehadiran orang yang disayangi. Bukan hadiah mewah, makan banyak, dsb.

Apakah hanya tentang kehadiran semata? Awalnya saya berpikir demikian, tetapi nyatanya tidak. Sepertinya lebih dari itu. Pernah, saya menjalin keakraban dengan seorang kawan. Keakraban itu membuat saya menjadi salah satu kawan yang awal dikabari perihal kepergian orang tuanya. Keesokan harinya, saya pun mengunjungi kediamannya untuk menghibur dia. Mengenaskannya, beberapa kawan yang saya ajak ternyata tidak satu pun ikut. Saya sempat ngobrol dengannya, juga dengan temannya. Melihat kesedihannya sudah luntur, rasanya cukup menenangkan. Ah, saya hanya berharap dia baik-baik saja.

Saat saya pamit pulang, tak sengaja terdengar ada yang bertanya kepadanya tentang saya. "Eh, itu siapa?" dan di depan mereka, teman saya itu menjawabnya: "Oh, bukan siapa-siapa kok." Selama perjalanan pulang, berkali-kali saya berpikir: "Oh, gitu ya?". Saya mulai merasa bahwa saya bukanlah siapa-siapa untuknya. Bahkan hanya untuk dianggap sebatas teman.

Ya, bukan siapa-siapa. Bukan sosok yang berarti untuknya. Meski di lain hari dia pernah mengatakan "Akang tuh berarti buatku". Saya tetap merasa diri ini tidaklah berarti untuknya. Lantaran di sisi lain, dia selalu menyamping saat kami mengobrol. Rasanya lebih seperti menghadapi orang yang tak mau mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Bila ada acara kopdar banyakan, rasanya lebih baik saya tidak mengusik dirinya. Jadi bagusnya saya ngobrol dengan orang lain saja. Bila kami ngobrol, rasanya lebih baik segera habiskan topik-topik obrolan, lalu sudahi.

Apakah saya benar-benar tidak berarti untuknya? Entahlah. Saya pun mencari sisi lain yang dapat mempertegas jawaban, terutama dari kata-kata yang tak terucapkan. Akhirnya, saya mendapatkan jawaban yang mempertegas: posting di blog. Saya baca kembali tulisan-tulisan di blognya. Banyak ungkapan, foto, juga cerita tentang teman-temannya di blog dia. Namun sayangnya tak ada tentang saya. Alhamdulillah, cukup jelas.

Jadi kalau saya tidak berarti baginya, untuk apa berada di kehidupannya? Saya pamit, pergi ke tempat di mana saya bisa menjadi lebih berarti.

Beberapa tahun kemudian, seseorang bilang: "..Katingali da si eta bogoheun ka Akang." Saya sadar, sebelumnya beberapa orang bilang bahwa gadis yang dia maksud itu tengah memendam perasaan. Tetapi saya pun tak bisa memungkiri bahwa si gadis itu seperti sangat berjarak dengan saya. Saya sudah melihat bagaimana dia melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, menyetrikakan baju orang lain, dan bantu memasak. Tetapi yang membuatkan saya kopi dan mengambilkan lap, ember, plus selang bukanlah dia. Saya pun menyetrika baju sendiri. Bahkan saat makan bersama, dia mengambilkan nasi untuk orang lain. Bukan untuk saya.

Makasih :)

Meski begitu, saya tidak marah. Bahkan malah sempat ketawa sendiri, lantaran terbayang bagaimana jadinya bila saat makan bersama itu, temannyalah yang mengambilkan saya nasi dan membuatkan kopi. Sekiranya itu terjadi, saya akan bilang pada temannya "Wah makasih ya! Kamu baik banget. Istri idaman lah!" Hehehehe...

Many words were said. But untold words always more.

4 Sya'ban 1436

*Sengaja tidak mention nama, agar tidak menjadi aib yang menyebar.

No comments:

Post a Comment