Bahasa Kasih

“Dik, jangan lupa nyuci baju!”

Meski Kamu terlihat cuek, yah semoga saja dalam hati Kamu tetap menanggapinya. Kakak memang tak bisa banyak berharap. Kakak hanya bisa terus mengingatkan, dan mengingatkan. Tak banyak yang bisa kakak lakukan. Semenjak kepergian ayah, kakak dibebani tanggung jawab itu. Karena itu adikku, jangan lupa nyuci baju. Jadilah anak yang mandiri, setidaknya untuk membuat ayah kita lebih tenang di akhirat sana.

***
“Haaahhh…, rupanya Kau belum mencuci baju. Kalau tak dicuci, besok Kamu mau pakai baju yang mana? Seragam sekolah-mu cuma yang ini dan yang itu. ”

Kakak tahu Adik baru pulang sekolah, dan sebenarnya kakak juga sama-sama capek, baru pulang kuliah, dan banyak tugas. Dik, ibu juga sama-sama capek, bahkan sebelum Adik bangun untuk shalat Shubuh di masjid, ia menyiapkan sarapan untuk kita, dan lagi sebelumnya ia tak lupa ‘bersujud’ demi mendo’akan kita. Kalau Adik masih menyayanginya, lakukanlah sesuatu untuknya. Setidaknya Adik mau nyuci baju sendiri.

***

“Dik, kapan mau nyuci baju? Besok maghrib Adik ngaji di masjid.”

Entah sampai kapan kakak akan seperti ini. Tak tahu lagi mesti bagaimana. Rasanya kakak mulai malu pada ayah. Kakak masih perlu banyak belajar untuk bisa mengayomi keluarga ini. Moga besok maghrib adik bisa tetap ngaji di masjid.

***

“Dik, bangun! Ini sudah shubuh. Kita shalat di masjid.”

Ini sudah shubuh. Maghrib nanti Adik mesti ngaji di masjid. Baju belum dicuci…

Baiklah, mungkin Adik masih terlalu berat untuk ini. Untuk saat ini biarlah kakak yang mencucinya. Asalkan adik bisa tetap fokus untuk belajar, dan nanti maghrib tak bolos ngaji. Mungkin ini memang sudah takdirku. Biarlah kakak telat masuk kuliah, asalkan maghrib Kamu tetap ngaji, Dik.

Lain waktu, Adik bisa belajar nyuci baju sendiri.

Buat Udin adikku.
Udin, bajunya udah kakak cuciin. Jangan lupa nanti maghrib ngaji!
Buatlah ibu dan (alm.) ayahmu bahagia, Nak! Kakak kan selalu membantumu.
-kakakmu-

No comments:

Post a Comment