The Meeting

Entah takdir apa yang disimpan-Nya pada hari ini. Sebuah hari berkumpulnya beberapa orang untuk saling bertemu setelah sekian lama berpisah. Siang ini memang cerah, meski kemarin-kemarin sore langit mengguyurkan gerimis. Sama sekali tak ada prasangka apa-apa tentang hari ini, sampai akhirnya di sebuah sudut ruangan, seorang teman lama menyapa.

“Adit!” Suara yang rasanya dulu pernah familiar, dan itu membuat saya menoleh sembari agak kaget. Tya (sebutlah namanya begitu), dia menyapa saya dari belakang. Ternyata dia juga datang ke pertemuan ini.

“Dit, lama kita nggak ketemu.”
“Iya. Gimana kabar Kamu?”
“Alhamdulillah. Adit gimana?”
Mendengar pertanyaan itu, saya hanya tersenyum sambil sedikit menunduk.
“Hmmhh.. ternyata Kamu masih kaya dulu ya, Dit.”
“Ya, begitulah saya. Tumben Kamu sendiri. Nggak bareng Dian?”
“Dian. Ada tuh di selasar.”

Tya menunjuk ke arah selasar, tempat di mana Dian duduk santai sambil menyantap kue. “Dit, ngobrolnya pindah ke selasar lah! Biar lebih enak. Di sini asa terlalu banyak orang.” Saya yang sedang nyantai pun mengiyakan permintaan Tya untuk ke selasar. Nampaknya Tya ingin ditemani Dian  selama kami ngobrol. Tak apalah, lagian saya juga kagak dirugiin. Akhirnya di selasar, kami ngobrol bertiga.

###

“Dit, kapan mau nikah?” Tya bertanya.
Saya tak tahu mau jawab apa. Kalau tak salah, sebelumnya dia pernah menanyakan hal ini, dan dulu saya sudah menjawabnya. Jadi, sekarang saya bingung untuk menemukan jawabannya. Saya coba meyakinkan diri bahwa Tya tidak benar-benar menginginkan jawaban, “Apa Kamu bener-bener pengen tau kapan saya bakal nikah?”

Tya masih diam, tak bergeming, dan menatap saya lekat-lekat. Begitu juga Dian, seolah-olah ada yang mereka harapkan dari saya. Kami pun terdiam sesaat. Saya sebenarnya berharap Tya akan berubah pikiran, tapi nampaknya saya mesti mengalah. Baiklah kalau begitu.

“Tya, saya mah percaya kalau Kamu masih lebih baik dibanding saya, dan lebih shalihah. Semoga aja bener demikian. Lagipula, selama ini kamu diidolai banyak orang, jadi banyak yang suka ama Kamu. Makanya saya dulu saya selalu jawab: Kamu aja yang duluan!”

Tya masih tak bergeming. Seperti dia ingin tahu jawabannya lebih lanjut.
“...kalau nggak salah, sebelumnya Kamu pernah nanyain hal ini. Sekarang Kamu nanyain hal yang sama. Saya bingung mau jawab gimana. Karena saya pikir jawaban yang dulu itu udah cukup.” Lanjut saya.

Tya masih terdiam, walau tatapannya terlihat makin hampa.

“Baiklah... kalau Kamu bener-bener pengen jawaban. Saya percaya, Kamu bisa ngenilai saya ini gimana, dan inilah saya yang Kamu lihat, saya yang apa adanya. Belum ada calon. Kalau Kamu bener-bener pengen tahu kapan saya bakal nikah, saya balik nanya, emang Kamu mau jadi calonnya?”

No comments:

Post a Comment