Nuhun Pa Haji

Rasanya rambut ini sudah cukup panjang, dan sudah waktunya untuk dicukur. Mumpung lagi ada uang, dan tak ada agenda yang menyita waktu. Sekarang baru jam 10, mumpung langit masih cerah, belum hujan. Langit Bandung bagian Timur tampak mendung, mungkin beberapa jam kemudian di sini akan hujan. Sama seperti kemarin siang. Nampaknya ini waktu yang tepat untuk cukur rambut.

Menjelang siang ini langit masih cerah, terik panas matahari masih terasa. Jelas terasa dari panasnya kepala saya yang berkeringat dan agak gatal. Jelas saja terasa gatal, saya belum mandi, jadi belum keramas. Tanggung, mau dicukur. Lagipula letak tukang pangkas rambut hanya beberapa ratus meter dari rumah, dan hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki.

Sesampainya di tukang pangkas rambut, rupanya sedang ada yang dicukur. Seorang bapak tua yang sedang dilayani oleh tukang cukur. Saya lihat, dia masih dicukur. Biasanya di tempat cukur ini, kalau pelanggan selesai dicukur, akan dipijat oleh tukang cukur. Tepatnya, ini tempat cukur ‘bonus pijat’. Ya sudah lah, kalau begitu saya duduk saja di bangku depan. Jadi sambil menunggu, saya bisa melihat-lihat pemandangan sekitar.

“Kang, ka lebet atuh!” Tak terasa, ternyata bagian bapak tua tadi telah beres. Dengan tersenyum, Kang Dadan -tukang cukur- menegur saya yang sedang menunggu untuk dicukur. Yah, transmigran dari Garut ini adalah langganan saya. Orangnya ramah, itulah yang membuat saya betah untuk menjadi salah satu pelanggan di tempat pangkas rambut ini.

Setelah bapak tua tadi beranjak dari kursi cukur, saya pun dipersilahkan duduk menempati kursi khusus ini. Sambil menunggu dicukur, saya memperhatikan bapak tua tadi yang merogoh saku guna mengambil uang untuk membayar jasa cukur. Dua lembar uang Rp. 5.000,- diberikannya pada Kang Dadan. Menerima uang tersebut, Kang Dadan pun merogoh sakunya untuk mencari uang kembalian.

“Atos we! Sawios, teu kedah. Masihan we eta mah.”
“Euleuh, nuhun pisan atuh Pa Haji.”

Wah, pemandangan yang belum pernah saya temukan di tempat seperti ini. Seorang pelanggan yang memberikan jatah uang kembaliannya untuk tukang cukur.

“Pa Haji.” Begitulah Kang Dadan memanggilnya. Pa Haji yang mengenakan baju kampret putih, dan kopiah putih ini kini duduk di bangku depan. Katanya mau menunggu orang yang hendak menjemputnya. Yah, mungkin ia sudah terlalu tua untuk berjalan cukup jauh. Maklum, dari keriput wajahnya saja, ia sudah terlihat amat tua. Makanya tadi saya sebut ‘bapak tua’. Saya sebut begitu karena saya pikir dia belum tua-tua amat untuk dipanggil ‘kakek’.

Saya lihat di tembok. Tarif pangkas rambut naik. Asalnya Rp. 6.000,- sekarang jadi Rp. 7.000,-. Tak apa-apa lah, hanya naik seribu rupiah. Berarti Pa Haji memberikan bonus tiga ribu rupiah untuk Kang Dadan.

Bapak tua ini telah memberikan haknya pada seorang tukang cukur, dan tukang cukur mendapatkan rezeki melalui cara yang tak diduga.

Rasanya cukup malu kalau ingat pada Pa Haji yang satu ini. Andai saya memberikan Rp. 10.000,- untuk membayar jasa Kang Dadan, belum tentu saya akan menolak uang kembalian dan memberikannya pada Kang Dadan. Kebaikan yang begitu sederhana. Merelakan uang kembalian senilai Rp. 3.000,-. Dan bila saya pun mau, sama seperti Pa Haji, sebenarnya saya tinggal merelakan uang kembalian.


Hari yang masih cerah
Bandung, 24 Januari 2010

No comments:

Post a Comment