Pahlawan Tak Dikenal

Senja yang amat mendung. Hari ini kota Bandung diguyur hujan deras. Sudah bukan rahasia lagi, kalau di beberapa ruas jalan mengalami banjir gara-gara selokannya disesaki sampah-sampah yang terbawa hanyut, lalu nyangkut dan menumpuk di sudut tertentu. Jalur air selokan yang semestinya lancar pun terganggu tumpukan sampah, dan akhirnya meluber ke jalan.

Di sebuah tempat yang tak jauh dari tempat tinggal saya pun demikian. Tak jarang gara-gara banjir ini, laju kendaraan jadi terhambat. Beberapa diantaranya ada yang mogok.

Lalu, sebuah sosok muncul membawa garpu tani, dan berjalan menuju sebuah selokan yang disinyalir jadi biang banjir. Sosok ini adalah petani yang biasa bekerja di sawah dekat lokasi banjir, wajahnya cukup familiar diantara warga sekitar sini. Yah, walau saya sendiri tidak mengenalnya. Menurut warga sekitar sini, ia akan datang pada saat-saat seperti ini. Hujan deras, selokan tersendat, dan banjir. Begitu, begitu, dan selalu begitu.

Ternyata memang begitulah adanya. Ia biasanya hadir pada saat-saat genting seperti ini. Mungkin selain familiar bagi warga sekitar, sosoknya cukup familiar bagi para pengendara yang biasa melintasi daerah itu. Walau mungkin mereka pun sama-sama tidak mengenalnya, dan sekedar tahu wajahnya. Maklum, sekitar 2 dasawarsa yang lalu, orang yang punya kendaraan tak begitu banyak. Jadi pengendara yang lewat sini ya itu-itu terus.

Ia datang, dan tanpa basa-basi menunaikan ‘tugas’-nya. Satu hal yang membuat saya terkesan padanya, ia melakukannya seperti orang yang tak menghiraukan para pengendara yang melintas, dan tak mengharap apa-apa, yang penting para pengendara bisa melintas dengan lancar. Setelah keadaan terkendali, banjirnya berkurang, selokannya lancar, ia langsung pergi entah kemana. Menghilang begitu saja. Mungkin ia pulang ke rumahnya yang terpencil, sehingga orang-orang pun jarang mengetahuinya. Ya itulah, saya terkesan akan kebaikannya yang sederhana. Dalam hujan deras, dan umur yang sudah tua, ia masih mau hujan-hujanan melakukan hal semacam itu.

###
Sebenarnya dulu waktu masih kecil, saya pernah melihatnya. Namun, cerita dari ibu membuat saya kembali terkenang akan dirinya. Kini, bila ada hujan deras, dan selokan tersendat, tak ada lagi yang mengatasinya. Saya tak tahu ia menghilang ke mana. Kata ibu, ia telah tiada, dan tinggal kenangan. Semoga saja Allah membalasnya.

Dia tidak begitu dikenal, tapi kebaikannya dirasakan oleh banyak orang. Nampaknya ia adalah orang yang terpinggirkan di masyarakat ini, tapi buat saya dia adalah seorang pahlawan, tepatnya pahlawan yang tak dikenal. Kapan ya akan ada lagi orang yang seperti itu?

Siang yang cerah di sebuah pinggir kota
Bandung, 1 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment