Aneh Tapi Begitulah Adanya

Aneh. Mungkin itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan di kampus saya ini. Saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, reinkarnasi dari IKIP Bandung. Sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) di Bandung, favorit ketiga setelah ITB dan Unpad.

Kalau saya bertanya pada sesama teman yang lelaki, “Kalo milih/nyari cewek, liat dari apanya?” kebanyakan dari teman saya akan banyak menjawab “kecantikannya”, ya walaupun itu relatif, karena tergantung pandangan tiap orang. Itu terlihat dari apa yang biasa diobrolkan. Kalau ngobrolin masalah jodoh nggak akan jauh dari masalah fisik. Sampai ada anekdot, “pinter, tajir, atau sholeh mah bisa diusahain, sedangkan tampang udah nggak bisa dimaksimalin lagi”. Seolah-olah takdir menetapkan beruntunglah wanita yang good looking.

Aneh, tapi nyata. Sayangnya ‘mitos’ itu tidak berlaku di kampus saya ini. 6 tahun berkeliaran di UPI, saya menemukan banyak hal. Salah satunya adalah bahwa kecantikan dan popularitas ternyata jadi tak ada artinya bila dihadapkan pada masalah ‘perjodohan’. Bagaimana tidak, kenyataannya wanita yang paling laku justru bukanlah yang sangat cantik atau terfavorit, justru malah yang biasa-biasa saja. Ya biasa-biasa saja, dari tampangnya, kepintarannya, maupun pemahaman agamanya.

Kadang saya suka iseng melihat-lihat foto teman yang telah menikah. Teman saya ini seorang tokoh kampus (mantan petinggi organisasi kampus). Saya lihat pun, ternyata istrinya tampak biasa. Setidaknya dari segi kecantikan dia biasa-biasa saja. Sugan kitu aya geulisna. Saya perhatikan beberapa ‘tokoh’ yang lain pun, ternyata istrinya biasa-biasa saja. Bukan orang-orang yang tergolong favorit. Padahal kultur di sini, ‘tokoh’ mahasiswa bisa dibilang punya karisma yang kuat untuk memilih ‘calon’, termasuk memilih yang paling shalihah, pinter, cantik, dan favorit sekalipun. Tapi kenyataannya, tetap saja, wanita yang paling laku di sini adalah yang biasa-biasa saja.

Hal ini makin diperkuat oleh keadaan di jurusan saya, Psikologi. Dari sekian banyak mahasiswi yang ada, yang paling laku pun justru yang terbilang biasa-biasa. Bila dibandingkan, dari 13 mahasiswi yang telah menikah, hanya 1 yang terbilang favorit (dilihat dari segi kecantikan, pinter, dan agama). Perlu diingat, mayoritas mahasiswa-mahasiswi UPI keadaan ekonominya jauh di bawah mahasiswa-mahasiswi Unpad dan ITB. Jadi, masalah tajir bukanlah pertimbangan.

Akhir-akhir ini saya iseng melihat informasi di Fb. Ternyata kesimpulannya lagi-lagi demikian. Saya lihat Fb cewek-cewek terfavorit, ternyata hampir semuanya masih single. Asli, saya heran! Terang saja saya heran, karena di ITB atau Unpad, teman-teman saya yang terfavorit justru sudah pada ‘laku’. Malah sudah pada punya anak.

No comments:

Post a Comment