Sebuah Sore, Air, Seorang Bapak, dan Anaknya

Sore yang cerah, diwarnai lembayung yang merah melintasi cakrawala di sebuah sudut negeri. Sore yang mengakhiri siang, orang-orang berduyun-duyun pulang kerumah setelah seharian lepas mereka bekerja, sekolah, dan lain-lainnya.

Menjelang maghrib, seorang lelaki menemukan anaknya yang sedang beristirahat di pinggir rumahnya sambil menikmati segelas air. Kebetulan rumahnya dekat dengan sungai, jadi kalau sore begini pemandangannya lumayan indah. Baru saja sang anak pulang setelah ia main bersama teman-temannya di lapangan dekat kantor kelurahan. Sejenak, si bapak memaklumi anaknya yang mungkin masih lelah ini. Sejenak kemudian, dia terheran kenapa masih juga belum mandi untuk bersiap-siap ke masjid.

Bapak: Lho, kok belum mandi? Memangnya nggak akan ke masjid, ngaji?
Anak: Nggak ah, Pak.
Bapak: Kenapa?
Anak: Capek, bosen.
Bapak: Bosen?
Anak: Iya, soalnya gitu-gitu terus. Makanya jadi bosen, jenuh, males.
Bapak: Hmmmhh... Sebenarnya bapak juga sudah jenuh dengan semua ini. Tapi apa boleh buat, ini semua untukmu dan ibumu.
Anak: ...???...
Bapak: Nak, lihat sungai yang kecil ini?
Anak: Iya, kan dari tadi juga lihat. Memangnya kenapa?
Bapak: Bapak punya cerita tentang sebuah mahluk.
Anak: Tentang apa Pak? Malaikat lagi?
Bapak: Bukan. Dia biasanya dianggap lebih rendah dari malaikat.
Anak: Syetan lagi?
Bapak: Bukan. Biasa dianggap lebih rendah dari itu.
Anak: Lalu apa?
Bapak: Kamu lihat sungai itu kan?
Anak: Iya.
Bapak: Ya itulah yang bapak maksud. Mahluk itu bernama Air.
Anak: Ooh.. Memang ada apa dengan air?
Bapak: Kamu sudah dapat pelajaran IPA tentang sifat air kan?
Anak: Iya, sudah.
Bapak: Bagus lah. Berarti Kamu sudah tahu sifat air.
Anak: Iya. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke yang rendah, merembes, dan menyesuaikan bentuk dengan tempatnya.
Bapak: Ya, Kamu benar.
Anak: …???... (bengong)
Bapak: Seperti air sungai ini. Dia selalu berjalan dari hulu ke hilir, dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Anak: …???... (bengong lagi)
Bapak: Lihatlah air, Nak! Dia dipakai untuk berwudhu, tapi itu tak menjadikannya lebih mulia dari serendah-rendahnya manusia. Bahkan oleh seorang penjahat, dia dipakai untuk cebok setelah buang air. Dibandingkan dengan yang lebih mulia, dia tidak lebih terhormat. Dibandingkan dengan orang yang rendah pun dia tidak pernah terlihat lebih mulia.
Anak: ..!!!... (masih bengong)
Bapak: Itulah air. Terus, terus, dan terus begitu. Bahkan saat kau tertidur pulas pun, dia takkan berhenti mengalir. Karena memang begitulah caranya berdzikir dan beribadah. Sepanjang waktu, dan entah sampai kapan dia akan berhenti, bosan, jenuh, atau merasa penat?
Anak: Hmm.. Iya, Pak.
Bapak: Nak, sekarang kalau Kamu merasa lebih berharga dibandingkan air, lekaslah mandi, lalu berangkat ke masjid.

di rumah Mbah Nur
6 Juni 2011

No comments:

Post a Comment