Perjalanan Merangkul Seseorang

Pak Astim, begitulah kami sebagai warga biasa memanggilnya. Dia adalah salah seorang warga di RW kami yang berprofesi sebagai akademisi. Saat ini beliau telah menjadi seorang Profesor di sebuah perguruan tinggi yang ada di Bandung. Tentunya hal ini adalah kabar gembira bagi kami yang tinggal se-RW dengan beliau. Demikian pula dengan istrinya yang juga seorang akademisi di kampus yang sama dengan beliau.

Menjadi seorang profesor adalah sebuah pencapaian tersendiri, dan tentunya ada semacam tanggung jawab keprofesian dan pengabdian di balik gelar tersebut. Kira-kira begitulah yang terpikir oleh beberapa pengurus masjid yang juga (kebanyakan) adalah sarjana, termasuk saya. Saya pun berharap para akademisi (seperti Pak Astim) di RW kami bisa bergabung, turut aktif mengembangkan syiar di RW, dan kalau memungkinkan, untuk tingkat kecamatan. Terlebih lagi Pak Astim yang seorang profesor, pasti akan terasa sangat berbeda bila beliau memberikan masukan-masukan bagi kinerja da’wah Masjid Baitul Hikmah, masjid tempat kami aktif.

“Coba lah kita saling merangkul, terutama warga yang belum aktif menjadi jama’ah kita! Memang beliau bukan aktifis seperti kita-kita yang latar belakangnya guru agama, aktifis kampus, atau aktifis ormas dan pergerakan, namun bagaimanapun juga beliau adalah seorang profesor, seorang yang berilmu. Pastilah sumbangsih saran dari orang macam beliau ini amat kita butuhkan. Lagipula ini adalah da’wah, pantasnya kita merangkul semua kalangan dalam menjalankan pekerjaan (da’wah) ini.” Begitulah pesan Pak Ketua DKM di sela-sela obrolan petang selepas shalat Maghrib.

Begitulah yang dikatakan Pak Ketua DKM, begitu pula yang dilakukan oleh beliau. Selama beberapa tahun terakhir ini, Pak Ketua DKM terus-menerus tanpa bosan berusaha untuk merangkul dan memberikan ‘tempat’ tersendiri bagi Pak Astim di jama’ah masjid ini. Bila saat shalat berjama’ah tiba, beliau merangkul pundak Pak Prof yang canggung, malu-malu, seakan enggan untuk langsung mengambil shaf pertama. Begitulah cara beliau untuk turut mengajak Pak Prof supaya mau menempati shaf pertama, shaf paling istimewa bagi laki-laki dalam shalat. Tak jarang beliau sampai menarik lengannya ‘memaksa’ Pak Prof yang malu-malu untuk percaya diri menempati shaf pertama.

Tidak berhenti sampai di situ. Bila menjelang Ramadhan, Pak Ketua DKM selalu meminta penyusun jadwal penceramah Tarawih untuk memasukkan nama Pak Prof dalam Daftar Jadwal Penceramah. Kenapa demikian? Meski Pak Prof tidak memiliki pengalaman dalam aktivitas syiar keislaman, Pak Ketua DKM percaya bahwa ilmu yang dimiliki Pak Prof terlalu berharga untuk tidak disampaikan kepada ummat. Atas alasan itulah, Pak Ketua DKM bersikeras menginginkan nama Pak Prof tercantum sebagai salah satu penceramah. “Ini juga sebagai rasa penghargaan dan penerimaan kita pada beliau sebagai jama’ah di RW ini.” Begitu kata Pak Ketua DKM.

Saya tak begitu ingat kapan Pak Prof mulai dirangkul untuk turut aktif di masjid kami. Cara yang paling sederhana untuk tahu bahwa seseorang aktif di masjid kami adalah dengan melihatnya saat shalat-shalat berjama’ah. Terutama shubuh, maghrib, dan isya. Tak ketinggalan, juga pada saat ada pertemuan, rapat, atau syura pengurus. Saya hanya tahu bahwa nama Prof. Astim telah sejak lama dicantumkan dalam jadwal penceramah tarawih setiap Ramadhan. Namun rasanya baru tahun ini (2011) melihat beliau jadi sering shalat berjama’ah di masjid. Bahkan di suatu shubuh, beliau tampak segar dan berbahagia menempati sebuah shaf sembari tersenyum lebar menyalami saya yang berdiri di sebelahnya. Apakah ini pertanda bahwa beliau telah merasa menjadi bagian dari keluarga penghidup masjid ini? Andai benar demikian, syukurlah. Selamat datang Pak Prof, selamat datang anggota keluarga baru kami. Mari kita bersama-sama menghidupkan Islam di bumi-Nya ini.

Begitulah bagaimana Pak Prof akhirnya menjadi bagian dari aktifis masjid ini. Sebuah perjalanan yang panjang hanya demi merangkul beliau yang malu-malu, canggung untuk berkenan aktif di masjid. Begitulah upaya yang dicontohkan oleh Pak Ketua DKM. Terus, terus, dan terus merangkul orang lain untuk turut memakmurkan masjid dan berpartisipasi dalam da’wah. Kami mulai belajar bahwa dengan cara seperti inilah jama’ah masjid semakin bertambah. Dalam bahasa Sosiologi, itulah yang dimaksud dengan ‘efek bola salju’. Semakin jauh menggelinding, semakin besar. Banyak orang yang penasaran, bertanya tentang “bagaimana membuat efek bola salju?” padahal ternyata caranya sungguh sederhana, hanya sekedar merangkul, merangkul, dan merangkul.

Teruslah merangkul! Karena bukankah da’wah ini adalah merangkul orang untuk memilih jalan-Nya?

Di bumi-Nya nan indah mempesona
Jatinangor, akhir 2011

0 comments:

Post a Comment