Yang Sederhana Saja Lah

Dia tidak cantik mak...
Dia tidak jelek mak...
Yang sedang-sedang saja...

(Iwan - Yang Sedang-Sedang Saja)

Beberapa bait dari sebuah lirik lagu dangdut tahun 90-an itu memecah perhatian saya pada hangatnya sebuah mangkuk berisi bubur kacang hijau yang dicampur legitnya ketan hitam. Cukup untuk menghangatkan diri, cukup untuk mendamaikan benak, cukup untuk menentramkan suasana selepas tadi siang hiruk pikuk mewarnai aktivitas seharian. Malam ini pun, saya putuskan untuk mencari tempat demi menentramkan hati. Sekelumit permasalahan hidup, belum lagi ditambah pelik intrik pemerintahan yang efeknya -saya sadari- dirasakan oleh orang-orang rendahan seperti saya dan orang-orang di sekitar saya ini. Ya, dibanding menteri, siapalah saya ini? dan lagi, adakah menteri Indonesia di jaman sekarang yang mau nongkrong sendiri (tanpa dikawal patwal dan protokol) di warung pinggir jalan, dan merasakan langsung bagaimana cita rasa orang rendahan menjalani hidupnya?

Bagi orang seperti saya, rasanya bubur kacang hijau ini sudah cukup nikmat. Itu barang yang cukup untuk memuaskan selera saya. Bila bisa menikmatinya dengan secangkir kopi bersama teman ngobrol, itu sudah sangat cukup. Bubur kacang seharga Rp.2.500, dan kopi Rp.1.500, kocek yang sudah cukup bagi saya untuk membuat hari terasa seimbang. Setidaknya ada sesuatu yang dapat menangkal penat akibat rutinitas yang terus mendera membangun kejenuhan diri. 4.000 rupiah bisa jadi cukup untuk mendapatkan kepuasan hidup.

Ditemani sebuah ponsel sederhana yang selalu terselip di saku celana, setidaknya membuat momen terasa dilalui dengan adanya teman ngobrol. Beberapa menit sekali, ponsel saya bergetar mengisyaratkan ada pesan diterima. Ngobrol ini, ngobrol itu, membicarakan apa saja yang terjadi pada kami selama beberapa saat terakhir. Tadi, kemarin, beberapa hari yang lalu, atau kadang flashback masa lalu. Ahaha.. hanya sebuah ponsel sederhana yang belum tergolong smartphone. Sepertinya miris untuk ukuran pencari ilmu setingkat S-2 seperti saya. Namun setelah dipikir-pikir, buat apa juga ya punya ponsel super canggih semacam BB? Toh saya hanya butuh untuk berkomunikasi dengan teman, dan itu cukup via SMS, atau telfon. Toh dengan ponsel yang sedemikian murahannya ini saja saya sudah merasa cukup.

Inilah Indonesia. Sebuah negeri dimana rakyat jelata dapat tertawa tersenyum bahagia dengan keadaan yang seadanya. Indonesia yang tergolong negara miskin, ternyata survey internasional menempatkannya sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Lain dengan Italia yang pernah juara dunia sepakbola, yang anehnya tergolong salah satu negara paling tidak bahagia di dunia. Begitulah kata survey Ipsos Global pada Februari 2012 kemarin.

Di warung bubur kacang pinggiran jalan seperti ini, orang bisa tertawa sepuasnya sambil ngerumpi dengan teman-temannya. Di warung kopi orang-orang bisa bareng senang-senang menonton laga Persib melawan tim-tim sepakbola lainnya. Penting untuk diingat, mereka bukanlah orang yang secara ekonomi terbilang berada, mereka jauh dari mapan. Bahkan mereka tinggal di ‘kantor’ kecil yang tak lain adalah kios dagangnya. Namun ternyata itu bukanlah penghalang bagi mereka untuk menikmati hidup. Bagi mereka, istilah nafkah adalah penghidupan. Artinya, ya segala hal yang bisa diambil manfaatnya untuk hidup. Lebih tepatnya, yang dimaksud nafkah bagi mereka adalah makanan. Sekarang makan apa? Nanti makan apa? Jadi, yang paling mereka cari sebenarnya adalah apa yang bisa dimakan oleh dirinya, istrinya, dan anaknya untuk hidup. Selebihnya, itu mungkin hanyalah penunjang. Pakaian? Tentu saja butuh, namun tidak sering beli juga. Intinya, mereka benar-benar mencari apa yang benar-benar penting bagi penghidupan mereka. Sisanya, sewajarnya saja. Tak berlebihan. Bisa dilihat sendiri (cari saja kios-kios kecil di pinggir jalan), apa yang mereka cari demi menghidupi diri? Itulah makna nafkah bagi mereka.

Uniknya, realita rendahnya taraf hidup ini berdampingan dengan mewahnya gaya hidup metropolitan. Dari sebuah warung kopi di sebuah pinggiran gang, berjalan sedikit hingga ke jalan yang lebih lebar, kita bisa menemukan kafe (tempat ngopi) yang glamour. Warkop yang begitu kecil remang dan serba seadanya, dengan kafe yang luas terang dan banyak fasilitas. Padahal keduanya sama-sama tempat ngopi, sama-sama tempat nongkrong. Namun beda harganya bisa 10 hingga 20 kali lipat. Oh ya, satu lagi. Warkop tak sanggup memberikan gengsi dan prestise yang ditawarkan oleh kafe.

Beralih sejenak. Topik mengenai perbedaan antara warkop dan kafe ini mengingatkan saya pada omongan seorang teman. “Tau fungsinya tablet (gadget, hape android ukuran besar)? Itu kan cuma buat bergaya. Kalo lagi ada orang lain, baru dipake.” Kadang saya terkekeh juga mengingat pendapatnya. Namun kadang terpikir ada benarnya juga. Dari segi fungsional, buat apa tuh barang? Untuk apa beli kalau tak butuh-butuh amat? Toh tanpa tablet pun masih bisa hidup.

Entah apa yang ada dalam benak manusia, hingga berpikir untuk mencari rasa dihargai dengan cara menggelontorkan banyak uang belanja kemewahan. Di warkop, saya bisa beli kopi dengan harga Rp.1.500, bahkan kadang ada yang lebih murah. Dan di Starbucks saya bisa sampai mengelus dada begitu melihat harga secangkir kopi untuk menu yang sama. Di Starbucks, secangkir kopi hitam pahit bisa sampai Rp.18.000. Bila direnungkan, ke mana yang Rp.16.500-nya? Harus diakui, Starbucks memang jauh lebih mewah, dan ada kesan eksekutif high class. Siapapun yang nongkrong di Starbucks, bisa berasa seperti artis top. Berbicara cita rasa, merek Kapal Air masih menjadi primadona bagi penikmat kopi di Indonesia. Selebihnya, Kopi Aceh, Kopi Lampung, Kopi Arab, Arabica dan Robusta masih menjadi pilihan untuk diseduh sendiri di rumah. Dengan menyeduh sendiri, kita bisa mengatur kadar kopi dan campurannya sekeinginan. Di situlah letaknya cita rasa menikmati kopi.

Beli gadget mahal supaya terlihat keren di depan wanita pujaan hati, nongkrong di kafe demi tampak seperti orang-orang eksekutif, punya motor gaban agar tampak gagah, dsb. Seperti halnya titel pemimpin (presiden, bos, direktur, dll.) diperebutkan demi rasa hormat. Orang-orang menghabiskan banyak waktu dan uang demi kepuasan memenuhi kebutuhan akan harga diri mereka. Mereka lebih mencari harga diri di mata orang lain dibandingkan harga diri di depan Tuhannya.

Kembali ke warung bubur kacang hijau. Warung ini dikelola seorang yang tampak sederhana. Penampilannya, tampangnya, ponselnya, radionya, juga warungnya. Tampangnya tidak seperti pria-pria metropolis yang serba terawat. Penampilannya tidak ngejreng terkesan glamour. Ponselnya sekedar hape biasa tipe “murah”. Warungnya berlampu remang bermusik radio model tua yang tunningnya masih diputar-putar.

Ahh... Selalu berkesan untuk berjumpa dengan orang-orang yang bersahaja. Mereka yang bisa mudahnya tersenyum di tengah-tengah keadaan yang seadanya. Seperti pemilik warung bubur kacang ini. Sama sekali tak tampak masam dirundung kesedihan, tak pernah terdengar nada-nada ketus dari mulutnya. Yang ada justru wajah sumringah bersahabat yang menyenangkan dalam meladeni orang demi orang yang datang ke warungnya.

Siapalah bapak pemilik warung ini dibanding anak kuliahan atau karyawan bank? Namun nyatanya dia masih bisa menikmati hidupnya dengan seutas senyuman dari syukur atas setitik nikmat-Nya pada usaha warung bubur kacang yang dia jalankan tiap malam. Bapak ini tak punya penghormatan dari orang lain seperti yang dipunyai oleh mahasiswa PTN favorit atau pegawai bank. Apalagi kalau dibandingkan dengan jabatan kepala dinas.

Tak perlu hidup yang serba mewah untuk bahagia. Menjadi yang sederhana-sederhana saja lah. Hidup seadanya, ditemani istri yang shalihah dan anak yang menentramkan hati, itu sudah cukup. Atau untuk saat ini, karena masih lajang, cukuplah melihat ibu sumringah bahagia.

Malam sunyi di kamar sendiri
Bandung, 05/09/2012

0 comments:

Post a Comment