Dengarkanlah Dahulu

Apa yang bisa saya lakukan untuk teman? Setidaknya yang bisa saya lakukan adalah mendengarkannya. Apabila saya sedang bokek, atau sedang tak punya hal-hal lain untuk diberikan, setidaknya yang bisa dilakukan adalah menemaninya dan mendengarkan. Dan ternyata, seringkali 'mendengarkan' menjadi episode paling penting dalam membangun hubungan dekat. Tentunya selain berterus terang.

Saya tidak begitu ingat kapan persisnya mulai menjadi seorang pendengar curhat. Sekedar ingat bahwa saat SD punya teman yang suka curhat, demikian pula saat SMP dan SMA. Bahkan kalau dipikir-pikir, saat SMA saya sempat heran pada seorang teman yang tiba-tiba curhat. Padahal saya merasa tidak begitu dekat dengannya. Demikian pula saat kuliah, sampai ada yang nyari dan teriak manggil karena mereka pengen curhat.

Entah apa yang mereka lihat dari saya. Mungkin karena saya pendiam yang tak suka banyak bicara. Meureun eta oge! Apapun itu alasannya, saya sendiri tak pernah menanyakan mengapa mereka memilih saya sebagai tempat curhatnya. Sekedar berpikir "Oke, mau cerita apa? saya ladeni lah."

Oh ya, satu lagi. Karena yang mereka cari dari saya adalah sosok yang bisa menyimak (good listener), jadi kiranya yang bisa saya lakukan bagi mereka adalah menyimak dengan baik.

Menjadi seorang tempat curhat sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan, karena seringkali saya bisa membantu orang lain untuk menemukan titik terangnya, tapi malah tidak mampu menolong diri sendiri untuk bisa beranjak dari masalah. Kebanyakan orang tidak pernah menyadari hal ini. Orang-orang bisa mengungkapkan kekagumannya pada good listeners, padahal si good listener menjerit dalam hati: "Heu euh.. Maraneh bisa curhat ka urang. Tapi pas bagian urang rek curhat, ka saha?" Intinya, suka dicurhati itu bukanlah sebuah kebanggan.

Kembali ke obrolan! Selain karena malas ngomong dan tidak suka pada yang banyak omong (omdo), bagi saya menyimak berarti menyerap pengalaman hidup orang lain. Jadi dengan menyimak orang yang curhat, secara tidak langsung saya bisa belajar dari kisah hidupnya dia. Kalau dipikir-pikir, ada untungnya juga. Saya jadi bisa mendapatkan pengalaman dari orang lain tanpa bersusah-perih mengalaminya.

Pengalaman orang lain ternyata bisa juga dijadikan rujukan untuk meladeni pencurhat lain, dan anehnya hal ini seringkali terjadi. Banyak teman yang curhat tentang pacarannya, padahal selama ini saya belum pernah pacaran. Ada pula yang konsultasi masalah keluarga dan pernikahannya, padahal saya sendiri belum pernah menikah. Ini memang tidak lazim, terkesan menyimpang, tapi benar-benar terjadi. Kenapa bisa begitu? Entahlah, yang jelas saya sebenarnya kebingungan. Itu di luar kapasitas saya. Saat keadaan terdesak seperti itu, saya hanya bisa menimpal: "Jadi inget si anu, dulu dia begini.. begini.. begini.."

Pernah suatu saat saya balik tanya kenapa mereka tidak memilih yang lain saja untuk curhat? pilih yang sudah berpengalaman dan lebih mengerti ilmunya. Jawabannya ternyata sekedar, "Saya butuh pendengar..."

Duh, jadi lemas mendengar itu. Baru tersadar begitu melihat diri sendiri, itu pula yang saya rasakan sebagai tempat curhatnya mereka. Yang saya butuhkan adalah good listener, bukan konsultan ahli untuk masalah yang saya hadapi.


Ternyata, seringkali yang dibutuhkan sebenarnya adalah good listener, bukan good advisor, apalagi good lecturer.*

19 Ramadhan 1434

*) Maaf menggunakan istilah bahasa asing. Itu karena saya tak menemukan istilah dalam Bahasa Indonesia yang tepat. 

1 comment:

  1. idem, aku juga seringnya jadi tong sampah nih dit. Mungkin karna serinnya lupa sama cerita orang :D haha, tapi kayanya juga aku mah turunan mama aku. Jadi pendengar yang baik (good listener bahasa Inggrisnya) sahaja lah.

    -si teman SMP-

    ReplyDelete